oleh: Addy Aba Salma
Masih kurang lebih setengah jam lagi waktu memasuki waktu shalat subuh. Terlihat di remangnya lampu jalan seseorang sedang berjalan. Orang itu mengenakan kopiah, baju koko dan bersarung. Orang itu adalah Ustadz Anwar (bukan nama sebenarnya), Ustadz yang biasa mengajarkan anak-anak mengaji Iqra’ di musholla Al Ikhlas.
Ustadz Anwar sedang berjalan menuju musholla, ia memang sering berangkat lebih awal dari waktu shalat subuh tiba. Ia manfaatkan waktu sebelum waktu shalat subuh tiba untuk shalat sunnah terlebih dahulu dan berdzikir. Beliau menunggu datangnya waktu shalat. Ustadz Anwar mengundang malaikat datang mendo’akan.
“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendo’akannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’.” (HR. Muslim)
Kumandang adzan subuh pun mengalun terdengar. Menandakan waktu shalat subuh telah tiba. Tidak ada petugas muadzin di mushalla Al-Ikhlas. Siapa saja boleh mengumandangkan adzan ketika sudah waktunya. Tetapi memang ada yang biasa mengumandangkan adzan, dia adalah Pak Irwan (bukan nama sebenarnya) yang suaranya selalu terdengar mengumandangkan adzan subuh, membangunkan orang-orang yang masih terlelap tidur untuk bangun dan segera mendatangi musholla untuk shalat berjama’ah, Asshalatu khairumminannaum... Asshalatu khairumminannaum...
Di hari-hari sebelumnya, sesekali memang terdengar adzan dari musholla yang tidak lain itu adalah suara Ustadz Anwar. Yang berarti tidak ada orang selainnya yang sudah berada di dalam musholla. Karena waktu shalat telah tiba, maka ia pun mengumandangkan Adzan, Allahuakbar… Allahuakbar… Tidak ada yang panjang alunan kumandang adzannya, karena memang mungkin ia sudah tua, kurang lebih 60 tahun usianya, ia tidak lagi sanggup memanjangkan setiap bait-bait bacaan adzan.
Setelah jama’ah yang datang selesai shalat sunnah qabliyah subuh, iqamat pun dikumandangkan. Jama’ah berbaris di shaf pertama dan sebagian lagi berada di shaf kedua yang tidak terisi penuh barisannya.
Biasanya Ustadz Anwar yang menjadi Imam jama’ah shalat subuh, tetapi bila ada Ustadz yang dianggap sepuh lainnya hadir, maka Ustadz Anwar mempersilahkannya untuk menjadi Imam. Dan Ustadz Anwar mengambil shaf pertama persis dibelakang Imam. Ustadz Anwar mengundang malaikat datang mendo’akan.
“Para malaikat berkumpul pada saat shalat subuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga subuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’.”(HR. Ahmad)
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang–orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)
Begitulah ustadz Anwar, senantiasa ia berusaha mengundang malaikat datang untuk mendo’akannya.
Selain di waktu subuh, di kesempatan waktu-waktu lainnya Ustadz Anwar juga senantiasa berusaha mengundang malaikat datang untuk mendo’akannya. Ustadz Anwar adalah Ustadz yang suka menggantikan mengisi pengajian malam ahad di musholla ba’da maghrib, ketika Ustadz yang di undang berhalangan hadir, Ustadz Anwar mengantikannya mengajarkan kebaikan kepada para jama’ah yang hadir. Ustadz Anwar mengundang malaikat datang mendo’akan.
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (HR. Tirmidzi)
28 Juni 2010
24 Juni 2010
Jangan Biarkan Ia Berdebu
oleh: Addy Aba Salma
Al Quran adalah kitab suci umat Islam, kitab suci umat Nabi Muhammad SAW. Setiap umat islam pasti memiliki Al Quran. Disetiap rumah-rumah umat islam pasti tersimpan Al Quran.
Al Quran ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran besar, Al Quran terjemahan bahkan tafsir Al Quran, pasti setiap umat islam memilikinya. Bukan hanya satu tetapi mungkin dua bahkan lebih dari tiga.
Tetapi coba tengoklah Al Quran di rumah kita, apakah ia terkotori dengan debu? Kapan kita terakhir menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya?
Al Quran itu terkotori oleh debu karena kita tidak lagi menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya. Kita jadikan ia hanya menjadi pajangan lemari buku ruang tamu kita. Kita jadikan ia hanya sebagai mahar dalam setiap akad pernikahan.
Ada apa dengan kita sebenarnya? tidak lagi menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya.
Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau disentuh oleh tangan kita yang terlumuri oleh banyaknya perbuatan maksiat. Bukan tangan kita yang tidak mau menyentuhnya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau disentuh oleh tangan kita.
Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau dilihat oleh mata kita yang terkotori oleh banyaknya pandangan maksiat. Bukan mata kita yang tidak mau melihatnya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau dilihat oleh mata kita.
Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau dibaca oleh lisan kita yang sering keluar kata-kata maksiat. Bukan lisan kita yang tidak mau membacanya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau dibaca oleh lisan kita.
Kalau sudah tidak mau menyentuh, melihat, membaca Al Quran apatah lagi mempelajari dan memahaminya?
Astaghfirullahaladzim… Ya Allah mudahkanlah hamba untuk senantiasa dapat membaca, mempelajari dan mengamalkan Al Quran Kitab Suci-Mu Ya Allah, kitab suci Nabi Muhammad SAW, kekasih-Mu Ya Allah… Ya Allah mudahkanlah hamba dalam membaca, mempelajarinya serta mengamalkannya, karena ia adalah cahaya petunjuk menuju jalan yang lurus…
Bersegeralah ambil air wudhu, bersihkan segala kotornya kemaksiatan dari tangan, muka dan kaki kita. Mulailah untuk membaca dan mempelajari Al Quran. Al Quran sebagai cahaya petunjuk jalan yang lurus.
”... tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. As Syuura:52)
Mulai hari ini, jangan biarkan ia berdebu. Terus baca dan pelajari serta amalkanlah. Semoga dengan kita senantiasa membaca dan mempelajari serta mengamalkan Al Quran, kelak di hari kiamat nanti akan datang Al Quran memberikan syafaatnya kepada kita semua. Amin…
“Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafa’at kepada orang yang membacanya”. (HR. Muslim)
Wallahu a’lam
Al Quran adalah kitab suci umat Islam, kitab suci umat Nabi Muhammad SAW. Setiap umat islam pasti memiliki Al Quran. Disetiap rumah-rumah umat islam pasti tersimpan Al Quran.
Al Quran ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran besar, Al Quran terjemahan bahkan tafsir Al Quran, pasti setiap umat islam memilikinya. Bukan hanya satu tetapi mungkin dua bahkan lebih dari tiga.
Tetapi coba tengoklah Al Quran di rumah kita, apakah ia terkotori dengan debu? Kapan kita terakhir menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya?
Al Quran itu terkotori oleh debu karena kita tidak lagi menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya. Kita jadikan ia hanya menjadi pajangan lemari buku ruang tamu kita. Kita jadikan ia hanya sebagai mahar dalam setiap akad pernikahan.
Ada apa dengan kita sebenarnya? tidak lagi menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya.
Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau disentuh oleh tangan kita yang terlumuri oleh banyaknya perbuatan maksiat. Bukan tangan kita yang tidak mau menyentuhnya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau disentuh oleh tangan kita.
Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau dilihat oleh mata kita yang terkotori oleh banyaknya pandangan maksiat. Bukan mata kita yang tidak mau melihatnya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau dilihat oleh mata kita.
Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau dibaca oleh lisan kita yang sering keluar kata-kata maksiat. Bukan lisan kita yang tidak mau membacanya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau dibaca oleh lisan kita.
Kalau sudah tidak mau menyentuh, melihat, membaca Al Quran apatah lagi mempelajari dan memahaminya?
Astaghfirullahaladzim… Ya Allah mudahkanlah hamba untuk senantiasa dapat membaca, mempelajari dan mengamalkan Al Quran Kitab Suci-Mu Ya Allah, kitab suci Nabi Muhammad SAW, kekasih-Mu Ya Allah… Ya Allah mudahkanlah hamba dalam membaca, mempelajarinya serta mengamalkannya, karena ia adalah cahaya petunjuk menuju jalan yang lurus…
Bersegeralah ambil air wudhu, bersihkan segala kotornya kemaksiatan dari tangan, muka dan kaki kita. Mulailah untuk membaca dan mempelajari Al Quran. Al Quran sebagai cahaya petunjuk jalan yang lurus.
”... tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. As Syuura:52)
Mulai hari ini, jangan biarkan ia berdebu. Terus baca dan pelajari serta amalkanlah. Semoga dengan kita senantiasa membaca dan mempelajari serta mengamalkan Al Quran, kelak di hari kiamat nanti akan datang Al Quran memberikan syafaatnya kepada kita semua. Amin…
“Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafa’at kepada orang yang membacanya”. (HR. Muslim)
Wallahu a’lam
19 Mei 2010
Hati-Hati Dengan Kebiasaan Baik Kita Yang Hilang
oleh: Addy Aba Salma
Kita manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki 2 sifat. Sifat taqwa dan sifat fujur. Kedua sifat ini bisa menjadi potensi dalam diri kita.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaannya”. (Qs. Asy-Syam: 8)
Disebutkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir Rasulullah SAW ketika membaca ayat di atas, beliau diam sebentar dan membaca do’a: “Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya. Engkau Wali dan Pemeliharanya. Dan Sebaik-baik yang menyucikannya”.
Do’a itu baik juga kita panjatkan kepada Allah SWT, agar potensi taqwa senantiasa terdapat dalam diri kita. Ketika potensi sifat taqwa itu ada dalam diri kita, bersyukurlah kepada-Nya akan hal itu, dan cobalah semai potensi sifat taqwa itu, teruslah sirami dengan kebiasan-kebiasan baik amal shalih. Pelihara agar ia tetap terpatri di dalam diri kita. Yang semua itu dapat mensucikan jiwa. Dan kita akan termasuk orang-orang yang beruntung.
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. (Qs. Asy-Syam: 9)
Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan menjadi seorang yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, karena memiliki karakter furqan. Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan selamat melawati jalan yang penuh dengan duri, karena ia memiliki cahaya untuk menerangi jalan. Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan termuliakan di dunia dan kelak di akhirat.
Kebiasan-kebiasan baik amal shalih kita, shalat berjama’ah tepat waktu, shalat sunah, tilawah qur’an, puasa sunah, shadaqah, menuntut ilmu, silaturahim, menjenguk orang sakit, sampai mengambil duri dan menyingkirkannya dari jalan adalah kebiasan-kebiasan baik amal shalih yang dapat memelihara sifat taqwa dalam diri kita.
Sebaliknya ketika kebiasan-kebiasaan baik amal shalih itu mulai hilang, maka perlahan-lahan sifat fujur akan ada dan berpotensi dalam diri kita. Sifat fujur yang ada dalam diri kita akan menyebabkan kita terjerembab dalam kubangan kelalaian dan kesalahan. Jauh dari perintah Allah SWT. Yang semua itu dapat mengotori jiwa. Dan kita akan termasuk orang-orang yang merugi. Oleh karenanya segeralah tinggalkan dan beristighfar kepada Allah SWT.
“dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Qs. Asy-Syam: 10)
Awal dari potensi sifat fujur itu ada ketika kita mulai meninggalkan kebiasan-kebiasaan baik amal shalih kita, yang tadinya shalat berjamaah di masjid sekarang shalat sendiri di rumah, yang tadinya tilawah qur’an sekarang ditinggalkannya, shalat sunah terlupakan, menuntut ilmu diabaikan.
Tidak menutup kemungkinan dari menurunnya kualitas ibadah yang berarti juga menurunnya kualitas iman kita, perlahan-lahan kita mulai salah jalan dalam melangkah. Potensi sifat fujur itu akan semakin besar dan akhirnya kita akan jauh dari perintah Allah SWT.
Ketahuilah bahwa syaitan itu “sabar” dalam tujuannya untuk menyesatkan umat manusia dari jalan kebenaran yang lurus. Sampai datangnya hari kiamat syaitan akan senantiasa menggoda dan menyesatkan anak cucu Adam. Perlahan-lahan dan halus dalam menggoda sampai manusia terjerat. Menjerumuskan manusia ke dalam kubangan dosa, sekalipun dosa itu adalah dosa kecil. Tidak memandang manusia, semua menjadi incaran syaitan untuk digodanya. Menggoda dari arah muka, dari arah belakang, dari arah kanan dan arah kiri kita. Menggoda manusia untuk diajak menikmati dunia tanpa batas. Mengajak untuk tidak bersyukur (taat) kepada Allah SWT. Dan mengajak manusia melupakan akhirat.
Diabadikan dalam Al Qur’an akan janji syaitan / iblis untuk meyesatkan semua manusia di muka bumi, firman-Nya: ”Iblis menjawab: ”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. Al-A’raff:16-17)
Oleh karenanya hati-hati dengan kebiasaan baik kita yang hilang. Jika kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih itu hilang, maka bisa jadi akan berpotensi menjadi kebiasaan jelek ada pada diri kita, yang kebiasaan itu mewakili sifat fujur. Dan itu adalah sebuah kesuksesan syetan dalam menggoda manusia, menjauhkan manusia dari jalan-Nya yang lurus.
Berusahalah untuk memelihara sifat taqwa dan meninggalkan sifat fujur yang ada dalam diri kita. Kita tinggalkan dengan mengisi hari-hari kita dengan senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, dan senantiasalah kita berdzikir kepada-Nya.
Didalam buku Tarbiyah Ruhiyah, Abdullah Nashih Ulwan menerangkan ada 5 jalan untuk memelihara ketaqwaan itu, pertama Mu’ahadah (Mengingat perjanjian), kedua Muroqobah (Merasakan Kesertaan Allah), ketiga Muhasabah (Instrospeksi diri), keempat Mu’aqobah (Pemberian sanksi), kelima Mujahadah (Bersungguh-sungguh). Mungkin kita bisa membaca buku itu untuk lebih jelasnya.
Dan potensi sifat taqwa itu akan selalu ada, selama kita masih bisa menghirup nikmat udara yang disediakan-Nya. Karenanya pintu taubat belumlah tertutup dan ketahuilah bahwa Allah SWT adalah Maha Pengampun kepada hamba-hamba-Nya yang memohon akan ampunan-Nya. Oleh karena itu bersegeralah meraih taqwa itu dengan senantiasa menjalankan segala apa yang diperintah tentunya dengan mencoba mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dengan beribadah dan beramal shalih kepada-Nya, dan berusaha menjauhi segenap larangan-Nya.
Kita bisa menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih itu dengan tidak memaksakan dalam mengerjakannya. Sedikit-sedikit tetapi kita konsisten dan secara istimrariyah (terus-menerus) dalam mengerjakannya itu lebih baik, dan Allah SWT sangat menyukai itu. Dari pada kita paksakan harus menjalankan semua amal shalih yang harus dikerjakan tetapi tidak secara istimrariyah (terus-menerus).
“Amalan apa yang paling disukai Allah Ta’ala?” Jawab Rasulullah “Amalan yang dikerjakan secara istimrariyah (terus menerus) walaupun sedikit”. (HR. Bukhari)
Bukankah kita mengharapkan ketika izrail datang untuk menjemput , didapatinya kita sedang berada dalam kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih kita, yaitu perbuatan taqwa, yang insya Allah dengan itu berarti kita Husnul Khatimah. Tetapi apa jadinya ketika izrail datang menjemput, didapatinya kita sedang berada dalam kebiasaan-kebiasaan melanggar larangan-Nya, yaitu perbuatan fujur. Semoga tidak terjadi pada diri kita dan keluarga kita semua. Amin…
Wallahu a’lam
Kita manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki 2 sifat. Sifat taqwa dan sifat fujur. Kedua sifat ini bisa menjadi potensi dalam diri kita.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaannya”. (Qs. Asy-Syam: 8)
Disebutkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir Rasulullah SAW ketika membaca ayat di atas, beliau diam sebentar dan membaca do’a: “Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya. Engkau Wali dan Pemeliharanya. Dan Sebaik-baik yang menyucikannya”.
Do’a itu baik juga kita panjatkan kepada Allah SWT, agar potensi taqwa senantiasa terdapat dalam diri kita. Ketika potensi sifat taqwa itu ada dalam diri kita, bersyukurlah kepada-Nya akan hal itu, dan cobalah semai potensi sifat taqwa itu, teruslah sirami dengan kebiasan-kebiasan baik amal shalih. Pelihara agar ia tetap terpatri di dalam diri kita. Yang semua itu dapat mensucikan jiwa. Dan kita akan termasuk orang-orang yang beruntung.
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. (Qs. Asy-Syam: 9)
Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan menjadi seorang yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, karena memiliki karakter furqan. Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan selamat melawati jalan yang penuh dengan duri, karena ia memiliki cahaya untuk menerangi jalan. Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan termuliakan di dunia dan kelak di akhirat.
Kebiasan-kebiasan baik amal shalih kita, shalat berjama’ah tepat waktu, shalat sunah, tilawah qur’an, puasa sunah, shadaqah, menuntut ilmu, silaturahim, menjenguk orang sakit, sampai mengambil duri dan menyingkirkannya dari jalan adalah kebiasan-kebiasan baik amal shalih yang dapat memelihara sifat taqwa dalam diri kita.
Sebaliknya ketika kebiasan-kebiasaan baik amal shalih itu mulai hilang, maka perlahan-lahan sifat fujur akan ada dan berpotensi dalam diri kita. Sifat fujur yang ada dalam diri kita akan menyebabkan kita terjerembab dalam kubangan kelalaian dan kesalahan. Jauh dari perintah Allah SWT. Yang semua itu dapat mengotori jiwa. Dan kita akan termasuk orang-orang yang merugi. Oleh karenanya segeralah tinggalkan dan beristighfar kepada Allah SWT.
“dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Qs. Asy-Syam: 10)
Awal dari potensi sifat fujur itu ada ketika kita mulai meninggalkan kebiasan-kebiasaan baik amal shalih kita, yang tadinya shalat berjamaah di masjid sekarang shalat sendiri di rumah, yang tadinya tilawah qur’an sekarang ditinggalkannya, shalat sunah terlupakan, menuntut ilmu diabaikan.
Tidak menutup kemungkinan dari menurunnya kualitas ibadah yang berarti juga menurunnya kualitas iman kita, perlahan-lahan kita mulai salah jalan dalam melangkah. Potensi sifat fujur itu akan semakin besar dan akhirnya kita akan jauh dari perintah Allah SWT.
Ketahuilah bahwa syaitan itu “sabar” dalam tujuannya untuk menyesatkan umat manusia dari jalan kebenaran yang lurus. Sampai datangnya hari kiamat syaitan akan senantiasa menggoda dan menyesatkan anak cucu Adam. Perlahan-lahan dan halus dalam menggoda sampai manusia terjerat. Menjerumuskan manusia ke dalam kubangan dosa, sekalipun dosa itu adalah dosa kecil. Tidak memandang manusia, semua menjadi incaran syaitan untuk digodanya. Menggoda dari arah muka, dari arah belakang, dari arah kanan dan arah kiri kita. Menggoda manusia untuk diajak menikmati dunia tanpa batas. Mengajak untuk tidak bersyukur (taat) kepada Allah SWT. Dan mengajak manusia melupakan akhirat.
Diabadikan dalam Al Qur’an akan janji syaitan / iblis untuk meyesatkan semua manusia di muka bumi, firman-Nya: ”Iblis menjawab: ”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. Al-A’raff:16-17)
Oleh karenanya hati-hati dengan kebiasaan baik kita yang hilang. Jika kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih itu hilang, maka bisa jadi akan berpotensi menjadi kebiasaan jelek ada pada diri kita, yang kebiasaan itu mewakili sifat fujur. Dan itu adalah sebuah kesuksesan syetan dalam menggoda manusia, menjauhkan manusia dari jalan-Nya yang lurus.
Berusahalah untuk memelihara sifat taqwa dan meninggalkan sifat fujur yang ada dalam diri kita. Kita tinggalkan dengan mengisi hari-hari kita dengan senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, dan senantiasalah kita berdzikir kepada-Nya.
Didalam buku Tarbiyah Ruhiyah, Abdullah Nashih Ulwan menerangkan ada 5 jalan untuk memelihara ketaqwaan itu, pertama Mu’ahadah (Mengingat perjanjian), kedua Muroqobah (Merasakan Kesertaan Allah), ketiga Muhasabah (Instrospeksi diri), keempat Mu’aqobah (Pemberian sanksi), kelima Mujahadah (Bersungguh-sungguh). Mungkin kita bisa membaca buku itu untuk lebih jelasnya.
Dan potensi sifat taqwa itu akan selalu ada, selama kita masih bisa menghirup nikmat udara yang disediakan-Nya. Karenanya pintu taubat belumlah tertutup dan ketahuilah bahwa Allah SWT adalah Maha Pengampun kepada hamba-hamba-Nya yang memohon akan ampunan-Nya. Oleh karena itu bersegeralah meraih taqwa itu dengan senantiasa menjalankan segala apa yang diperintah tentunya dengan mencoba mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dengan beribadah dan beramal shalih kepada-Nya, dan berusaha menjauhi segenap larangan-Nya.
Kita bisa menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih itu dengan tidak memaksakan dalam mengerjakannya. Sedikit-sedikit tetapi kita konsisten dan secara istimrariyah (terus-menerus) dalam mengerjakannya itu lebih baik, dan Allah SWT sangat menyukai itu. Dari pada kita paksakan harus menjalankan semua amal shalih yang harus dikerjakan tetapi tidak secara istimrariyah (terus-menerus).
“Amalan apa yang paling disukai Allah Ta’ala?” Jawab Rasulullah “Amalan yang dikerjakan secara istimrariyah (terus menerus) walaupun sedikit”. (HR. Bukhari)
Bukankah kita mengharapkan ketika izrail datang untuk menjemput , didapatinya kita sedang berada dalam kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih kita, yaitu perbuatan taqwa, yang insya Allah dengan itu berarti kita Husnul Khatimah. Tetapi apa jadinya ketika izrail datang menjemput, didapatinya kita sedang berada dalam kebiasaan-kebiasaan melanggar larangan-Nya, yaitu perbuatan fujur. Semoga tidak terjadi pada diri kita dan keluarga kita semua. Amin…
Wallahu a’lam
Langganan:
Postingan (Atom)

