aku, diantara yang berjalan di atas punggung bumi, untuk terus BELAJAR

-Addy Aba Salma-

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

10 Agustus 2010

Anugerah Nikmat Terindah

oleh: Addy Aba Salma

Allahu Akbar… Allahu Akbar… kumandang adzan maghrib satu Ramadhan mengalun terdengar. Mengawali hari dalam bulan yang bertabur keberkahan didalamnya. Awal waktu shalat Maghrib itu adalah awal dari perhitungan hari dalam kalender hijriah. Dari awal waktu ini Allah SWT membuka gerbang pintu keberkahan-Nya, gerbang pintu bulan Ramadhan yang senantiasa di tunggu kedatangannya bagi mereka yang merindu. Terhampar luas berjuta keutamaan di dalamnya.

Merindu dari bulan-bulan sebelumnya. Rasulullah SAW pun merinduinya. Sedari bulan Rajab beliau senantiasa berdo’a, “Allahumma bariklana fi rajab wa sya’ban wa balighna ramadhan…” Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.

Tak ada satu kalimat pun yang selayaknya kita ucapkan dari lisan kita, kecuali kalimat puja dan puji atas rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan anugerah nikmat terindah-Nya kepada kita semua, untuk dapat merasakan kembali Bulan Ramadhan tahun ini. Anugerah nikmat terindah yang harus kita benar-benar syukuri, karena begitu luas terbuka peluang bagi kita untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita.

Bertemankariblah dengan Ramadhan. Berteman karib dengan amaliah-amaliah Ramadhan yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, dengan shalat berjamaah di masjid, tilawah al Qur’an, qiyamullail dan amaliah-amaliah lainnya. Supaya tidak tersiakan hari-hari yang penuh dengan keberkahan itu kita lalui. Dan tentunya apa yang kita lakukan itu adalah bentuk dari rasa syukur kita atas nikmat disampaikannya umur kita bertemu dengan bulan Ramadhan kembali.

Tetapi banyak kita saksikan di bulan Ramadhan di tahun-tahun yang lalu dan mungkin juga di Bulan Ramadhan sekarang ini, mereka yang tidak berusaha memanfaatkan waktu yang ada untuk mencoba dekat kepada Allah SWT dengan beribadah kepada-Nya. Mereka merasa cukup dengan puasa saja, tanpa menambahkannya dengan macam-macam amaliah Ramadhan lainnya.

Banyak kita saksikan juga, mereka sebenarnya berpuasa tetapi tidak dapat menjaga pandangannya, tidak bisa menjaga lisannya, dan tidak bisa menjaga dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa. Mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Semoga kita bukanlah termasuk didalamnya.

"Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja…". (HR. Ahmad)

Banyak kita saksikan juga, mereka yang terang-terangan tidak melakukan ibadah puasa. Mereka bukan non muslim, mereka muslim. Tetapi mereka tidak terpanggil dengan seruan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183, seruan menjalankan ibadah puasa. Hati mereka tertutup dari cahaya kebenaran. Semoga Allah SWT membukakan pintu hidayah-Nya kepada mereka.

Alhamdulillah walhamdulillah tsumma alhamdulillah, Ramadhan yang di rindu itu telah menjelang. Anugerah nikmat terindah itu telah kita rasakan, disampaikannya umur kita ke dalam bulan Ramadhan. Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memanfaatkan nikmat waktunya untuk senantiasa mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah SWT, dan semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang bertaqwa. Amin…

Wallahu a’lam

17 Juli 2010

Karenanya Akan Ada Yang Sayang Kepada Kita

Oleh: Addy Aba Salma

Siapa yang tidak jenuh dan bosan ketika menunggu, apalagi ketika yang di tunggu tidak kunjung datang, be-te kata anak zaman sekarang, “Ya iya lah masa ya iya dong, udah di tungguin janjian jam 8 dateng jam 9, dasar jam karet, bener-bener be-te neh jadinya…”, ya gitu deh, adanya dumelan dari mulut seseorang yang jenuh dan bosan menunggu. Tetapi itu sepertinya sudah biasa terjadi, dan kita pun juga pernah tentunya merasakan, menunggu. Be-te!

Ada lagi menunggu yang lain. Yaitu menunggu kereta yang akan lewat di perlintasan pintu rel kereta api. Pastinya jangan macam-macam untuk berani melewatinya. Baiknya kita memang menunggu, menungu sampai kereta api itu lewat dan pintu perlintasan rel kereta api di buka. Baru kita bisa melanjutkan perjalanan kembali dengan selamat. Kesal juga jadinya kalau yang lewat nggak taunya cuma kepala lokomotifnya aja, ada juga yang ngedumel “udeh lama nunggu, eh cuma kepala lokomotifnya aje yang lewat…”. Kepala lokomotif kereta api itupun berlalu dengan pelannya, Tuut… tuuut… nguuung jejes jejes…

Masih banyak lagi menunggu-menunggu yang lainnya. Dan dari sekian banyak menunggu, ingin tahu tidak? ada sebenarnya menunggu yang tidak membuat kita bosan, jenuh, be-te dan kesal, karena yang di tunggu pastilah datang, tepat waktu lagi. Dan karenanya akan ada yang sayang kepada kita. Beneran, suer…

Tetapi kebanyakan orang jarang melakukannya untuk menunggu yang satu ini, karena kesibukan aktivitas atau karena hal lainnya. Menunggu yang ini memang bukan menunggu dalam urusan dunia, tetapi menunggu dalam urusan akhirat, menunggu datangnya waktu shalat. Kebanyakan dari kita tidak menunggu datangnya waktu shalat, kita tidak mengalokasikan waktu yang ada untuk menunggu datangnya waktu shalat. Kita datang ke masjid/mushalla ketika adzan telah berlalu, dan kaki mulai melangkah menuju masjid ketika iqamat dikumandangkan. Dan sering juga kita datang ke masjid/mushalla ketika imam dan makmum telah selesai shalat berjama’ah. Tidak pernah kita berdiri untuk shalat berada di shaf pertamanya.

Jangan menunggu setengah atau satu jam sebelumnya, karena kita ada aktivitas lainnya, mungkin bekerja atau belajar. Kita bisa menunggu sambil melakukan aktivitas kerja atau belajar, dan ketika adzan terdengar bersegera kita untuk berangkat ke masjid/mushalla.

Tetapi ketika kita memang memiliki waktu luang, di hari libur misalnya, sesekali kita coba untuk menunggu waktu shalat itu setengah atau satu jam sebelum waktu shalat itu datang. Kita sudah berada di dalam masjid/mushalla, niatkan untuk i’tikaf sambil berdzikir atau tilawah al qur’an misalnya.

Tahu tidak? dari apa yang kita lakukan itu, dalam menunggu datangnya waktu shalat, ada malaikat yang senantiasa mendo’akan kita.

“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendo’akannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’.” (HR. Muslim)

Dari keterangan hadist diatas bahwa orang yang menunggu datangnya waktu shalat dalam keadaan suci akan dido’akan oleh malaikat “Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah sayangilah ia”.

Kalau malaikat yang sudah berdo’a, maka tidak ada lagi sekat penghalang untuk terkabulnya do’a itu. Dan yang akan sayang kepada kita adalah Allah SWT, Rab semesta alam, yang telah menciptakan kita. Beneran, suer…

Wallahu a’lam

24 Juni 2010

Jangan Biarkan Ia Berdebu

oleh: Addy Aba Salma

Al Quran adalah kitab suci umat Islam, kitab suci umat Nabi Muhammad SAW. Setiap umat islam pasti memiliki Al Quran. Disetiap rumah-rumah umat islam pasti tersimpan Al Quran.


Al Quran ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran besar, Al Quran terjemahan bahkan tafsir Al Quran, pasti setiap umat islam memilikinya. Bukan hanya satu tetapi mungkin dua bahkan lebih dari tiga.

Tetapi coba tengoklah Al Quran di rumah kita, apakah ia terkotori dengan debu? Kapan kita terakhir menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya?

Al Quran itu terkotori oleh debu karena kita tidak lagi menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya. Kita jadikan ia hanya menjadi pajangan lemari buku ruang tamu kita. Kita jadikan ia hanya sebagai mahar dalam setiap akad pernikahan.

Ada apa dengan kita sebenarnya? tidak lagi menyentuhnya, melihatnya, membacanya, mempelajarinya, memahaminya.

Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau disentuh oleh tangan kita yang terlumuri oleh banyaknya perbuatan maksiat. Bukan tangan kita yang tidak mau menyentuhnya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau disentuh oleh tangan kita.

Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau dilihat oleh mata kita yang terkotori oleh banyaknya pandangan maksiat. Bukan mata kita yang tidak mau melihatnya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau dilihat oleh mata kita.

Mungkin Al Quran yang suci itu tidak mau dibaca oleh lisan kita yang sering keluar kata-kata maksiat. Bukan lisan kita yang tidak mau membacanya tetapi mungkin Al Quran yang suci itu yang tidak mau dibaca oleh lisan kita.

Kalau sudah tidak mau menyentuh, melihat, membaca Al Quran apatah lagi mempelajari dan memahaminya?

Astaghfirullahaladzim… Ya Allah mudahkanlah hamba untuk senantiasa dapat membaca, mempelajari dan mengamalkan Al Quran Kitab Suci-Mu Ya Allah, kitab suci Nabi Muhammad SAW, kekasih-Mu Ya Allah… Ya Allah mudahkanlah hamba dalam membaca, mempelajarinya serta mengamalkannya, karena ia adalah cahaya petunjuk menuju jalan yang lurus…

Bersegeralah ambil air wudhu, bersihkan segala kotornya kemaksiatan dari tangan, muka dan kaki kita. Mulailah untuk membaca dan mempelajari Al Quran. Al Quran sebagai cahaya petunjuk jalan yang lurus.

”... tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. As Syuura:52)

Mulai hari ini, jangan biarkan ia berdebu. Terus baca dan pelajari serta amalkanlah. Semoga dengan kita senantiasa membaca dan mempelajari serta mengamalkan Al Quran, kelak di hari kiamat nanti akan datang Al Quran memberikan syafaatnya kepada kita semua. Amin…

“Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafa’at kepada orang yang membacanya”. (HR. Muslim)

Wallahu a’lam

19 Mei 2010

Hati-Hati Dengan Kebiasaan Baik Kita Yang Hilang

oleh: Addy Aba Salma

Kita manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki 2 sifat. Sifat taqwa dan sifat fujur. Kedua sifat ini bisa menjadi potensi dalam diri kita.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaannya”. (Qs. Asy-Syam: 8)

Disebutkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir Rasulullah SAW ketika membaca ayat di atas, beliau diam sebentar dan membaca do’a: “Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya. Engkau Wali dan Pemeliharanya. Dan Sebaik-baik yang menyucikannya”.

Do’a itu baik juga kita panjatkan kepada Allah SWT, agar potensi taqwa senantiasa terdapat dalam diri kita. Ketika potensi sifat taqwa itu ada dalam diri kita, bersyukurlah kepada-Nya akan hal itu, dan cobalah semai potensi sifat taqwa itu, teruslah sirami dengan kebiasan-kebiasan baik amal shalih. Pelihara agar ia tetap terpatri di dalam diri kita. Yang semua itu dapat mensucikan jiwa. Dan kita akan termasuk orang-orang yang beruntung.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. (Qs. Asy-Syam: 9)

Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan menjadi seorang yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, karena memiliki karakter furqan. Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan selamat melawati jalan yang penuh dengan duri, karena ia memiliki cahaya untuk menerangi jalan. Taqwa adalah sifat yang sang pemiliknya akan termuliakan di dunia dan kelak di akhirat.

Kebiasan-kebiasan baik amal shalih kita, shalat berjama’ah tepat waktu, shalat sunah, tilawah qur’an, puasa sunah, shadaqah, menuntut ilmu, silaturahim, menjenguk orang sakit, sampai mengambil duri dan menyingkirkannya dari jalan adalah kebiasan-kebiasan baik amal shalih yang dapat memelihara sifat taqwa dalam diri kita.

Sebaliknya ketika kebiasan-kebiasaan baik amal shalih itu mulai hilang, maka perlahan-lahan sifat fujur akan ada dan berpotensi dalam diri kita. Sifat fujur yang ada dalam diri kita akan menyebabkan kita terjerembab dalam kubangan kelalaian dan kesalahan. Jauh dari perintah Allah SWT. Yang semua itu dapat mengotori jiwa. Dan kita akan termasuk orang-orang yang merugi. Oleh karenanya segeralah tinggalkan dan beristighfar kepada Allah SWT.

“dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Qs. Asy-Syam: 10)

Awal dari potensi sifat fujur itu ada ketika kita mulai meninggalkan kebiasan-kebiasaan baik amal shalih kita, yang tadinya shalat berjamaah di masjid sekarang shalat sendiri di rumah, yang tadinya tilawah qur’an sekarang ditinggalkannya, shalat sunah terlupakan, menuntut ilmu diabaikan.

Tidak menutup kemungkinan dari menurunnya kualitas ibadah yang berarti juga menurunnya kualitas iman kita, perlahan-lahan kita mulai salah jalan dalam melangkah. Potensi sifat fujur itu akan semakin besar dan akhirnya kita akan jauh dari perintah Allah SWT.

Ketahuilah bahwa syaitan itu “sabar” dalam tujuannya untuk menyesatkan umat manusia dari jalan kebenaran yang lurus. Sampai datangnya hari kiamat syaitan akan senantiasa menggoda dan menyesatkan anak cucu Adam. Perlahan-lahan dan halus dalam menggoda sampai manusia terjerat. Menjerumuskan manusia ke dalam kubangan dosa, sekalipun dosa itu adalah dosa kecil. Tidak memandang manusia, semua menjadi incaran syaitan untuk digodanya. Menggoda dari arah muka, dari arah belakang, dari arah kanan dan arah kiri kita. Menggoda manusia untuk diajak menikmati dunia tanpa batas. Mengajak untuk tidak bersyukur (taat) kepada Allah SWT. Dan mengajak manusia melupakan akhirat.

Diabadikan dalam Al Qur’an akan janji syaitan / iblis untuk meyesatkan semua manusia di muka bumi, firman-Nya: ”Iblis menjawab: ”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. Al-A’raff:16-17)

Oleh karenanya hati-hati dengan kebiasaan baik kita yang hilang. Jika kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih itu hilang, maka bisa jadi akan berpotensi menjadi kebiasaan jelek ada pada diri kita, yang kebiasaan itu mewakili sifat fujur. Dan itu adalah sebuah kesuksesan syetan dalam menggoda manusia, menjauhkan manusia dari jalan-Nya yang lurus.

Berusahalah untuk memelihara sifat taqwa dan meninggalkan sifat fujur yang ada dalam diri kita. Kita tinggalkan dengan mengisi hari-hari kita dengan senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, dan senantiasalah kita berdzikir kepada-Nya.

Didalam buku Tarbiyah Ruhiyah, Abdullah Nashih Ulwan menerangkan ada 5 jalan untuk memelihara ketaqwaan itu, pertama Mu’ahadah (Mengingat perjanjian), kedua Muroqobah (Merasakan Kesertaan Allah), ketiga Muhasabah (Instrospeksi diri), keempat Mu’aqobah (Pemberian sanksi), kelima Mujahadah (Bersungguh-sungguh). Mungkin kita bisa membaca buku itu untuk lebih jelasnya.

Dan potensi sifat taqwa itu akan selalu ada, selama kita masih bisa menghirup nikmat udara yang disediakan-Nya. Karenanya pintu taubat belumlah tertutup dan ketahuilah bahwa Allah SWT adalah Maha Pengampun kepada hamba-hamba-Nya yang memohon akan ampunan-Nya. Oleh karena itu bersegeralah meraih taqwa itu dengan senantiasa menjalankan segala apa yang diperintah tentunya dengan mencoba mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dengan beribadah dan beramal shalih kepada-Nya, dan berusaha menjauhi segenap larangan-Nya.

Kita bisa menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih itu dengan tidak memaksakan dalam mengerjakannya. Sedikit-sedikit tetapi kita konsisten dan secara istimrariyah (terus-menerus) dalam mengerjakannya itu lebih baik, dan Allah SWT sangat menyukai itu. Dari pada kita paksakan harus menjalankan semua amal shalih yang harus dikerjakan tetapi tidak secara istimrariyah (terus-menerus).

“Amalan apa yang paling disukai Allah Ta’ala?” Jawab Rasulullah “Amalan yang dikerjakan secara istimrariyah (terus menerus) walaupun sedikit”. (HR. Bukhari)

Bukankah kita mengharapkan ketika izrail datang untuk menjemput , didapatinya kita sedang berada dalam kebiasaan-kebiasaan baik amal shalih kita, yaitu perbuatan taqwa, yang insya Allah dengan itu berarti kita Husnul Khatimah. Tetapi apa jadinya ketika izrail datang menjemput, didapatinya kita sedang berada dalam kebiasaan-kebiasaan melanggar larangan-Nya, yaitu perbuatan fujur. Semoga tidak terjadi pada diri kita dan keluarga kita semua. Amin…

Wallahu a’lam

02 April 2010

Hitung Umur Anda Dengan Menggunakan Kalender Hijriah

oleh : Addy Aba Salma

Selama ini kita menghitung umur dengan menggunakan kalender MASEHI. Misalnya saya, tanggal lahir 2 April 1977 dan sekarang tahun 2010, berarti umur saya sekarang 2010-1977=33 tahun.

Coba kita hitung tanggal lahir kita dengan menggunakan kalender HIJRIAH. Misalnya saya, tanggal lahir 2 April 1977 (Masehi) dikonversi ke Hijriah menjadi 13 Rabiultsani 1397 dan sekarang tahun 2010 atau 1431 Hijriah, berarti umur saya sekarang 1431-1397=34 tahun.

Melihat hasil perhitungan umur diatas ada perbedaan hasil antara perhitungan dengan kalender MASEHI dan HIJRIAH. Yang berarti saya lebih tua satu tahun dengan menghitung umur dengan menggunakan kalender Hijriah. Apalagi yang sekarang berumur 40 tahun keatas (masehi), bila menghitung umurnya dengan menggunakan kalender hijriah bisa selisih dua tahun lebih tua.

Gunakan sebaik-baiknya nikmat umur yang diberikan oleh Allah SWT. kepada kita. Jadilah kita sebagai sebaik-baiknya manusia seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya (HR. Ahmad).

Banyak umat islam sekarang ketika diberi nikmat panjang umur oleh Allah SWT. tetapi mereka tidak berusaha mensyukuri nikmat itu dengan menjadi sebaik-baiknya manusia yaitu baik amalannya dengan meningkatkan amal ibadahnya kepada Allah SWT. Mereka malah melakukan tradisi orang diluar Islam yaitu MENIUP LILIN, merayakannya dengan berfoya-foya.

Maka tidak heran t-shirt anak muda sekarang ada yang bertuliskan “Muda Foya-Foya, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Sorga”, bukan hanya t-shirt tapi banyak sticker yang tertempel di sepeda motor anak muda sekarang yang bertuliskan seperti itu. Kalimat yang sangat tidak mendidik, bagaimana mungkin ketika masa muda berfoya-foya pada masa tuanya nanti akan kaya-raya dan berharap juga mati masuk sorga. Mimpi Kali’…

Semoga kita termasuk sebaik-baiknya manusia yaitu orang-orang yang diberi nikmat umur panjang dan kita gunakan umur yang panjang itu untuk senantiasa baik amalannya dengan meningkatkan amal ibadahnya kepada Allah SWT. Amin.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Qs. Adz-dzariat:56)

Wallahu a’lam bishshawab

01 Maret 2010

Ghirah (Semangat) Seorang Kakek Tua

oleh: Addy Aba Salma

Lima tahun yang lalu saya mengenal sorang kakek yang berumur kurang lebih 90 tahunan. Saya mengenalnya karena saya menikahi salah satu cucu dari kakek tersebut. Semenjak 4 tahun lalu beliau sudah menjadi Kakek Buyut dari anak saya. Kakek itu bernama Sadi. Saya biasa memanggilnya Bapak Sadi, karena memang cucu-cucu beliau memanggilnya Bapak Sadi. Panggilan untuk Kakek di dalam keluarga Istri saya adalah Bapak. Bapak Sadi adalah sesepuh di kampung tempat dibesarkannya istri saya, Desa Angrit Kampung Leuwiipuh, Lebak Banten. Butuh waktu 3 s.d 4 jam dari Terminal Pakupatan Serang untuk sampai ke Desa ini dengan menggunakan jasa angkutan umum jurusan Serang-Malimping.

Bapak Sadi menurut saya adalah sosok kakek yang terdapat keteladanan pada dirinya. Dalam keadaannya yang sudah renta ia masih senantiasa memiliki ghirah (semangat) dalam beribadah. Shalat 5 waktu dikerjakannya di awal waktu ketika adzan terdengar berkumandang. Karena kerentaannya memang beliau sudah tidak kuat lagi berjalan jauh untuk mendatangi mushola tetapi beliau lakukannya di rumah, kecuali shalat jum’at beliau masih memiliki semangat untuk berangkat ke Masjid yang biasanya di bonceng motor oleh menantunya yaitu Ayah dari Istri saya. Karena masjid yang ada untuk melakukan sholat Jum’at ada di Desa tetangga yang jaraknya lebih kurang 1 kilo meter dari rumah Bapak Sadi.

Selain shalat 5 waktu itu, beliau juga senantiasa melaksanakan shalat dhuha dan membaca Al Qur’an di setiap pagi dan sore hari. Al Qur’an yang beliau baca itu selalu ada di atas meja tamu, dan memang beliau biasa membacanya di ruang tamu. Dan pemandangan itu sangat jelas terlihat oleh saya dari depan teras rumah orang tua istri saya.

Dalam waktu yang sudah memasuki usia senja beliau benar-benar memanfaatkan waktunya untuk tidak melewatkan ibadah yang masih sanggup beliau lakukan. Itu beliau lakukan bukan karena usia yang sudah memasuki usia senja, tetapi memang semasa mudanya beliau juga adalah orang yang selalu mencoba untuk berbuat baik dan beramal sholeh. Semasa kecil cucu-cucunya diantaranya istri saya, adalah beliau yang mengajarkan mereka supaya lancar dalam membaca Al Qur’an.

Setiap kali saya berkesempatan pulang kampung ke rumah orang tua istri untuk bersilaturrahim ketika Idul Fithri atau hari-hari libur panjang, saya singgah juga kerumah Bapak Sadi yang memang rumahnya tidak jauh karena bertetanggaan dengan rumah orang tua istri. Kebiasaannya itu masih saja beliau lakukan, sholat tepat waktu, sholat dhuha dan membaca Al Qur’an.

Subhanallah... ada keberkahan yang diberikan Allah SWT kepada Bapak Sadi. Ketika musim kemarau datang, kemarau yang berkepanjangan, sumur-sumur warga desa menjadi kering. Tidak ada sumber air untuk keperluan sehari-hari, tetapi tidak jauh di belakang rumah Bapak Sadi tetap mengalir sumber mata air. Yang hampir semua warga Desa mengambil keperluan airnya dari sumber mata air tersebut. Untuk keperluan mandi dan juga mencuci pakaian.

Yang mengatakan ada keberkahan itu adalah Ustadz Samson Rahman, penterjemah buku Best Seller La Tahzan. Ustadz Samson Rahman adalah suami dari salah satu cucu Bapak Sadi. Istri dari Ustadz Samson Rahman adalah saudara sepupu dengan istri saya. Ketika hari Idul Fithri memang biasanya kami berkumpul di rumah Bapak Sadi untuk bersilaturrahim keluarga. Dalam kesempatan itu juga saya sempatkan untuk berdiskusi ringan kepada Ustadz Samson Rahman yang biasa saya panggil Kak Samson.

***

Saya mencoba untuk intropeksi diri, berkaca pada seorang Bapak Sadi, seorang kakek yang hampir satu abad hidup di dunia ini, yang tetap dalam ghirah (semangat) beribadah walaupun telah renta badan termakan usia, walaupun telah putih seluruh rambut tak bersisa hitam, walaupun telah keriput kulit tak lagi kencang, walaupun terkadang datang sakit-sakitannya seorang tua. Bagaimana dengan saya yang masih muda dalam usia, yang masih hitam seluruh rambut, yang masih kencang kulit menutupi tulang, yang masih banyak sehat daripada sakitnya. Seharusnya ghirah (semangat) beribadah yang ada pada diri ini, haruslah melebihi ghirah (semangat) seorang kakek tua, Bapak Sadi.

Teringat akan sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya” (HR. Ahmad). Semoga sisa nikmat umur yang entah sampai kapan akan diberikan-Nya, tergunakan dalam rangka untuk senantiasa berbuat baik dan beribadah kepada-Nya. Untuk menyongsong hari yang pasti, hari dimana ajal kan datang menghampiri, dan setiap manusia di dunia ini tanpa terkecuali akan merasakannya.

Tiada daya kekuatan setiap hamba dalam menjauhi maksiat, dan tiada daya kekuatan setiap hamba dalam melakukan keta’atan, kecuali atas pertolongan-Mu Ya Allah. Laa haw laa Walaa Quwwataa Illa Billahi ’Aliyil ’Adzim. Amiin...

Wallahu’alam

24 September 2009

Ruhiyah Yang Ternuansakan Ramadhan


oleh: Addy Aba Salma

Ramadhan bulan Mulia itu telah berlalu, tak terasa kita lewati yang dalam setiap waktunya penuh dengan keberkahan. Ada yang melewatinya, menjalaninya dengan kedahsyatan ibadah yang tak terlakukan di bulan-bulan selain Ramadhan. Amaliah-amaliah ibadah Ramadhan itu semua dicoba untuk dikerjakan. Dari mulai puasa, qiyamullail, tilawah Qur'an, memberi makanan berbuka, zakat infaq shadaqah, hingga itikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan, semua dapat dengan mudah untuk dikerjakan. Ya karena memang Ramadhan mempunyai daya tarik tersendiri, ada kekuatan yang dahsyat dalam bulan yang Mulia ini. Sehingga banyak orang berlomba-lomba dalam kebaikan Fastabiqul Khairat dalam meraih kemuliaan, keberkahan dan berjuta keutamaan-keutamaan Bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan yang telah terlewati kemarin adalah sebuah bulan pendidikan, Syahruttarbiyah. Kita mengisi setiap waktu-waktu didalamnya dengan amaliah-amaliah ibadah yang dilakukan dengan menghadirkan keikhlasan dan hanya mengharap keridhoaan dari Allah yang Maha Rahman. Didalam rangkaian amaliah-amaliah Ramadhan tersebut kita di didik untuk bisa menjadi seorang mukmin yang bertaqwa kepada Allah SWT untuk modal mengarungi kehidupan selepas Ramadhan. Karena dengan modal taqwa itu kita akan selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Kehidupan yang bagaikan jalan yang penuh dengan duri, kita harus berhati-hati dalam melewatinya. Itulah hakikat ketaqwaan yang pernah disampaikan oleh sahabat Umar bin Khattab ra. dalam suatu dialognya dengan sahabat Ubay bin Kaab ra. Umar bin Khattab ra. pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay ra. menjawab, ”Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh dengan duri?”, “Ya” jawab Umar, Ubay kembali bertanya “Apa yang anda lakukan saat itu?”, “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan sangat hati-hati” jawab Umar, “Itulah taqwa” Ubay menegaskan.

Taqwa adalah hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang telah lulus menjadi alumni Ramadhan, sukses dengan berbagai macam pendidikan yang ada di dalamnya, tarbiyah Ramadhan.

Kedahsyatan amaliah-amaliah Ramadhan tidak redup seketika bulan Syawal datang menyapa. Menyambut hari pertama Syawal dengan menggemakan Takbir, Tahlil dan Tahmid yang penuh makna dengan senantiasa melantunkan keindahan kalimatnya dengan syahdu yang menggetarkan qalbu ...Allahuakbar Allahuakbar Lailahaillallahu Wallahuakbar Allahuakbar Walillahilhamd... Dan hari Idul Fithri itu adalah hari Rayanya bagi mereka yang senantiasa mengisi Ramadhan dengan ketaatan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas dan hanya mengharap keridhoan-Nya. Tetap semangat dalam mengerjakan kedahsyatan amaliah-amaliah ibadah Ramadhan itu dalam bulan-bulan selepasnya. Mereka yang seperti itu adalah jiwa-jiwa yang ruhiyahnya ternuansakan Ramadhan. Yang dengan itu taqwa yang terraih akan senantiasa terjaga.

Kedahsyatan amaliah-amaliah Ramadhan itu tetap berlanjut. Rasulullah masih mengajarkan umatnya untuk mengisi bulan Syawal berpuasa, yaitu puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Dari Abu Ayyub ra. bahwasannya Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian diikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun”. (HR. Muslim).

Dan ada puasa sunah yang Rasulullah ajarkan juga kepada kita, yang Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan tidak pernah meninggalkannya, yaitu puasa sunah senin-kamis dan puasa sunah ayyamul bidh (puasa tanggal 13,14,15 setiap bulan Hijriyah).

Dari ‘Aisyah ra. berkata “Rasulullah SAW senantiasa bersungguh-sungguh dalam puasa senin-kamis”. (HR At-Tirmidzi)

Dari Abu Darda’ ra. berkata “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepada saya untuk sama sekali tidak meninggalkan tiga hal selama saya hidup yaitu: puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan supaya saya tidak tidur sebelum mengerjakan shalat witir”. (HR. Muslim)

Dari Qatadah bin Milhan ra. berkata “Rasulullah SAW menyuruh kami untuk puasa pada Ayyamul Bidh yakni tanggal 13, 14 dan 15” (HR Abu Daud)

Yang kalau kita jumlahkan jumlah puasa sunah dalam bulan Syawal ini lebih kurang 15 hari yang berarti separuh dari bulan Syawal dapat ternuansakan Ramadhan dengan puasa sunah (puasa sunah Syawal dikerjakan 6 hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fithri -menurut Syafi’iyah dan Hanafiyah ini yang lebih afdhal-). Begitupun dalam bulan-bulan sesudah Syawal, puasa senin-kamis, puasa ayyamul bidh, puasa arafah dan puasa sunah lainnya walaupun ibadah sunah senantiasa berusaha untuk mengerjakannya.

Begitu juga dengan tilawah Qur'an di bulan Ramadhan, setiap masjid terdengar orang membaca Al Qur’an, tadarus Qur’an bersama-sama jama’ah masjid. Bahkan dirumah-rumah juga terdengar lantunan bacaan ayat suci Al Qur’an. Mereka berusaha untuk dapat mengkhatamkan Al Qur’an dalam bulan Ramadhan walaupun hanya sekali, ada juga yang dapat mengkhatamkan Al Qur’an lebih dari sekali. Semoga kedahsyatan amaliah itu juga tidak redup seketika bulan Ramadhan berlalu. Tetapi masih bisa melakukannya, membacanya di bulan-bulan selepasnya. Karena tilawah Qur'an adalah ibadah yang paling utama umat Nabi Muhammad SAW, Rasulullah pernah bersabda “Ibadah ummatku yang paling utama adalah membaca Al-Qur'an." (HR. Baihaqi)

Membaca saja sudah menjadi keutamaan apalagi kita mempelajarinya dan mengajarkannya. Sebaik-baik manusia adalah sebutan yang disematkan Rasulullah SAW kepada mereka yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an, seperti yang pernah disabdakannya "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya".(HR. Bukhari)

Bagi yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an, terus berlatih untuk bisa lancar dalam membacanya dan dua pahala akan didapat untuk mereka yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata, “Seseorang yang membaca Al-Qur’an yang mahir dalam membacanya bersama malaikat yang diutus, yang mulia lagi senantiasa berbuat taat, dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)

Tilawah Qur’an dalam setiap huruf yang dibaca akan mendapat satu kebaikan, dan setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Kitab (Al Qur’an) maka ia mendapat satu kebaikan. Setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf”. (HR. At-Tirmidzi)

Minimal kita dapat mengkhatamkan Al Qur'an sekali dalam setiap bulannya. Yang dengan itu berarti pendidikan di bulan Ramadhan, tarbiyah yang dilakukan dalam Ramadhan kemarin berbekas pada diri kita. Bulan-bulan selepasnya kita coba usahakan ternuansakan Ramadhan dengan senantiasa tilawah Qur’an. Dan semoga di yaumul akhir kelak kita adalah golongan orang-orang yang mendapatkan syafaat dengan Al Qur’an karena kita senantiasa membacanya ketika di dunia.

“Bacalah al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi Syafaat kepada orang yang membacanya” (HR Muslim)

Begitu pula amaliah-amaliah ibadah lainnya seperti shalat berjamaah di masjid dan qiyamullail. Dalam bulan Ramadhan masjid penuh sampai melebihi kapasitas ruang shalat yang ada di dalam masjid dan masih banyak lagi yang harus shalat di teras masjid dan halaman luar masjid, Subhanallah… Dan mereka yang ruhiyahnya ternuansakan Ramadhan akan tetap menjalankan shalat-shalatnya senantiasa berjama’ah di masjid. Sungguh ada kekuatan dahsyat ketika kita senantiasa shalat berjama’ah di masjid selain ukhuwah diantara jama’ah juga banyak hadist berbicara pentingnya shalat secara berjama’ah.

”Shalat berjamaah itu lebih utama dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat”. (HR. Bukhari Muslim).

“Barangsiapa yang shalat Isya’ berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh.” (HR. Muslim)

Dalam Ramadhan kemarin masjid juga terisi penuh terpadati orang-orang yang ingin menjalankan shalat tarawih. Shalat tarawih adalah qiyamullail yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Berlalunya bulan Ramadhan bukan berarti kita berhenti melakukan qiyamullail, tetapi tetaplah kita ternuansakan Ramadhan di malam-malam hari diluar bulan Ramadhan dengan qiyamullail.

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah Puasa pada bulan Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat pada waktu malam”. (HR. Muslim)

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (Qs. Al Israa' : 79)

Dan sederet amaliah-amaliah ibadah lainnya yang kita kerjakan di Ramadhan kemarin, di luar Ramadhan pun kita tetap mengerjakannya. Kita jadikan bulan-bulan di luar Ramadhan ternuansakan Ramadhan dengan kita tetap mengerjakan amaliah-amaliah ibadah tersebut. Mengerjakannya dengan istimrariyyah atau terus-menerus walaupun sedikit, dan yang seperti itulah amalan yang disukai oleh Allah SWT. Bertanya Aisyah ra. "Amalan apa yang paling disukai Allah Ta’ala” Jawab Rasulullah “Amalan yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit”. (HR. Bukhari)

Dahsyatkan amaliah ibadah kita dengan melakukannya dengan istimrariyyah, terus-menerus, kontinyu walaupun sedikit. Semoga dengan itu dalam hari-hari diluar bulan Ramadhan yang telah berlalu ruhiyah kita tetap ternuansakan Ramadhan. Semoga keistiqamahan kita dalam mengerjakan amaliah-amaliah ibadah tersebut diberikan pahala yang lebih baik dan ganjaran berupa kehidupan yang baik, kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal ‘Alamin…

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl : 97)

Wallahu a’lam bishshawab

11 September 2009

Antara Semangat BADAR dan Semangat BODOR


oleh: Addy Aba Salma

Perang Badar terjadi di bulan Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Rasulullah SAW dan para sahabat sedang melakukan shaum. Mereka senantiasa beribadah sebenar-benarnya, menyimpuhkan diri, menundukkan hati, memohon kepada Allah SWT atas pertolongan-Nya kepada mereka yang akan menghadapi pasukan kafir Quraisy yang berjumlah tiga kali lipat pasukan kaum muslimin.

Tidak ada canda dan tawa. Dalam mengisi hari-harinya tidak ada kesia-siaan yang terlakukan. Mereka coba untuk lebih dekat dan lebih dekat lagi kepada sang Maha Pencipta, Allahu Rabbul ‘Alamin. Dan ketika perang Badar itu benar-benar terjadi, Allah SWT menurunkan pertolongannya, memenangkan mereka kaum muslimin, Allahu Akbar... sebuah keberkahan di dalam bulan Ramadhan.

Begitulah seharusnya kita, menghadirkan semangat Badar dalam mengisi hari di bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini. Mencoba mengisi harinya dengan tidak menyiakan waktu-waktu yang ada. Mengisinya dengan tilawah qur’an, qiyamullail, juga amaliah-amaliah Ramadhan lainnya, dan jangan lewatkan waktu-waktu terkabulnya do’a yang kita panjatkan di bulan Ramadhan ini. Berdo’a untuk diri kita dan keluarga, juga berdoa untuk kaum muslimin di berbagai belahan bumi islam yang sedang tertindas.

Tetapi tantangan untuk bisa melakukan itu semua bisa hampa tak terraih oleh kita. Karena dari semenjak sahur sampai berbuka hingga sampai sahur kembali begitu banyak acara-acara Ramadhan di televisi yang mengemasnya dengan acara gelak tawa. Yang semua itu sebenarnya bisa menghilangkan konsentrasi kita untuk dapat khusu’ beribadah di bulan Ramadhan ini.

Acara-acara televisi itu menjadikan Ramadhan yang seharusnya disemangati dengan semangat BADAR menjadi semangat BODOR. Begitulah apa yang bisa sama-sama kita lihat dalam acara-acara televisi dalam bulan Ramadhan ini.

Di waktu sahur kita lupa untuk menambah kualitas ibadah kita dengan amaliah-amaliah Ramadhan yang bisa kita lakukan pada waktu ini, karena kita menunggu waktu sahur dengan gelak tawa, dan tidak juga kita manfaatkan untuk memohon do’a kepada Allah SWT. Ketahuilah sesungguhnya dalam waktu sahur terdapat keberkahan di dalamnya. Seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Di waktu berbuka pun kita lupa memanfaatkan waktunya untuk memanjatkan do’a, karena kita menyambut berbuka dengan acara gelak tawa, hilang konsentrasi kita untuk memohon do’a kepada Allah SWT.

“Sesungguhnya bagi orang yang shaum saat ia berbuka, do’anya tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah)

Kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan. Masihkah kita tertarik dengan gelak tawa acara televisi, ataukah kita adalah diantara orang-orang yang mencoba menyimpuhkan diri, menundukkan hati, memaksimalkan waktu yang tersisa untuk lebih dekat kepada Allahu Rabbul Izzati dengan beribadah, ber-i’tikaf menggapai keberkahan di malam-malam terakhirnya, menggapai lailatul qadr yang dinanti.

Tentunya antara semangat BADAR dan semangat BODOR dalam mengisi hari-hari dalam bulan Ramadhan ini akan terlihat dari perbedaan hasil yang akan kita raih selepas Ramadhan nanti. Semoga kita adalah diantara orang-orang yang mendapatkan keberkahan di sepuluh hari terakhir Ramadhan, meraih keutamaan lailatul qadr. Meninggalkan Ramadhan sebagai alumni Ramadhan sejati, menjadi insan yang bertaqwa. Yang layak merayakan hari kemenangan, Hari Raya 'Idul Fithri.

Amin Ya Rabbal ‘Alamin

Wallahu’alam Bishshawab

10 September 2009

Sepuluh Hari Terakhirnya Begitu Kita Rindukan


oleh: Addy Aba Salma

Banyak umat islam di bulan Ramadhan ini merasa berat melakukan macam-macam ibadah selain puasa dan shalat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu-waktu di dalam bulan yang penuh keberkahan ini. Merasa berat karena mungkin melihat jumlah hari dalam sebulan Ramadhan yang berjumlah 29 atau 30 hari tersebut. Dalam sebulan penuh kita harus berpuasa ditambah shalat, tilawah qur’an, shadaqah, itikaf, qiyamul lail dll. Padahal jumlah sebulan dalam bulan Ramadhan yang cuma 30 hari tersebut, jika dibandingkan dengan jumlah hari dalam setahun 365 hari dalam hitungan Masehi atau lebih kurang 355 hari dalam hitungan Hijriah, 30 hari Ramadhan tidaklah begitu berat untuk dijalankan.

30 hari kita maksimalkan untuk senantiasa dalam ketaatan dengan beribadah kepada-Nya, untuk mencoba menghapus dosa selama 325 hari yang mungkin kita masih banyak lalai, khilaf dan lupa kepada yang telah menciptakan kita, yang telah menghidupkan kita, yang telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita dan yang akan mematikan kita jika memang sudah waktunya kita kembali kepada-Nya, Dialah Allah SWT Rabbul ‘Alamin Tuhan Semesta Alam.

Kalaulah memang kita merasa “berat” dalam menjalani rutinitas ibadah Ramadhan ketahuilah bahwa Allah menjanjikan ganjaran pahala yang “berat” pula dan berlipat dari apa yang telah kita kerjakan dari rutinitas ibadah yang kita merasa “berat” itu. Subhanallah.

Ramadhan berasal dari kata “Ramadh” yang berarti panas yang amat sangat terik. “Ramadh” sangat dibutuhkan oleh pohon kurma untuk membantu dalam proses pertumbuhan buah kurma menjadi masak. Ramadhan adalah bulan dimana orang beriman sangatlah membutuhkannya untuk sarana ibadah, sarana pembinaan, sarana muhasabah untuk kemudian selepas bulan Ramadhan kita akan menjadi orang-orang beriman yang “masak” dalam artian orang-orang beriman yang bertaqwa. Seperti apa yang di firmankan Allah SWT di dalam Al-Qur’an ayat perintah puasa yang kita semua sama-sama sudah hafal, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Qs Al-Baqarah:183)

Di dalam sepuluh terakhir Ramadhan bulan yang Mulia ini Allah SWT menyimpan Lailatul Qadr malam yang senilai seribu bulan. Kita disuruh untuk mencarinya dimalam-malam yang ganjil, malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, ke-29, terutama sekali di malam ke-27 seperti yang disabdahkan oleh Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang ingin berjaga-jaga dan bertemu dengan Lailatul Qadr, maka berjaga-jagalah pada malam ke dua puluh tujuh” (HR. Ahmad)

Sungguh dahsyat ganjaran yang Allah SWT janjikan, seribu bulan yang kalau dikonversikan kedalam tahun sekitar 83 tahun 4 bulan, “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (Qs. Al Qadr:2-3). Rata-rata umur kita sekitar 60 tahunan, sedikit yang bisa mencapai umur sampai 80 tahun apalagi 100 tahun kalaulah ada dapatlah dihitung dengan jari. Jika kita mendapatkan malam kemuliaan itu (insya Allah) berarti ganjaran yang Allah berikan kepada kita melebihi dari umur kita yang sekarang ini. Umur yang lebih banyak maksiatnya daripada ketaatannya dan mungkin sedikit sekali ketaatan dalam beribadah yang diterima oleh Allah SWT. Oleh karenanya seribu bulan yang dijanjikan oleh Allah itu jangan sampai terlewatkan oleh kita. Raih dengan mengharap keridhoan-Nya, tanamkan keikhlasan di hati.

Dan Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa orang-orang yang shalat pada malam yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan itu Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu, “Barangsiapa yang mendirikan sholat pada Lailatul Qadr (malam Qadr) dengan keimanan dan mengharap keridhoan-Nya, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari Muslim)

Tetapi sangat sedikit yang mencoba mencari dan meraih malam Lailatul Qadr itu. Mencari dan meraihnya dengan beri’tikaf didalam masjid. Dengan memaksimalkan sisa hari dan waktu di dalam bulan Ramadhan ini yang tersisa untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, menyibukkan diri dalam ketaatan pada-Nya dengan tilawatul qur’an, qiyamul lail dan amaliah-amaliah yang lainnya. Kebanyakan dari kita di sepuluh terakhir Ramadhan sibuk dengan mudik lebaran, sibuk dengan pergi ke mall untuk belanja baju baru, sibuk dengan memadati meja tamu dengan toples-toples kue beraneka rasa, sibuk dengan memenuhi lemari es dirumah dengan bermacam minuman dan makanan untuk persiapan hari lebaran, yang belum tentu hari lebaran itu dapat kita rasakan karena kita tidak bisa mengetahui pastinya apakah besok hari Allah SWT masih memberikan umur panjang kepada kita semua.

Ramadhan adalah anugrah terindah yang Allah SWT berikan kepada kita, Allah masih sayang kepada kita, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa merasakan kembali nikmatnya beribadah dalam Ramadhan tahun ini. Jangan sia-siakan waktunya terbuang percuma. Semoga Allah SWT memberikan kita nikmat umur panjang hingga kita dapat merasakan sebulan penuh Ramadhan. Sepuluh hari terakhirnya begitu kita rindukan, semoga seribu bulan itu terlabuh pada diri-diri kita dan kelak di akhirat kita bisa memasuki syurga-Nya melalui pintu Ar-Rayyan dan nikmat kebahagiaan tiada tara berjumpa dengan Allah SWT. Amin… Amin… Ya Rabbal ‘Alamin

Wallahu a’lam bishshawab

05 Agustus 2009

Hadirkan Nuansa Ramadhan Itu Kembali


oleh: Addy Aba Salma

Tak terasa waktu terus berlalu. Hari-hari terlalui, dan bulan Ramadhan itu sebentar lagi akan datang kembali. Sepertinya baru saja kemarin Ramadhan tahun lalu kita tinggalkan, bulan mulia yang penuh dengan keberkahan. Dimana di bulan Ramadhan tahun yang lalu itu, kita begitu dekat dengan Allah SWT. Kita lalui hari-harinya untuk senantiasa beribadah kepada-Nya dengan shalat berjamaah di masjid, qiyamullail, tilawah Al Qur'an, shadaqah dan macam-macam ibadah lainnya. Terlebih lagi di sepuluh hari terakhirnya, tak ketinggalan kita coba untuk ber-itikaf di masjid, untuk lebih mendekatkan lagi diri kita yang hina ini kepangkuan Ilahi Rabbi. Memanjatkan doa memohon ampun atas semua dosa yang pernah terlakukan.

Selepas Ramadhan itu pergi, memasuki bulan syawwal kita masih bisa menghadirkan nuansa Ramadhan pada diri kita. Masih bisa kita melaksanakan ibadah shaum sunnah syawwal dan senin kemis. Masih bisa kita pertahankan untuk menghiasi malam-malamnya dengan Qiyamullail. Tilawah Qur’an masih bisa satu juz dalam sehari dan nilai-nilai plus ibadah yang lainnya. Subhanallah...

Perlahan nuansa Ramadhan itu hilang dari diri kita, shaum sunnah senin kamis kita lupakan, qiyamullail jarang lagi kita kerjakan, tilawah Al Qur’an kadang terlewatkan. Perlahan teriring semakin jauhnya kita dengan Allah SWT ditandai dari berkurangnya kualitas ibadah kita, dosa-dosa pun banyak yang kita perbuat. Astaghfirullah...

Kualitas ibadah kita mencerminkan nilai keimanan yang ada pada diri kita. Ketika kualitas ibadah kita itu menurun berarti menurun pula nilai keimanan kita. Karena memang keimanan kita kadang naik dan kadang menurun. Imam Al Ghazali menjelaskan, keimanan kita naik dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan sebaliknya keimanan kita menurun dengan melakukan kemaksitan kepada-Nya.

Tak menyadari begitu banyak dosa itu datang dari pandangan mata kita, datang dari ucapan lisan kita, datang dari pendengaran telinga kita, datang dari segenap panca indra kita. Sungguh semua itu tak terasa kita lakukan. Karena memang begitu halus cara syaitan menggelincirkan kita dari jalan yang di ridhai oleh Allah SWT. Sekalipun kita adalah orang yang senantiasa rajin beribadah, apatah lagi mereka yang memang jauh dari ajaran agama ini.

Dari berbagai arah syaitan mencoba membujuk rayu supaya kita menjadi manusia-manusia pendosa. Dari arah depan kita ia datang menggoda, dari arah belakang kita ia datang menggoda, juga dari arah kanan dan kiri kita ia datang menggoda. Supaya kita manusia jauh dari ketaatan. Seperti janji syaitan/iblis kepada Allah SWT yang diabadikan di dalam Al Qur’an:

Iblis menjawab: ”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”(Qs. Al Araaf:16-17)

Menyadari diri yang penuh dosa, kedatangan bulan Ramadhan sungguh sangat kita rindukan, bulan yang mulia dan bulan yang penuh dengan keberkahan. Dimana Allah SWT dalam bulan Ramadhan ini menjanjikan menghapus dosa-dosa dan mengabulkan segala doa yang kita panjatkan. Dan semoga Allah SWT masih memberikan nikmat-Nya kepada kita sebuah anugerah terindah yaitu bisa merasakan kembali bulan Ramadhan tahun ini.

Tetapi banyak cerita di tahun-tahun yang lalu menjelang memasuki bulan Ramadhan bahkan mungkin juga di tahun ini, orang-orang terdekat kita, teman, sahabat, saudara bahkan juga orangtua kita telah mendahului kita menghadap Ilahi Rabbi. Pergi dan takkan pernah akan kembali lagi, selama-lamanya. Mereka tak sempat merasakan lagi Bulan Ramadhan, dan semua itu adalah takdir yang kita tidak bisa lagi untuk menawarnya. Semoga mereka yang telah mendahului kita di ampuni oleh Allah SWT akan dosa-dosanya... Amiin...

Tidak tahu dengan kita, apakah Allah SWT akan menakdirkan kita bersua kembali dengan bulan Ramadhan tahun ini, atau kita ditakdirkan menyusul orang-orang terdekat kita yang telah lebih dahulu menghadap Ilahi Rabbi sebelum Ramadhan dapat kita rasakan kembali, merasakan hari-harinya yang penuh dengan keberkahan. Oleh karenanya jangan tunggu bulan Ramadhan datang untuk kita bertaubat kepadanya. Mulailah dari sekarang, dari bulan ini untuk kita dekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang zalim karena kita enggan bertaubat. Firman Allah di dalam Al Qur'an menyatakan seperti itu: "...dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (Qs. Al Hujurat:11)

Hadirkan nuansa Ramadhan itu kembali. Qiyamullail, tilawah Al Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya. Supaya ketika kita ditakdirkan oleh Allah SWT. dapat kembali merasakan bulan Ramadhan yang sebentar lagi menyapa, kita bisa lebih maksimal dalam mengisi hari-harinya dengan senantiasa beribadah kepada-Nya. Sungguh jangan lewatkan hari-harinya dengan kesia-siaan.

Berusahalah ketika kita berada dalam bulan Ramadhan untuk menggapai rahmat-Nya dengan fastabiqul khairat, menunjukkan kepada Allah SWT ibadah-ibadah terbaik kita. Yang dengan itu semua Allah SWT akan membanggakan kita kepada para malaikat-Nya.

”Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Thabrani)

Hadirkan nuansa Ramadhan itu kembali. Jika memang Allah akan memanggil kita sebelum Ramadhan itu menyapa, kita sudah berada dalam kedekatan pada-Nya. Berada dalam kondisi iman yang terbaik. Itu yang kita harapkan ketika memang Allah SWT telah tentukan akhir waktu umur kita hidup di dunia ini.

Dan tetaplah berdoa memohon kepada Allah SWT untuk kita dapat bersua dan merasakan kembali dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ditahun ini.

Allahumma Balighna Ya Ramadhan... Amiin...

Wallahu a’lam bishshawab

31 Juli 2009

Sebelum Pintu Itu Kita Lalui


oleh: Addy Aba Salma

Kita adalah ummat akhir zaman, ummat Nabi Muhammad SAW. Rata-rata umur ummat Nabi Muhammad SAW hidup di dunia ini hanya mencapai kurang lebih 60 s.d 70 tahun. Nabi Muhammad SAW pun ketika meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya pada usia 63 tahun. Kalaupun ada ummatnya yang mencapai umur sampai 70 tahun bahkan 80 tahun jumlahnya sangat sedikit sekali, apalagi yang sampai umur 100 tahun, mungkin dapat kita hitung dengan jari.

Rasulullah SAW pernah bersabda tentang umur ummatnya selama di dunia ini dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Huraiarah Ra.: “Umur ummatku adalah antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. At-Tirmidzi).

Kalaulah sekarang kita berumur 32 tahun, berarti umur kita yang tersisa tinggal 28 tahun lagi di dunia ini, jika memang Allah SWT menakdirkan kita hidup didunia ini selama 60 tahun. Kita semua tidaklah tahu akan hal itu, bisa jadi besok adalah ajal kita bahkan mungkin juga hari ini. Allahu a’lam…

Anggaplah kita memang akan mencapai 60 tahun hidup di dunia ini, pertanyaannya adalah apakah waktu yang tersisa itu dapat kita manfaatkan untuk menutupi kesalahan, kelalaian dan segala macam dosa yang terlakukan selama 32 tahun berlalu? Menutupinya dengan ibadah-ibadah yang akan kita lakukan selama sisa waktu jatah hidup kita di dunia ini, atau dalam sisa waktu itu kita malah membuat dosa itu semakin bertambah banyak.

Oleh karennya cukuplah rahasia umur yang Allah SWT tentukan kepada kita menjadi sebuah motivasi bagi kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya, meluangkan waktu untuk dekat kepada-Nya. Jangan kita menunda-nunda untuk taubat kepada-Nya, beristighfarlah atas dosa yang terlakukan. Karena kita tidak tahu berapa lama umur kita untuk merasakan nikmat hidup di dunia yang fana ini.

Mulailah untuk berbekal untuk perjalanan kita yang amat sangat jauh. Perjalanan yang tak kan pernah kita kembali lagi ke dunia ini. Perjalanan itu adalah perjalanan akhirat yang kita semua pasti akan mengalaminya. Dan perjalanan akhirat itu kita harus melalui satu pintu yang tidak ada pintu selainnya untuk menuju kesana. Pintu itu adalah kematian.

Tinggal ketentuan Allah SWT atas diri kita, kapan kita akan melalui pintu kematian itu, yang diawali dari sebuah episode sakaratul maut. Setelah itu kita akan merasakan dunia baru yaitu alam kubur, kita akan berada di dalamnya sepanjang umur dunia menemui waktunya, sampai ditiupkannya sangkakala pertanda dunia telah kiamat. Sungguh didalamnya ada nikmat dan juga adzab. Nikmat bagi mereka yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah ketika di dunia, dan adzab bagi mereka yang senantiasa berbuat dosa ketika di dunia.

Setelah tiupan sangkakala itu, ditiupkan kembali sangkakala yang kedua kalinya. Tiupan sangkakala yang kedua itu tanda dibangkitkannya kita dari alam kubur dan dikumpulkan di Yaumul Mahsyar dimana matahari berada dekat sekali dengan kita. Di Yaumul Mahsyar ini dalam sehari berbanding 50.000 tahun ketika di dunia, sungguh waktu yang amat sangat panjang sekali. Dan hanya orang-orang yang beriman dan bertaqwa yang akan merasakan kemudahan dari kesusahan dan penderitaan pada waktu itu.

Berlanjut setelah itu kita juga akan melalui Yaumul Hisab, hari perhitungan semua amal yang telah kita perbuat selama hidup didunia, dan ditentukannya apakah kita akan menjadi ahli syurga atau ahli neraka. Tentunya menjadi ahli syurga adalah keinginan kita. Sebuah keinginan yang kita harus berusaha untuk meraihnya. Dan usaha untuk meraihnya itu hanya bisa kita lakukan ketika di dunia ini, selagi udara masih bisa kita hirup, selagi nikmat hidup masih bisa kita rasakan.

Sebelum pintu itu kita lalui, pintu kematian yang pasti kita lewati, banyak-banyaklah beristighfar kepada Allah SWT. Tidak ada kata terlambat untuk berataubat kembali ke jalan-Nya. Karena ketahuilah sesungguhnya Allah SWT Maha Penerima Taubat.

“...Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah:118)

Semoga kita adalah diantara hamba yang akan mendapatkan nikmat ketika di alam kubur, hamba yang mendapat naungan pertolongan-Nya ketika di Yaumul Mahsyar, dan dimudahkan dalam perhitungan di Yaumul Hisab, tentunya karena kita senantiasa mencoba mengumpulkan bekal kebaikan ketika di dunia ini, untuk sebuah perjalanan akhirat yang amat sangat jauh itu. Amiin...

Wallahu a’lam bishshawab

25 Juli 2009

Rindu Akan Kampung Akhirat


oleh: Addy Aba Salma

Banyak kisah tentang kerinduan. Rindu anak kepada orang tuanya yang sedang berada di kampung, atau sebaliknya rindu orang tua terhadap anaknya yang sedang dalam perantauan di negeri seberang. Ketika rasa rindu itu datang, pastinya kita akan selalu teringat akan apa yang kita rindukan.

Seorang anak yang rindu terhadap orangtuanya di kampung, ia akan berusaha mengumpulkan bekal untuk biaya pulang dan untuk membawa oleh-oleh yang terbaik untuk orangtuanya. Begitupun orang tua yang merindukan anaknya di perantauan, ia akan mempersiapkan apa saja kesukaan anaknya untuk menyambut kedatangannya ketika kabar berita kedatangan anaknya itu didengarnya.

Kisah rindu diatas adalah kisah rindu anak terhadap orangtuanya dan rindu orangtua terhadap anaknya. Lain halnya dengan kisah rindu antara dua orang kekasih yang sedang jatuh cinta. Dalam segala kondisi mereka selalu ingat terhadap kekasihnya, ketika sedang makan, minum, berjalan, duduk bahkan ketika sedang tidurpun teringat kekasihnya sampai-sampai terbawa mimpi.

Seperti itulah rindu ketika datang menghampiri. Kita akan selalu ingat terhadap apa yang kita rindukan. Rindu kampung halaman, rindu orangtua, rindu anak, rindu kekasih, dan rindu-rindu yang lainnya. Tetapi bagi orang beriman kerinduan yang harus ada adalah kerinduan terhadap kampung akhirat, rindu tempat dimana kita akan hidup selama-lamanya disana kelak.

Rindu akan kampung akhirat berarti kita senantiasa teringat kepada pemiliknya yaitu Allahu Rabbul ’Alamin, pencipta segala apa yang ada di jagat raya kehidupan, jagat raya kehidupan dunia dan akhirat. Rindu itu tercermin dari apa yang dilakukannya ketika di dunia ini untuk senantiasa ingat kepada-Nya.

Banyak kisah hamba beriman yang mencerminkan kerinduan akan kampung akhirat, yang dilakukannya senantiasa ingat kepada Allah SWT. Seperti kisah pengembala pada zaman Khalifah Umar Bin Khattab ra. Pada saat itu Abdullah bin Dinar dan Umar Bin Khattab ra. sedang dalam perjalanan menuju Makkah, di tengah perjalanan mereka beristirahat. Tiba-tiba muncul seorang pengembala menuruni lereng gunung dan melewati mereka berdua. Umar kemudian bertanya kepada pengembala itu: ”Hai Pengembala, juallah seekor kambingmu kepada saya?”. ”Tidak, saya ini seorang budak”, jawab pengembala itu. ”katakan saja kepada tuanmu bahwa dombanya di terkam serigala”, Umar menguji. Dengan tegas pengembala itu berkata: ”Kalau begitu, dimana Allah SWT?”.

Ketika mendengar jawaban pengembala itu Umar bin Khattab ra. menangis. Kemudian Umar pergi bersama pengembala tersebut menemui tuannya, untuk dimerdekakannya. Dan umar pun seraya berkata: ”Kamu telah dimerdekakan di dunia ini oleh ucapanmu dan semoga ucapan itu bisa memerdekakanmu di akhirat kelak”.

Kisah lainnya adalah kisah ibu dan putrinya penjual susu yang juga terjadi pada zaman Khalifah Umar bin khattab ra. Ketika ibunya ingin mencampur susu yang akan dijualnya dengan air, supaya mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, putrinya mengingatkan: ”Bagaimana jika Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. mengetahui?”. Sang Ibu tidak menghiraukan nasihat dari anaknya dan bersihkeras melaksanakan keinginannya itu. Dan putrinya pun kembali menasihati: ”Kalaupun Amirul Mukminin tidak melihat kita tetapi Rabb Amirul Mukminin melihat kita”.

Begitulah apa yang dilakukan oleh orang yang ada kerinduan dalam dirinya akan akhirat, mereka senantiasa ingat kepada Allah SWT. Selalu berusaha untuk menjauhi perbuatan-perbuatan dosa baik dalam keramaian ataupun dalam kesendiriannya. Kita mengenal hal itu dengan istilah Muroqobatullah atau merasakan pengawasan Allah SWT, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat dan yang tidak pernah mengantuk dan juga tidur.

”...dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hadiid:4)

”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Qs. Al Baqarah:255)

Dengan sifat Muroqobatullah itu kita akan senantiasa ingat kepada-Nya. Dan orang-orang yang rindu akan kampung akhirat, sifat ini akan selalu dipelihara. Tentunya Muroqabatullah ini akan mengangkat derajat seorang hamba menjadi orang-orang yang Taqwa. Karena sebagaimana didefinisikan oleh sebagian ulama Taqwa adalah hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilangan kamu dalam perintah-perintah-Nya. Definisi Taqwa lainnya adalah mencegah diri dari adzab Allah dengan berbuat amal sholeh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan.

Dan Taqwa adalah jalan untuk meraih kebahagian di kampung akhirat sana, yaitu syurga yang mengalir dididalamnya sungai-sungai. Sungguh begitu damai terasa kampung akhirat yang bernama syurga itu. Semoga kita kelak ada diantara hamba yang berada didalamnya. Amin... Ya Rabbal ’Alamin...

”Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang taqwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai didalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” (Qs. Ar Ra’d:35)

Wallahu a’lam bishshawab

21 Juni 2009

Karena Tak Kan Pernah Ada Kesempatan Kedua

oleh: Addy Aba Salma

Ketika kita sedang berusaha untuk mencari pekerjaan selepas lulus dari sekolah ataupun kuliah, kita mencoba mengirimkan aplikasi lamaran ke beberapa perusahaan. Alhamdulillah ada diantara perusahaan itu yang memanggil kita untuk interview. Tetapi pada saat interview, kita sudah gagal tidak bisa ke tahapan berikutnya. Yang lainnya ada yang sukses ketika interview, tetapi gagal pada tahapan psikotes dan seterusnya. Hanya beberapa orang dari sekian banyaknya peserta pelamar yang sukses melewati tahapan-tahapan penseleksian.

Ketahuilah kegagalan kita itu adalah kesuksesan yang tertunda. Jangan bersedih dan putus asa cobalah lagi untuk meraih apa yang kita cita-citakan. Mungkin sukses kita bukan pada hari ini tetapi kesuksesan kita ada pada hari-hari yang akan datang yang kita tidak mengetahuinya. Tetap berusahalah karena ketika kita masih bisa menghirup udara di dunia ini maka kesempatan kedua, ketiga bahkan berapa kali pun kesempatan itu masih dapat kita usahakan dan dapat kita raih.

Kalaulah sebuah kesuksesan di dunia ini sangat kita inginkan sekali, dengan usaha-usaha yang kita lakukan. Kita ingin sukses sebagai pelajar, ingin sukses sebagai mahasiswa, ingin sukses dalam bekerja, ingin suskes dalam berbisnis dan keinginan-keinginan kesuksesan yang lainnya. Apakah juga sama untuk sebuah kesuksesan kelak di Akhirat? Usaha apa yang telah kita lakukan untuk sebuah kesuksesan di akhirat? Tentunya kita tidak bisa bersantai dalam hal ini. Kita harus berusaha maksimal untuk mendapatkan sebuah kesuksesan di akhirat. Jangan sampai waktu untuk mencari sebuah kesuksesan di akhirat habis dengan suatu hal yang menyebabkan kita gagal meraihnya.

Kesuksesan di akhirat itu hanya dapat kita raih ketika kita masih merasakan nikmat hidup didunia ini. Tentunya selain kita mengejar kesuksesan di dunia ini kejarlah juga kesuksesan kelak di akhirat. Sesalkanlah suatu hal yang menyebabkan kita akan mendapatkan kegagalan kelak diakhirat ketika di dunia ini, karena tak kan pernah ada kesempatan kedua setelah kita meninggalkan dunia ini. Kegagalan diakhirat itu adalah ketika kita tidak dapat merasakan keberuntungan disana, ketahuilah keberuntungan itu adalah syurga.

”(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Qs. At Taghaabun:9)

Dan orang yang berusaha menggapai kesuksesan kelak di akhirat adalah mereka termasuk orang-orang yang cerdas. Karena dalam aktifitasnya ketika di dunia demi orientasi akhirat. Mereka senantiasa mencoba mengevaluasi diri mereka, bermuhassabah untuk menggapai kesuksesan di akhirat.

“Orang yang cerdas (Al-Kayyis) adalah mereka yang selalu mengevaluasi (aktifitas) dirinya dan beraktivitas demi orientasi akhirat, (sedang) orang yang bodoh adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya dan berkhayal mendapatkan ridha Allah (tanpa beramal shalih)” (HR. At Tirmidzi)

Oleh karena itu kejarlah dunia seolah-olah kita akan hidup selama-lamanya, dan kejarlah akhirat seolah-olah kita akan mati besok. Kejarlah kesuksesan didunia seolah-olah kita akan hidup selama-lamanya, dan kejarlah kesuksesan diakhirat seolah-olah kita akan mati besok. Yang dengannya kita akan tawazun (seimbang) dalam mengejar kesuksesan, kesuksesan di dunia dan kesuksesan di akhirat.

Wallahu a’lam bishshawab

18 Juni 2009

Orang Yang Bangkrut

oleh: Addy Aba Salma

Dalam perjalanan hidup ini banyak sekali kesenangan dan juga kesusahannya. Diantara kesusahan itu adalah kebangkrutan yang dialami oleh orang yang menjalankan usaha, berdagang misalnya. Ada istilah TETUKO, mungkin sebagian dari kita sudah ada yang mengetahui khususnya orang Jawa, apa itu TETUKO. TETUKO adalah nama kecilnya tokoh pewayangan GATOT KACA si Otot Kawat Tulang Besi, dan pesawat produksi IPTN CN-235 pun dinamakan dengan nama TETUKO ketika masih berdirinya perusahaan itu di era Presiden Soeharto.

Apa hubungannya kebangkrutan seorang pedagang dengan TETUKO? Hubungannya memang tidak ada, tetapi kalau dihubung-hubungkan ya nyambung juga. Karena ada yang mengartikan TETUKO itu ”sing TEko ora TUku-tuku, sing tuku ora teKO-teko” yang kalau diterjemahkan bahasa Jawa itu kedalam bahasa Indonesia adalah: ”yang datang tidak beli-beli, yang beli tidak datang-datang”.

Kalau kalimat tersebut disematkan kepada seorang pedagang apa yang bisa kita pahami? Yang bisa kita pahami adalah pedagang itu sedang mengalami awal dari KEBANGKRUTAN. Karena yang datang tidak beli-beli, yang beli tidak datang-datang lama-lama usaha yang dijalankannya akan BANGKRUT.

Banyak faktor sebenarnya yang menyebabkan seorang pedagang menjadi BANGKRUT. Diantaranya karena TETUKO tersebut, ia harus menjual murah tak ada untung barang dagangan sisa usahanya untuk menutupi hutang kepada agen dan ditambah lagi ia harus membayar uang sewa tempat usaha bulan terakhir.

Itu adalah sedikit gambaran orang yang BANGKRUT, dan kita memandangnya memang seperti itu. Sahabat Rasulullah juga memandang orang yang BANGKRUT itu adalah orang yang tidak mempunyai uang (dirham) dan sesuatu benda apapun. Tetapi Rasulullah SAW menyebut orang yang BANGKRUT itu tidaklah seperti apa yang kita pahami. Orang yang BANGKRUT menurut Rasulullah SAW adalah seperti apa yang diberitakan dalam hadist dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

"Adakah engkau semua tahu, siapakah orang yang pailit (bangkrut) itu?" Para sahabat menjawab: "Orang pailit (bangkrut) di kalangan kita ialah orang yang sudah tidak memiliki lagi se-dirham-pun atau sesuatu benda apapun." Beliau Rasulullah SAW lalu bersabda: "Orang yang pailit (bangkrut) dari kalangan ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi kedatangannya itu dahulunya -ketika di dunia- pernah mencaci maki si Anu, mendakwa serong kepada si Anu, makan harta si Anu, mengalirkan darah si Anu -tanpa dasar kebenaran-, pernah memukul si Anu. Maka orang yang dianiaya itu diberikan kebaikan orang tadi dan yang lainpun diberi kebaikannya pula, Jikalau kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan penganiayaannya, maka diambillah dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang dianiayanya itu lalu dibebankan kepada orang tersebut, selanjutnya orang itu dilemparkanlah ke dalam neraka." (HR. Muslim)

Begitulah yang sampaikan oleh Rasulullah SAW, orang yang BANGKRUT itu adalah orang yang intinya adalah orang yang ketika didunia ia shalat, puasa dan membayar zakat tetapi pernah menganiaya orang lain. Dan karena aniayanya itu semua amal kebaikannya ketika di dunia akan habis, modal amal kebaikan yang dibawanya tidak bersisa untuk membayar kepada orang yang dianiayanya ketika di dunia. Ketika habis semua modal pahala itu masih juga dilimpahkan dosa dari orang-orang yang lainnya yang dianiayanya. Yang pada akhirnya orang tersebut dimasukkan kedalam neraka. Sebuah kesusahan yang tak lagi bisa disesalkan.

Semoga kita dilindungi oleh Allah SWT untuk tidak berlaku aniaya terhadap sesama. Terlindung dari apa yang disebutkan dalam hadist tersebut dan bentuk-bentuk aniaya lainnya. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung ketika di dunia ini dan di akhirat kelak. Amiin...

Walahu a’lam bishshawab

13 Juni 2009

Agar Kita Selamat Dalam Perjalanan

oleh: Addy aba Salma

Mana yang kita pilih seandainya kita boleh memilih, antara berjalan di jalan yang tak berduri atau berjalan di jalan yang berduri. Tentunya kita akan memilih jalan yang tak berduri. Karena kita akan lancar tak menemui aral dalam menempuh tujuan perjalanan kita.

Tetapi sayang kita tidak bisa memilih. Jalan yang kita lewati itu hanya ada satu pilihan yaitu jalan yang berduri. Kita dituntut bersungguh-sungguh untuk berhati-hati dalam melewati jalan itu. Jangan sampai ketika kita melewati jalan itu kita terkena duri yang ada. Kita harus mengetahui seperti apa duri-duri itu, tabiat dari duri itu, supaya kita bisa mudah menghindarinya. Dan ketika kita terkena duri itu kita tahu cara mengobatinya. Dengan cara apa supaya kita tidak lagi terkena duri itu dalam perjalanan berikutnya. Supaya perjalanan kita bisa sampai ke tujuan dengan selamat.

Ketahuilah duri-duri itu adalah godaan-godaan syetan yang memiliki tabiat senantiasa mengajak kita selalu untuk berbuat maksiat kepada Allah SWT. Bacalah do’a minimal ta’awudz ”A’udzubillaahi minasysyaithaanirrajiim” (aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk) memohon kepada Allah SWT untuk dilindungi dari godaan syetan, dan berusahalah untuk tidak terbujuk olehnya.

Tetapi terkadang sering sekali kita lengah dari godaannya. Kita terlena dalam rayuannya, yang akhirnya duri itu terinjak oleh kita. Duri itu memang tak membuat rasa sakit pada diri kita, tetapi kelak ketika kita sampai pada akhir perjalanan kita, setelah itu barulah duri itu akan sangat terasa pedih.

Sadarilah dan bersegeralah memohon ampun bertaubat kepada Allah SWT untuk mengobatinya, jangan dibiarkan duri itu terus melekat pada diri kita. Selain itu yang tepenting adalah nikmat iman dan taqwa yang ada dalam diri kita haruslah terus terpelihara, karena dengan cara inilah kita bisa benar dalam menghindari duri-duri yang ada. Dengan bekal iman dan taqwa itu kita akan selamat dalam mengarungi jalan kehidupan di dunia yang fana ini. Kehidupan yang bagaikan jalan yang berduri, kita harus berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk berhati-hati dalam melewatinya. Seperti dalam dialog tentang taqwa antara sahabat Umar bin Khattab ra. dengan Ubay bin Ka’ab.

Umar bin Khattab ra. bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa, lalu ia bertanya kepadanya: ”Apakah kamu pernah menempuh jalan berduri?”, Umar menjawab: “Pernah”. Ubay bin Ka’ab bertanya: “Apa yang kamu lakukan?”, Umar menjawab: “Aku berusaha keras dan bersungguh-sungguh”. Ubay bin Ka’ab berkata: “Itulah taqwa”.

Dari dialog tersebut Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an berkata: ”Itulah taqwa, kepekaan hati nurani, kebeningan perasaan, rasa takut yang terus-menerus, kehati-hatian yang langgeng, dan kewaspadaan terhadap duri-duri jalan...” (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Rabbani Press Buku 1 Hal.65)

Perjalanan yang sedang kita lalui ini memang harus melalui jalan yang berduri. Sebagai ujian keimanan dan ketaqwaan bagi kita. Bahkan para nabi dan rasul pun melewati jalan yang berduri itu. Hanya dengan bekal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT kita akan selamat dalam perjalanan. Karena dengan taqwa kita akan diberikan oleh Allah SWT Furqan, yang dengan itu kita akan dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana duri-duri jalan dan mana yang bukan. Karenanya kita akan waspada berhati-hati dalam melewatinya.

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Qs. Al-Anfaal:29)

Dengan taqwa itu juga Allah SWT akan menjadikan untuk kita cahaya, yang dengan cahaya itu dapat membantu kita melihat duri-duri jalan, jangan sampai kita terkena dan menginjaknya.

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hadiid:28)

Tentunya agar kita selamat dalam perjalanan menuju ke tempat hidup kita yang abadi, tidak ada pilihan selain beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Mulailah untuk memeihara iman dan taqwa itu agar lestari sampai datang hari yang pasti, hari dimana perjalanan kita akan berakhir.

Wallahu a’lam bishshawab

04 Juni 2009

Dalam Urusan Melihat Dunia Dan Urusan Melihat Akhirat

oleh: Addy Aba Salma

Dalam urusan dunia kita seharusnya melihat kebawah maka kita akan senantiasa bersyukur akan nikmat Allah yang diberikannya kepada kita saat ini. Ketika dalam urusan dunia ini kita melihat keatas maka kita akan sulit untuk mensyukuri nikmat, yang ada kita akan selalu merasa kurang dan kurang. Tetangga kita beli motor baru keluaran terbaru, jidat di kepala kita tempel dengan satu tempel koyo karena kita kepusingan sendiri melihat tetangga yang baru saja membeli motor. Apalagi tetangga kita beli kendaraan roda empat, mungkin tempel koyo yang nempel dijidat kita 2 atau 3 buah, karena adanya iri dan dengki dan ditambah kepusingan sendiri melihat tetangga kita yang beli mobil baru itu. Capek deh...

Kita syukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita saat ini. Kalau saat ini Allah baru memberikan nikmat kepada kita sebuah motor keluaran tahun 2000 syukuri nikmat itu. Coba kita lihat kebawah, masih banyak mereka yang memiliki motor keluaran tahun 1990 atau masih banyak juga mereka yang belum memiliki motor tapi hanya memiliki sepeda ontel dan masih banyak juga yang tidak memiliki motor ataupun sepeda ontel. Oleh karenanya ketika kita dalam urusan dunia melihat kebawah maka kita akan senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita saat ini. Dan Allah akan menambahkan nikmat kepada orang-orang yang senantiasa bersyukur akan nikmat-Nya. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Qs. Ibrahim:7)

Dalam urusan akhirat sejatinya kita harus melihat keatas. Dalam urusan akhirat ini tidak lepas dari urusan ibadah kepada Allah SWT. Kita akan merasa kurang dan kurang dalam beribadah kepada Allah SWT jika kita melihat keatas. Kita harus melihat orang-orang sholeh beribadah, mereka yang rajin, tekun dan semangat dalam beribadah.

Selama ini mungkin kita merasa sudah cukup dengan melakukan shalat 5 waktu tanpa menambahkan jenis ibadah ibadah lainnya. Mereka berkata “masih mending gue shalat, noh masih banyak yang nggak shalat…”, “aduh… baca Al-Qur’an? nggak sempet neh… tapi khan gue shalat 5 waktu, cukup shalat dulu aje deh…” bahkan ada yang parah lagi, ada sebagian dimasyarakat kita mereka berpuasa pada saat bulan ramadhan tetapi shalatnya masih bolong, ini terjadi karena kita melihat kebawah dalam urusan akhirat, karenanya kita merasa cukup dengan ibadah yang telah kita lakukan, padahal masih banyak amaliah-amaliah yang belum kita kerjakan. Fastabiqul Khairat ajakan Allah di dalam Al Qur’an (Qs Al Baqarah:148, Al Maidah:48) yang dengan itu kita disuruh berlomba-lomba dalam kebenaran, dalam berbuat kebajikan, dalam beramal sholeh, dalam beribadah kepada-Nya.

Kita harus merubah cara pandang dalam urusan dunia dan cara pandang dalam urusan akhirat kita selama ini. Dalam urusan dunia lihatlah kebawah dan dalam urusan akhirat lihatlah keatas. Yang dengan itu adalah supaya kita senantiasa dapat mensyukuri nikmat-Nya dan memotivasi kita untuk meningkatkan amal ibadah kepada Allah SWT.

Bukankah kita senantiasa membaca dan mengaminkan doa yang sudah kita hafal tentunya sedari kecil, baca dan perhatikanlah baik-baik doa ini:

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (Qs. Al Baqarah : 201)

Segala apa yang diberikan oleh Allah SWT. kepada orang yang beriman didunia adalah suatu kebaikan, baik itu ujian yang berupa kenikmatan dan ujian yang berupa musibah. Sungguh indah urusan orang-orang beriman itu di dunia, ketika Allah memberikan ujian kenikmatan ia senantiasa bersyukur dan itulah pilihan yang ada kebaikan didalamnya dan ketika Allah memberikan ujian musibah maka ia bersabar, dan itu juga pilihan yang ada kebaikan didalamnya, “berilah kami kebaikan di dunia”.

Ibadah yang dilakukan oleh orang yang beriman didunia adalah untuk bekal dikehidupan yang abadi yaitu akhirat. Surga adalah kebaikan di akhirat yang hanya diperuntukkan oleh Allah untuk hamba-hambanya yang senantiasa meningkatkan amal ibadah dan beramal sholeh ketika di dunia, "berilah kami kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".

Wallahu a’lam bishshawab

25 Mei 2009

Dari Nitraria Retusa Sampai Sholat Subuh

oleh: Addy Aba Salma

Menghadapi dampak global warming yang sangat terasa dengan suhu udara yang menjadi sangat panas, Indonesia diakhir tahun 2007 awal tahun 2008 kemarin mencanangkan penanaman sejuta pohon. Penanaman sejuta pohon ini menjadi program pemerintah RI yang intruksinya datang langsung dari Presiden SBY. Hampir disetiap lahan luas yang masih kosong digalakkan untuk ditanami pohon. Area Bandara Soekarno Hatta pun tidak ketinggalan ikut serta dalam menghadapi issue global warming tersebut dengan menanami lahan-lahan yang masih kosong untuk ditanami macam-macam tanaman yang dapat tumbuh besar dan dapat menghijaukan lingkungan.

Penanaman sejuta pohon juga terjadi di israel, negara yang sebenarnya tidak punya tanah. Negara ini ada karena menjajah bangsa Palestina semenjak tahun 1948 silam. Yang sebenarnya ada di peta dengan nama negara israel itu tidak lain adalah tanah Bangsa Palestina tempat lahirnya para Nabi negeri yang diberakhi, tempat dimana Masjidil Aqsa berada, persinggahan Nabi Muhammad SAW ketika dalam peristiwa Isra’ wal Mi’raj.

”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Isra’:1)

Penanaman pohon yang dilakukan di israel bukan untuk menghadapi issue global warming tetapi dalam rangka menghadapi sesuatu yang pasti terjadi yaitu peperangan yang dilakakukan umat Islam terhadap kaum yahudi yang akan terjadi diakhir zaman nanti. Pohon yang ditanam oleh orang-orang yahudi di israel yaitu pohon NITRARIA RETUSA nama latin dari pohon GHORQOD. Orang-orang yahudi telah melakukan penanaman pohon Ghorqod (NitrarIa Retusa) ini sejak lama karena memang dianjurkan untuk secara aktif menanam pohon jenis ini di wilayah pendudukan israel di tanah Palestina. Website Jewish National Fund (jnf.org) diakhir tahun 2007 telah mengumumkan bahwa di tanah Palestina yang dikuasai zionis-israel telah ditanami tak kurang dari 220 juta batang pohon Ghorqod. (eramuslim.com) Jumlah yang tidak sedikit dan hari ini pastinya sudah lebih dari angka 220 juta batang pohon Ghorqod.

Ada apa dengan orang-orang yahudi itu, sampai-sampai mereka melakukan aksi penanaman berjuta-juta pohon Ghorqod? Tidak lain karena mereka ternyata MENYAKINI perkataan yang diucap oleh manusia yang selama hidupnya tidak pernah berkata dusta walau sekalipun, yaitu perkataan Rasulullah Muhammad SAW. Yang tidak lain perkataan itu yang terdapat di dalam salah satu Hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon Ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi.” (HR. Bukhari Muslim)

Kalau orang-orang yahudi itu sangatlah menyakini sabda Nabi Muhammad SAW yang jelas-jelas bukan Nabinya mereka, bagaimana dengan kita yang jelas-jelas sebagai umat Islam, umatnya Nabi Muhammad SAW?

Satu hadist lagi yang diayakini oleh zionis-israel yaitu hadist tentang keutamaan shalat subuh berjama’ah. Sampai-sampai ada salah Seorang penguasa yahudi pernah menyatakan bahwa mereka tidak akan takut terhadap orang Islam, kecuali pada satu hal, yaitu bila jumlah jama’ah sholat subuh mencapai jumlah jama’ah sholat jum’at. (hudzaifah.org)

“Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung didalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Orang yahudi itu menilai dari hadist tersebut jika masih banyaknya umat Islam yang lalai dalam melaksanakan sholat subuh berjamaah ke Masjid berarti kemenangan akan jauh dari umat Islam. Karena kemenangan akan hanya di raih ketika umat Islam jauh dari kemunafikan.

...Assholatu khairum minannaum...

Muhassabah khusus buat saya pribadi dan kita semua, sudahkah kita menjadi satu diantara umat Islam yang senantiasa mendatangi Masjid untuk berjamaah Sholat Subuh?

Wallahua’lam bishshawab

22 Mei 2009

Medex Ruhiyah

oleh: Addy Aba Salma

MEDEX (MEDical EXamination) biasanya dilakukan untuk mengetahui apa saja dari fisik (jasadiyah) kita mana yang sehat dan mana yang sakit. Setelah pemeriksaan berjalan maka kita akan mendapatkan hasil dari pemeriksaan tersebut yang berupa angka-angka untuk setiap jenis penyakit. Yang dinyatakan sehat adalah angka-angka yang tertera di lembar hasil MEDEX jangan melebihi dari maksimal angka yang distandarkan untuk suatu jenis penyakit. Kalau angka dari hasil MEDEX melebihi angka yang di standarkan berarti kita terindikasi memiliki penyakit itu. Yang dengan hasil itu kita dapat tindak lanjuti untuk senantiasa menjaga kesehatan kita jangan sampai apa yang telah kita ketahui jenis penyakit yang terindikasi itu menjadi penyakit yang akut.

Kita harus menjaga makanan yang kita makan, tidak boleh berlebih kadar kolesterolnya, tidak boleh makan ini, tidak boleh makan itu, harus mengkonsumsi vitamin ini, minum obat itu dan seterusnya plus harus berolahraga sesuai apa yang disarankan oleh dokter. Kita akan mematuhinya karena memang kita ingin fisik (jasadiyah) kita sehat. Memang nikmat sehat itu mahal. Karena tidak sedikit orang yang ketika terkena suatu penyakit dan perlu dirawat dirumah sakit serta perawatan dokter secara intensif, dapat menghabiskan biaya dengan jumlah yang tidak sedikit. Oleh karenanya itu banyak orang yang tidak ingin sebenarnya dirinya sakit, mereka ingin sehat karena sehat itu mahal. Dan kita yang diberi nikmat kesehatan, senantiasalah kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah meberikan nikmat sehat itu kepada kita, Alhamdulillahirabbil’alamin - segala puji hanya milik Allah tuhan semesta alam. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya.

Kalau MEDEX yang untuk fisik (jasadiyah) saja kita lakukan pernahkah kita coba untuk MEDEX RUHIYAH, karena manusia memiliki dua unsur yaitu jasad dan ruh. Medex Ruhiyah adalah pemeriksaan untuk mengetahui apakah ruhiyah kita dalam keadaan sehat atau sebaliknya ruhiyah kita sedang mengalami sakit. Lakukan Medex Ruhiyah ini dengan Muhasabah, obati dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, menuntut ilmu dan berteman dengan orang-orang yang shalih.

Muhasabah
Apa yang bisa kita lakukan untuk MEDEX RUHIYAH ini, sederhana sekali seperti yang saya sebutkan diatas, lakukan dengan MUHASABAH. Muhasabah berasal dari kata hasiba-yashabu yang artinya menghisab atau menghitung. Dengan kata lain kita mencoba interopeksi atau evaluasi diri kita. Khalifah Umar bin Khatab ra. pernah memberikan tausyiahnya kepada sahabat yang lainnya “Hisablah diri kalian sebelum kalian di hisab”, maksudnya hitunglah amal apa yang sudah anda lakukan sebelum kalian di hitung di akhirat kelak yaitu di yaumul hisab. Dan Allah SWT juga memerintahkan kepada orang yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dan memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, apakah sudah cukup kita berbekal untuk akherat kelak, firman-Nya di dalam Al Qur’an “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al Hasyr:18)

Dan Rasulullah SAW dalam satu hadistnya menyebutkan orang-orang yang senantiasa mengevaluasi dirinya dalam orientasi akhirat adalah mereka orang-orang yang cerdas, “Orang yang cerdas (Al-Kayyis) adalah mereka yang selalu mengevaluasi (aktifitas) dirinya dan beraktivitas demi orientasi akhirat, (sedang) orang yang bodoh adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya dan berkhayal mendapatkan ridho Alloh (tanpa beramal sholih)” (HR. At Tirmidzi)

Dengan muhasabah kita akan mengetahui sejauh mana selama ini diri kita, sudahkah kita senantiasa beribadah kepada-Nya, atau selama ini kita dalam kemaksiatan dan selalu memperturutkan hawa nafsu. Ya, dengan muhasabah kita akan mengetahui jawabannya. Kalau kita dapati hasil dari muhasabah itu kita sudah dalam keta’atan kepada-Nya istiqamahlah, tingkatkan lagi amal ibadah kita dan jangan merasa cukup dengan amal yang sudah kita kerjakan. Seandainya kita mendapati diri kita jauh dari perintah Allah dan sering melakukan sesuatu yang dilarang-Nya berarti kita sedang mengalami sakit, sakit yang perlu segera diobati, tidak boleh tunggu nanti atau esok, harus segera detik ini juga. Istighfar kepada Allah dan bertaubat dan mulailah berbenah untuk mengobati ruhiyah kita yang sedang sakit itu. Tidak ada kata terlambat dalam mengobati ruhiyah kita yang sedang sakit, karena Allah SWT maha pengasih dan maha penyayang, maha pengampun dosa dan maha penerima taubat. Seperti yang difirmankan-Nya dalam Qs. At Taubah:118 yang artinya: “…Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Meningkatkan kualitas iman dan taqwa
Tingkatkan keimanan kita dengan senantiasa mencoba melakukan ibadah-ibadah yang kita sanggup untuk mengerjakannya. Karena iman akan bertambah ketika kita dalam keta’atan kepada-Nya yang berarti juga ruhiyah sedang dalam keadaan sehat dan sebaliknya iman kita akan berkurang ketika kita berada dalam kemaksiatan kepada Allah yang dengan itu berarti ruhiyah kita sedang mengalami sakit. Oleh karena itu taqwa dalam diri juga harus kita tingkatkan yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhkan larangan-Nya. Definisi taqwa lainnya adalah mencegah diri dari adzab Allah dengan berbuat amal sholeh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan. Ada lagi definisi taqwa menurut sahabat, dalam satu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab ra. pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay ra. menjawab, ”Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh dengan duri?”, “Ya” jawab Umar, Ubay kembali bertanya “Apa yang anda lakukan saat itu?”, “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan sangat hati-hati” jawab Umar, “Itulah taqwa” Ubay menegaskan. Itulah definisi taqwa menurut Ubay bin Ka’ab berdasar dari jawaban Umar ra, kehati-hatian kita ketika kita melewati jalanan yang penuh dengan duri, jangan sampai kita menginjaknya. Dan orang yang bertaqwa akan dimuliakan oleh Allah SWT di sisi-Nya. Qs Al Hujurat:13 “… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Menuntut ilmu
Menuntut ilmu adalah kewajiban. Kewajiban menuntut ilmu pernah di sampaikan Rasulullah SAW dalam salah satu hadistnya yang terkenal, Rasulullah bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Thabrani). Ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra” yang berarti bacalah (Qs. Al Alaq:1). Dengan menuntut ilmu yang tadinya kita bodoh akan menjadi berilmu. Yang dengan ilmu itulah modal kita untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan menuntut ilmu kita mengetahui bagaimana cara kita berwudhu, bagaiman cara kita shalat, shalat itu lebih baik berjamaah dari pada sendiri dan seterusnya. Dan Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan, itu janji-Nya di dalam Al Qur’an “… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Qs. Al Mujadilah:11). Banyak cara untuk kita menuntut ilmu, dengan menghadiri majelis-majelis ilmu baik dilingkungan rumah kita atau di kantor tempat kita bekerja, dengan cara membaca buku keislaman, melalui ceramah-ceramah agama di radio dan di televisi dan ditempat sarana-sarana menuntut ilmu lainnya.

Berteman dengan orang shalih
Orang-orang shalih yang ada di sekitar kita bertemanlah kepada mereka. Kenapa kita harus berteman kepada mereka, yang pertama karena orang yang shalih senantiasa dalam hidupnya selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang kedua orang yang shalih senantiasa nasihat-menasihati dan senantiasa mengajak untuk berbuat amal shalih dan yang ketiga supaya ke shalihannya juga melekat pada diri kita.

Orang-orang shalih senantiasa dalam hidupnya selalu mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, senantiasa tercurahkan rahmat-Nya dan terlihat ketenangan pada wajah mereka. Yang dengan itu ketika kita berteman dengan mereka maka kita akan juga merasakan ketenangan. Rasulullah bersabda “Tidaklah suatu kaum duduk mengingat Allah Ta’ala kecuali para Malaikat akan mengelilingi mereka dan mereka akan diliputi oleh rahmat Allah serta akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan Allah akan memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya“ (HR.Muslim)

Orang-orang shalih selalu nasihat-menasihati dan senantiasa mengajak untuk bersama berbuat amal shalih, yang ketika kita berteman dengan mereka kita akan mendapatkan nasihat-nasihat yang baik dan mengajak kita untuk berbuat kebaikan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Qs. Fushshilat:33)

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(Qs. Al Ashr:1-3)

Keshalih an orang-orang yang shalih ketika kita berteman dengan mereka, lambat laun akan melekat juga keshalihan pada diri kita. Oleh karenanya lingkungan memang sangat berperan terhadap perubahan diri seseorang. Ketika lingkungan kita shalih maka kita juga akan menjadi shalih. Rasulullah bersabda "Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk seperti pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Si pembawa minyak wangi mungkin ia akan menghadiahkannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau paling tidak kamu dapat mencium aroma semerbak wangi darinya. Adapun si pandai besi mungkin api akan membakar bajumu atau paling tidak kamu akan mencium bau tidak sedap darinya”. (HR. Bukhaari Muslim)

Sedikit ilmu dalam tulisan ini khusus ditujukan kepada saya pribadi hamba yang dhaif, segala apa yang tersampaikan benar dalam tulisan ini datangnya dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepada kita semua dan selalu menuntun kita tetap berada di Jalan-Nya. Amin.

Wallahu a’lam bishshawab

14 Mei 2009

Cahaya Itu Jangan Dibiarkan Meredup

oleh: Addy Aba Salma

Semut-semut kecil... saya mau tanya... apakah kamu didalam tanah... tidak kegelapan... ini adalah penggalan bait sebuah lagu anak-anak, namanye juga anak-anak iseng aje nanya-nanyain semut. Tapi ada benarnya juga bertanya, dengan bantuan apa koloni semut itu dalam beraktivitas di bawah rongga-rongga tanah? yang kita tahu pastinya disana memang gelap, tidak ada cahaya tembus menerangi. Karena dalam sudut pandang manusia dalam beraktivitas kita memerlukan cahaya dalam membantu mata kita dapat melihat. Ketika siang kita dibantu cahaya mentari, ketika malam kita dibantu cahaya rembulan. Lain manusia lain juga dengan semut, Allah SWT menciptakan semut yang tinggalnya di dalam rongga-rongga tanah yang sarat dengan kegelapan tetapi semut masih bisa beraktivitas dalam kegelapannya itu. Itulah kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Karena sangat perlunya cahaya, akhirnya manusia berfikir bagaimana kalau cahaya matahari dan rembulan itu tidak bisa maksimal dalam membantu mata kita untuk melihat karena cahayanya terhalang atap atau sekat sebuah bangunan. Maka digunakanlah api untuk menerangi, dari dengan cara membuat obor, api unggun, lampu tempel sampai lilin khususnya untuk dimalam hari. Kemudian akhirnya biidznillah manusia menemukan bola lampu, yang sampai saat ini sangatlah berguna bagi kita untuk membantu beraktivitas dalam ruang yang terhalang dari cahaya sinar mentari dan rembulan.

Cahaya mentari, rembulan, obor, lampu tempel, lilin sampai bola lampu itu memang sangatlah diperlukan oleh kita manusia untuk membantu dalam menjalani aktivitas di dunia ini. Cobalah kita berjalan di dalam gelap, tentunya kita tidak akan bisa kecuali kita mendapati cahaya walaupun hanya sedikit. Bersyukurlah kita akan nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita, nikmat mata yang dapat melihat dan nikmat cahaya yang dapat menerangi.

Kita manusia memerlukan cahaya bukan hanya untuk berjalan ketika di dunia, tetapi kita juga amat sangatlah perlu cahaya untuk perjalanan kita menuju ke akhirat. Apa jadinya ketika dalam perjalanan kita menuju akhirat tempat kita hidup untuk selama-lamanya kelak, tidak ada cahaya yang menerangi. Pastinya kita tidak ingin kita tersesat dalam sepanjang perjalanannya, tersesat ke tempat dimana kita tidak menginginkannya.

Hanya ada dua tujuan perjalanan kita menuju akhirat, Syurga dan Neraka. Cahaya akan menuntun kita ketempat yang kita sama-sama inginkan yaitu Syurga. Karena dengan cahaya kita bisa melihat jalan menuju ke sana. Tetapi ketika kita tidak mendapatkan dan jauh dari cahaya itu maka kita akan tersesat menuju Neraka.

”Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Hadid:28)

Cahaya itu jangan dibiarkan meredup, meredup dengan banyaknya kemaksiatan yang kita lakukan. Meredup bersamaan dengan lemahnya keimanan kita yang ketika dibiarkan semakin turun kualitasnya. Ketahuilah Keimanan kita itu kadang naik dan kadang turun, Imam Al Ghazali menerangkan bahwa keimanan kita naik ketika kita dalam keta’atan kepada-Nya, dan keimanan kita turun ketika kita asyik terlena dengan kemaksiatan kepada-Nya.

Kembalilah kita kepada sumber cahaya itu yaitu Al Qur’an, dan berdoalah kepada Allah SWT untuk senantiasa diberikan kesempurnaan cahaya pada diri kita dan memohon ampun kepada-Nya. Mumpung kita masih diberi waktu.

”Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. As Syuura:52)

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs. At-tahrim:8)

Wallahu a’lam bishshawab