aku, diantara yang berjalan di atas punggung bumi, untuk terus BELAJAR

-Addy Aba Salma-

Tampilkan postingan dengan label Termuat di WarnaIslam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Termuat di WarnaIslam. Tampilkan semua postingan

24 September 2009

Ruhiyah Yang Ternuansakan Ramadhan


oleh: Addy Aba Salma

Ramadhan bulan Mulia itu telah berlalu, tak terasa kita lewati yang dalam setiap waktunya penuh dengan keberkahan. Ada yang melewatinya, menjalaninya dengan kedahsyatan ibadah yang tak terlakukan di bulan-bulan selain Ramadhan. Amaliah-amaliah ibadah Ramadhan itu semua dicoba untuk dikerjakan. Dari mulai puasa, qiyamullail, tilawah Qur'an, memberi makanan berbuka, zakat infaq shadaqah, hingga itikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan, semua dapat dengan mudah untuk dikerjakan. Ya karena memang Ramadhan mempunyai daya tarik tersendiri, ada kekuatan yang dahsyat dalam bulan yang Mulia ini. Sehingga banyak orang berlomba-lomba dalam kebaikan Fastabiqul Khairat dalam meraih kemuliaan, keberkahan dan berjuta keutamaan-keutamaan Bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan yang telah terlewati kemarin adalah sebuah bulan pendidikan, Syahruttarbiyah. Kita mengisi setiap waktu-waktu didalamnya dengan amaliah-amaliah ibadah yang dilakukan dengan menghadirkan keikhlasan dan hanya mengharap keridhoaan dari Allah yang Maha Rahman. Didalam rangkaian amaliah-amaliah Ramadhan tersebut kita di didik untuk bisa menjadi seorang mukmin yang bertaqwa kepada Allah SWT untuk modal mengarungi kehidupan selepas Ramadhan. Karena dengan modal taqwa itu kita akan selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Kehidupan yang bagaikan jalan yang penuh dengan duri, kita harus berhati-hati dalam melewatinya. Itulah hakikat ketaqwaan yang pernah disampaikan oleh sahabat Umar bin Khattab ra. dalam suatu dialognya dengan sahabat Ubay bin Kaab ra. Umar bin Khattab ra. pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay ra. menjawab, ”Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh dengan duri?”, “Ya” jawab Umar, Ubay kembali bertanya “Apa yang anda lakukan saat itu?”, “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan sangat hati-hati” jawab Umar, “Itulah taqwa” Ubay menegaskan.

Taqwa adalah hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang telah lulus menjadi alumni Ramadhan, sukses dengan berbagai macam pendidikan yang ada di dalamnya, tarbiyah Ramadhan.

Kedahsyatan amaliah-amaliah Ramadhan tidak redup seketika bulan Syawal datang menyapa. Menyambut hari pertama Syawal dengan menggemakan Takbir, Tahlil dan Tahmid yang penuh makna dengan senantiasa melantunkan keindahan kalimatnya dengan syahdu yang menggetarkan qalbu ...Allahuakbar Allahuakbar Lailahaillallahu Wallahuakbar Allahuakbar Walillahilhamd... Dan hari Idul Fithri itu adalah hari Rayanya bagi mereka yang senantiasa mengisi Ramadhan dengan ketaatan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas dan hanya mengharap keridhoan-Nya. Tetap semangat dalam mengerjakan kedahsyatan amaliah-amaliah ibadah Ramadhan itu dalam bulan-bulan selepasnya. Mereka yang seperti itu adalah jiwa-jiwa yang ruhiyahnya ternuansakan Ramadhan. Yang dengan itu taqwa yang terraih akan senantiasa terjaga.

Kedahsyatan amaliah-amaliah Ramadhan itu tetap berlanjut. Rasulullah masih mengajarkan umatnya untuk mengisi bulan Syawal berpuasa, yaitu puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Dari Abu Ayyub ra. bahwasannya Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian diikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun”. (HR. Muslim).

Dan ada puasa sunah yang Rasulullah ajarkan juga kepada kita, yang Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan tidak pernah meninggalkannya, yaitu puasa sunah senin-kamis dan puasa sunah ayyamul bidh (puasa tanggal 13,14,15 setiap bulan Hijriyah).

Dari ‘Aisyah ra. berkata “Rasulullah SAW senantiasa bersungguh-sungguh dalam puasa senin-kamis”. (HR At-Tirmidzi)

Dari Abu Darda’ ra. berkata “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepada saya untuk sama sekali tidak meninggalkan tiga hal selama saya hidup yaitu: puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan supaya saya tidak tidur sebelum mengerjakan shalat witir”. (HR. Muslim)

Dari Qatadah bin Milhan ra. berkata “Rasulullah SAW menyuruh kami untuk puasa pada Ayyamul Bidh yakni tanggal 13, 14 dan 15” (HR Abu Daud)

Yang kalau kita jumlahkan jumlah puasa sunah dalam bulan Syawal ini lebih kurang 15 hari yang berarti separuh dari bulan Syawal dapat ternuansakan Ramadhan dengan puasa sunah (puasa sunah Syawal dikerjakan 6 hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fithri -menurut Syafi’iyah dan Hanafiyah ini yang lebih afdhal-). Begitupun dalam bulan-bulan sesudah Syawal, puasa senin-kamis, puasa ayyamul bidh, puasa arafah dan puasa sunah lainnya walaupun ibadah sunah senantiasa berusaha untuk mengerjakannya.

Begitu juga dengan tilawah Qur'an di bulan Ramadhan, setiap masjid terdengar orang membaca Al Qur’an, tadarus Qur’an bersama-sama jama’ah masjid. Bahkan dirumah-rumah juga terdengar lantunan bacaan ayat suci Al Qur’an. Mereka berusaha untuk dapat mengkhatamkan Al Qur’an dalam bulan Ramadhan walaupun hanya sekali, ada juga yang dapat mengkhatamkan Al Qur’an lebih dari sekali. Semoga kedahsyatan amaliah itu juga tidak redup seketika bulan Ramadhan berlalu. Tetapi masih bisa melakukannya, membacanya di bulan-bulan selepasnya. Karena tilawah Qur'an adalah ibadah yang paling utama umat Nabi Muhammad SAW, Rasulullah pernah bersabda “Ibadah ummatku yang paling utama adalah membaca Al-Qur'an." (HR. Baihaqi)

Membaca saja sudah menjadi keutamaan apalagi kita mempelajarinya dan mengajarkannya. Sebaik-baik manusia adalah sebutan yang disematkan Rasulullah SAW kepada mereka yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an, seperti yang pernah disabdakannya "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya".(HR. Bukhari)

Bagi yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an, terus berlatih untuk bisa lancar dalam membacanya dan dua pahala akan didapat untuk mereka yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata, “Seseorang yang membaca Al-Qur’an yang mahir dalam membacanya bersama malaikat yang diutus, yang mulia lagi senantiasa berbuat taat, dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)

Tilawah Qur’an dalam setiap huruf yang dibaca akan mendapat satu kebaikan, dan setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Kitab (Al Qur’an) maka ia mendapat satu kebaikan. Setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf”. (HR. At-Tirmidzi)

Minimal kita dapat mengkhatamkan Al Qur'an sekali dalam setiap bulannya. Yang dengan itu berarti pendidikan di bulan Ramadhan, tarbiyah yang dilakukan dalam Ramadhan kemarin berbekas pada diri kita. Bulan-bulan selepasnya kita coba usahakan ternuansakan Ramadhan dengan senantiasa tilawah Qur’an. Dan semoga di yaumul akhir kelak kita adalah golongan orang-orang yang mendapatkan syafaat dengan Al Qur’an karena kita senantiasa membacanya ketika di dunia.

“Bacalah al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi Syafaat kepada orang yang membacanya” (HR Muslim)

Begitu pula amaliah-amaliah ibadah lainnya seperti shalat berjamaah di masjid dan qiyamullail. Dalam bulan Ramadhan masjid penuh sampai melebihi kapasitas ruang shalat yang ada di dalam masjid dan masih banyak lagi yang harus shalat di teras masjid dan halaman luar masjid, Subhanallah… Dan mereka yang ruhiyahnya ternuansakan Ramadhan akan tetap menjalankan shalat-shalatnya senantiasa berjama’ah di masjid. Sungguh ada kekuatan dahsyat ketika kita senantiasa shalat berjama’ah di masjid selain ukhuwah diantara jama’ah juga banyak hadist berbicara pentingnya shalat secara berjama’ah.

”Shalat berjamaah itu lebih utama dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat”. (HR. Bukhari Muslim).

“Barangsiapa yang shalat Isya’ berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh.” (HR. Muslim)

Dalam Ramadhan kemarin masjid juga terisi penuh terpadati orang-orang yang ingin menjalankan shalat tarawih. Shalat tarawih adalah qiyamullail yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Berlalunya bulan Ramadhan bukan berarti kita berhenti melakukan qiyamullail, tetapi tetaplah kita ternuansakan Ramadhan di malam-malam hari diluar bulan Ramadhan dengan qiyamullail.

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah Puasa pada bulan Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat pada waktu malam”. (HR. Muslim)

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (Qs. Al Israa' : 79)

Dan sederet amaliah-amaliah ibadah lainnya yang kita kerjakan di Ramadhan kemarin, di luar Ramadhan pun kita tetap mengerjakannya. Kita jadikan bulan-bulan di luar Ramadhan ternuansakan Ramadhan dengan kita tetap mengerjakan amaliah-amaliah ibadah tersebut. Mengerjakannya dengan istimrariyyah atau terus-menerus walaupun sedikit, dan yang seperti itulah amalan yang disukai oleh Allah SWT. Bertanya Aisyah ra. "Amalan apa yang paling disukai Allah Ta’ala” Jawab Rasulullah “Amalan yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit”. (HR. Bukhari)

Dahsyatkan amaliah ibadah kita dengan melakukannya dengan istimrariyyah, terus-menerus, kontinyu walaupun sedikit. Semoga dengan itu dalam hari-hari diluar bulan Ramadhan yang telah berlalu ruhiyah kita tetap ternuansakan Ramadhan. Semoga keistiqamahan kita dalam mengerjakan amaliah-amaliah ibadah tersebut diberikan pahala yang lebih baik dan ganjaran berupa kehidupan yang baik, kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal ‘Alamin…

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl : 97)

Wallahu a’lam bishshawab

20 September 2009

Kumandang Adzan Maghrib Satu Syawwal


oleh: Addy Aba Salma

kumandang adzan maghrib satu syawwal
akhir dari satu diantara dua kebahagiaan
kebahagiaan bagi mereka perindu syurga
kebahagiaan berjumpa waktu berbuka

ya Allah, kebahagiaan berjumpa dengan-Mu adalah kebahagiaan yang kunanti

kumandang adzan maghrib satu syawwal
akhir dari bulan penuh kemuliaan
kemuliaan bagi mereka perindu syurga
kemuliaan yang tiada dibulan-bulan selepasnya

ya Allah, kemuliaan di dunia dan juga akhirat semoga kumiliki

kumandang adzan maghrib satu syawwal
akhir dari bulan yang datangnya dirindukan
dirindukan bagi mereka perindu syurga
dirindukan dalam setiap lantunan indah do'a-do'a

ya Allah, semoga Engkau pertemukan aku dengan ramadhan kembali

kumandang adzan maghrib satu syawwal
awal dari sebuah makna kemenangan
kemenangan bagi mereka alumni ramadhan sejati
kemenangan yang senantiasa terharap dalam hati

ya Allah, nikmat hari kemenangan itu telah teranugrahkan dan kurasakan kini

kumandang adzan maghrib satu syawwal
awal dari jiwa yang menjadi fithri
fithri bagi mereka alumni ramadhan sejati
fithri yang tersibghah ketaqwaan rabbani

ya Allah, istiqamahkan aku selalu dalam menjaga fithri yang terraih ini

kumandang adzan maghrib satu syawwal
awal dari jalan panjang dalam menjalani kehidupan
kehidupan bagi mereka alumni ramadhan sejati
kehidupan yang ternuansakan ramadhan abadi

ya Allah, akan berusaha kucoba hadirkan ramadhan itu dalam mengisi hari

10 September 2009

Sepuluh Hari Terakhirnya Begitu Kita Rindukan


oleh: Addy Aba Salma

Banyak umat islam di bulan Ramadhan ini merasa berat melakukan macam-macam ibadah selain puasa dan shalat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu-waktu di dalam bulan yang penuh keberkahan ini. Merasa berat karena mungkin melihat jumlah hari dalam sebulan Ramadhan yang berjumlah 29 atau 30 hari tersebut. Dalam sebulan penuh kita harus berpuasa ditambah shalat, tilawah qur’an, shadaqah, itikaf, qiyamul lail dll. Padahal jumlah sebulan dalam bulan Ramadhan yang cuma 30 hari tersebut, jika dibandingkan dengan jumlah hari dalam setahun 365 hari dalam hitungan Masehi atau lebih kurang 355 hari dalam hitungan Hijriah, 30 hari Ramadhan tidaklah begitu berat untuk dijalankan.

30 hari kita maksimalkan untuk senantiasa dalam ketaatan dengan beribadah kepada-Nya, untuk mencoba menghapus dosa selama 325 hari yang mungkin kita masih banyak lalai, khilaf dan lupa kepada yang telah menciptakan kita, yang telah menghidupkan kita, yang telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita dan yang akan mematikan kita jika memang sudah waktunya kita kembali kepada-Nya, Dialah Allah SWT Rabbul ‘Alamin Tuhan Semesta Alam.

Kalaulah memang kita merasa “berat” dalam menjalani rutinitas ibadah Ramadhan ketahuilah bahwa Allah menjanjikan ganjaran pahala yang “berat” pula dan berlipat dari apa yang telah kita kerjakan dari rutinitas ibadah yang kita merasa “berat” itu. Subhanallah.

Ramadhan berasal dari kata “Ramadh” yang berarti panas yang amat sangat terik. “Ramadh” sangat dibutuhkan oleh pohon kurma untuk membantu dalam proses pertumbuhan buah kurma menjadi masak. Ramadhan adalah bulan dimana orang beriman sangatlah membutuhkannya untuk sarana ibadah, sarana pembinaan, sarana muhasabah untuk kemudian selepas bulan Ramadhan kita akan menjadi orang-orang beriman yang “masak” dalam artian orang-orang beriman yang bertaqwa. Seperti apa yang di firmankan Allah SWT di dalam Al-Qur’an ayat perintah puasa yang kita semua sama-sama sudah hafal, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Qs Al-Baqarah:183)

Di dalam sepuluh terakhir Ramadhan bulan yang Mulia ini Allah SWT menyimpan Lailatul Qadr malam yang senilai seribu bulan. Kita disuruh untuk mencarinya dimalam-malam yang ganjil, malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, ke-29, terutama sekali di malam ke-27 seperti yang disabdahkan oleh Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang ingin berjaga-jaga dan bertemu dengan Lailatul Qadr, maka berjaga-jagalah pada malam ke dua puluh tujuh” (HR. Ahmad)

Sungguh dahsyat ganjaran yang Allah SWT janjikan, seribu bulan yang kalau dikonversikan kedalam tahun sekitar 83 tahun 4 bulan, “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (Qs. Al Qadr:2-3). Rata-rata umur kita sekitar 60 tahunan, sedikit yang bisa mencapai umur sampai 80 tahun apalagi 100 tahun kalaulah ada dapatlah dihitung dengan jari. Jika kita mendapatkan malam kemuliaan itu (insya Allah) berarti ganjaran yang Allah berikan kepada kita melebihi dari umur kita yang sekarang ini. Umur yang lebih banyak maksiatnya daripada ketaatannya dan mungkin sedikit sekali ketaatan dalam beribadah yang diterima oleh Allah SWT. Oleh karenanya seribu bulan yang dijanjikan oleh Allah itu jangan sampai terlewatkan oleh kita. Raih dengan mengharap keridhoan-Nya, tanamkan keikhlasan di hati.

Dan Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa orang-orang yang shalat pada malam yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan itu Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu, “Barangsiapa yang mendirikan sholat pada Lailatul Qadr (malam Qadr) dengan keimanan dan mengharap keridhoan-Nya, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari Muslim)

Tetapi sangat sedikit yang mencoba mencari dan meraih malam Lailatul Qadr itu. Mencari dan meraihnya dengan beri’tikaf didalam masjid. Dengan memaksimalkan sisa hari dan waktu di dalam bulan Ramadhan ini yang tersisa untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, menyibukkan diri dalam ketaatan pada-Nya dengan tilawatul qur’an, qiyamul lail dan amaliah-amaliah yang lainnya. Kebanyakan dari kita di sepuluh terakhir Ramadhan sibuk dengan mudik lebaran, sibuk dengan pergi ke mall untuk belanja baju baru, sibuk dengan memadati meja tamu dengan toples-toples kue beraneka rasa, sibuk dengan memenuhi lemari es dirumah dengan bermacam minuman dan makanan untuk persiapan hari lebaran, yang belum tentu hari lebaran itu dapat kita rasakan karena kita tidak bisa mengetahui pastinya apakah besok hari Allah SWT masih memberikan umur panjang kepada kita semua.

Ramadhan adalah anugrah terindah yang Allah SWT berikan kepada kita, Allah masih sayang kepada kita, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa merasakan kembali nikmatnya beribadah dalam Ramadhan tahun ini. Jangan sia-siakan waktunya terbuang percuma. Semoga Allah SWT memberikan kita nikmat umur panjang hingga kita dapat merasakan sebulan penuh Ramadhan. Sepuluh hari terakhirnya begitu kita rindukan, semoga seribu bulan itu terlabuh pada diri-diri kita dan kelak di akhirat kita bisa memasuki syurga-Nya melalui pintu Ar-Rayyan dan nikmat kebahagiaan tiada tara berjumpa dengan Allah SWT. Amin… Amin… Ya Rabbal ‘Alamin

Wallahu a’lam bishshawab

07 September 2009

Ar Ruhul Badar


oleh: Addy Aba Salma

kulihat keyakinanmu
tinggi mengangkasa
yakini kebenaran
janji ar rahman

kulihat semangatmu
dahsyat membuncah
semangat tuk kalahkan
semua kezhaliman

bilanganmu yang sedikit
tak membuat surut langkah
terus melaju rapat barisan
menuju medan jihad kemenangan

kulihat musuhmu
tiga kali bilanganmu
tapi tak bernyali
kalah terhinakan

kulihat izzahmu
tersyiar dibelahan negeri
menjadikan bukti
kebesaran rabbul izzati

lembah badar menjadi saksi
kekuatan yang hakiki
buah dari keyakinan
semangat dan kesabaran

31 Juli 2009

Sebelum Pintu Itu Kita Lalui


oleh: Addy Aba Salma

Kita adalah ummat akhir zaman, ummat Nabi Muhammad SAW. Rata-rata umur ummat Nabi Muhammad SAW hidup di dunia ini hanya mencapai kurang lebih 60 s.d 70 tahun. Nabi Muhammad SAW pun ketika meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya pada usia 63 tahun. Kalaupun ada ummatnya yang mencapai umur sampai 70 tahun bahkan 80 tahun jumlahnya sangat sedikit sekali, apalagi yang sampai umur 100 tahun, mungkin dapat kita hitung dengan jari.

Rasulullah SAW pernah bersabda tentang umur ummatnya selama di dunia ini dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Huraiarah Ra.: “Umur ummatku adalah antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. At-Tirmidzi).

Kalaulah sekarang kita berumur 32 tahun, berarti umur kita yang tersisa tinggal 28 tahun lagi di dunia ini, jika memang Allah SWT menakdirkan kita hidup didunia ini selama 60 tahun. Kita semua tidaklah tahu akan hal itu, bisa jadi besok adalah ajal kita bahkan mungkin juga hari ini. Allahu a’lam…

Anggaplah kita memang akan mencapai 60 tahun hidup di dunia ini, pertanyaannya adalah apakah waktu yang tersisa itu dapat kita manfaatkan untuk menutupi kesalahan, kelalaian dan segala macam dosa yang terlakukan selama 32 tahun berlalu? Menutupinya dengan ibadah-ibadah yang akan kita lakukan selama sisa waktu jatah hidup kita di dunia ini, atau dalam sisa waktu itu kita malah membuat dosa itu semakin bertambah banyak.

Oleh karennya cukuplah rahasia umur yang Allah SWT tentukan kepada kita menjadi sebuah motivasi bagi kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya, meluangkan waktu untuk dekat kepada-Nya. Jangan kita menunda-nunda untuk taubat kepada-Nya, beristighfarlah atas dosa yang terlakukan. Karena kita tidak tahu berapa lama umur kita untuk merasakan nikmat hidup di dunia yang fana ini.

Mulailah untuk berbekal untuk perjalanan kita yang amat sangat jauh. Perjalanan yang tak kan pernah kita kembali lagi ke dunia ini. Perjalanan itu adalah perjalanan akhirat yang kita semua pasti akan mengalaminya. Dan perjalanan akhirat itu kita harus melalui satu pintu yang tidak ada pintu selainnya untuk menuju kesana. Pintu itu adalah kematian.

Tinggal ketentuan Allah SWT atas diri kita, kapan kita akan melalui pintu kematian itu, yang diawali dari sebuah episode sakaratul maut. Setelah itu kita akan merasakan dunia baru yaitu alam kubur, kita akan berada di dalamnya sepanjang umur dunia menemui waktunya, sampai ditiupkannya sangkakala pertanda dunia telah kiamat. Sungguh didalamnya ada nikmat dan juga adzab. Nikmat bagi mereka yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah ketika di dunia, dan adzab bagi mereka yang senantiasa berbuat dosa ketika di dunia.

Setelah tiupan sangkakala itu, ditiupkan kembali sangkakala yang kedua kalinya. Tiupan sangkakala yang kedua itu tanda dibangkitkannya kita dari alam kubur dan dikumpulkan di Yaumul Mahsyar dimana matahari berada dekat sekali dengan kita. Di Yaumul Mahsyar ini dalam sehari berbanding 50.000 tahun ketika di dunia, sungguh waktu yang amat sangat panjang sekali. Dan hanya orang-orang yang beriman dan bertaqwa yang akan merasakan kemudahan dari kesusahan dan penderitaan pada waktu itu.

Berlanjut setelah itu kita juga akan melalui Yaumul Hisab, hari perhitungan semua amal yang telah kita perbuat selama hidup didunia, dan ditentukannya apakah kita akan menjadi ahli syurga atau ahli neraka. Tentunya menjadi ahli syurga adalah keinginan kita. Sebuah keinginan yang kita harus berusaha untuk meraihnya. Dan usaha untuk meraihnya itu hanya bisa kita lakukan ketika di dunia ini, selagi udara masih bisa kita hirup, selagi nikmat hidup masih bisa kita rasakan.

Sebelum pintu itu kita lalui, pintu kematian yang pasti kita lewati, banyak-banyaklah beristighfar kepada Allah SWT. Tidak ada kata terlambat untuk berataubat kembali ke jalan-Nya. Karena ketahuilah sesungguhnya Allah SWT Maha Penerima Taubat.

“...Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah:118)

Semoga kita adalah diantara hamba yang akan mendapatkan nikmat ketika di alam kubur, hamba yang mendapat naungan pertolongan-Nya ketika di Yaumul Mahsyar, dan dimudahkan dalam perhitungan di Yaumul Hisab, tentunya karena kita senantiasa mencoba mengumpulkan bekal kebaikan ketika di dunia ini, untuk sebuah perjalanan akhirat yang amat sangat jauh itu. Amiin...

Wallahu a’lam bishshawab

25 Juli 2009

Rindu Akan Kampung Akhirat


oleh: Addy Aba Salma

Banyak kisah tentang kerinduan. Rindu anak kepada orang tuanya yang sedang berada di kampung, atau sebaliknya rindu orang tua terhadap anaknya yang sedang dalam perantauan di negeri seberang. Ketika rasa rindu itu datang, pastinya kita akan selalu teringat akan apa yang kita rindukan.

Seorang anak yang rindu terhadap orangtuanya di kampung, ia akan berusaha mengumpulkan bekal untuk biaya pulang dan untuk membawa oleh-oleh yang terbaik untuk orangtuanya. Begitupun orang tua yang merindukan anaknya di perantauan, ia akan mempersiapkan apa saja kesukaan anaknya untuk menyambut kedatangannya ketika kabar berita kedatangan anaknya itu didengarnya.

Kisah rindu diatas adalah kisah rindu anak terhadap orangtuanya dan rindu orangtua terhadap anaknya. Lain halnya dengan kisah rindu antara dua orang kekasih yang sedang jatuh cinta. Dalam segala kondisi mereka selalu ingat terhadap kekasihnya, ketika sedang makan, minum, berjalan, duduk bahkan ketika sedang tidurpun teringat kekasihnya sampai-sampai terbawa mimpi.

Seperti itulah rindu ketika datang menghampiri. Kita akan selalu ingat terhadap apa yang kita rindukan. Rindu kampung halaman, rindu orangtua, rindu anak, rindu kekasih, dan rindu-rindu yang lainnya. Tetapi bagi orang beriman kerinduan yang harus ada adalah kerinduan terhadap kampung akhirat, rindu tempat dimana kita akan hidup selama-lamanya disana kelak.

Rindu akan kampung akhirat berarti kita senantiasa teringat kepada pemiliknya yaitu Allahu Rabbul ’Alamin, pencipta segala apa yang ada di jagat raya kehidupan, jagat raya kehidupan dunia dan akhirat. Rindu itu tercermin dari apa yang dilakukannya ketika di dunia ini untuk senantiasa ingat kepada-Nya.

Banyak kisah hamba beriman yang mencerminkan kerinduan akan kampung akhirat, yang dilakukannya senantiasa ingat kepada Allah SWT. Seperti kisah pengembala pada zaman Khalifah Umar Bin Khattab ra. Pada saat itu Abdullah bin Dinar dan Umar Bin Khattab ra. sedang dalam perjalanan menuju Makkah, di tengah perjalanan mereka beristirahat. Tiba-tiba muncul seorang pengembala menuruni lereng gunung dan melewati mereka berdua. Umar kemudian bertanya kepada pengembala itu: ”Hai Pengembala, juallah seekor kambingmu kepada saya?”. ”Tidak, saya ini seorang budak”, jawab pengembala itu. ”katakan saja kepada tuanmu bahwa dombanya di terkam serigala”, Umar menguji. Dengan tegas pengembala itu berkata: ”Kalau begitu, dimana Allah SWT?”.

Ketika mendengar jawaban pengembala itu Umar bin Khattab ra. menangis. Kemudian Umar pergi bersama pengembala tersebut menemui tuannya, untuk dimerdekakannya. Dan umar pun seraya berkata: ”Kamu telah dimerdekakan di dunia ini oleh ucapanmu dan semoga ucapan itu bisa memerdekakanmu di akhirat kelak”.

Kisah lainnya adalah kisah ibu dan putrinya penjual susu yang juga terjadi pada zaman Khalifah Umar bin khattab ra. Ketika ibunya ingin mencampur susu yang akan dijualnya dengan air, supaya mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, putrinya mengingatkan: ”Bagaimana jika Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. mengetahui?”. Sang Ibu tidak menghiraukan nasihat dari anaknya dan bersihkeras melaksanakan keinginannya itu. Dan putrinya pun kembali menasihati: ”Kalaupun Amirul Mukminin tidak melihat kita tetapi Rabb Amirul Mukminin melihat kita”.

Begitulah apa yang dilakukan oleh orang yang ada kerinduan dalam dirinya akan akhirat, mereka senantiasa ingat kepada Allah SWT. Selalu berusaha untuk menjauhi perbuatan-perbuatan dosa baik dalam keramaian ataupun dalam kesendiriannya. Kita mengenal hal itu dengan istilah Muroqobatullah atau merasakan pengawasan Allah SWT, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat dan yang tidak pernah mengantuk dan juga tidur.

”...dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hadiid:4)

”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Qs. Al Baqarah:255)

Dengan sifat Muroqobatullah itu kita akan senantiasa ingat kepada-Nya. Dan orang-orang yang rindu akan kampung akhirat, sifat ini akan selalu dipelihara. Tentunya Muroqabatullah ini akan mengangkat derajat seorang hamba menjadi orang-orang yang Taqwa. Karena sebagaimana didefinisikan oleh sebagian ulama Taqwa adalah hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilangan kamu dalam perintah-perintah-Nya. Definisi Taqwa lainnya adalah mencegah diri dari adzab Allah dengan berbuat amal sholeh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan.

Dan Taqwa adalah jalan untuk meraih kebahagian di kampung akhirat sana, yaitu syurga yang mengalir dididalamnya sungai-sungai. Sungguh begitu damai terasa kampung akhirat yang bernama syurga itu. Semoga kita kelak ada diantara hamba yang berada didalamnya. Amin... Ya Rabbal ’Alamin...

”Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang taqwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai didalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” (Qs. Ar Ra’d:35)

Wallahu a’lam bishshawab

21 Juni 2009

Karena Tak Kan Pernah Ada Kesempatan Kedua

oleh: Addy Aba Salma

Ketika kita sedang berusaha untuk mencari pekerjaan selepas lulus dari sekolah ataupun kuliah, kita mencoba mengirimkan aplikasi lamaran ke beberapa perusahaan. Alhamdulillah ada diantara perusahaan itu yang memanggil kita untuk interview. Tetapi pada saat interview, kita sudah gagal tidak bisa ke tahapan berikutnya. Yang lainnya ada yang sukses ketika interview, tetapi gagal pada tahapan psikotes dan seterusnya. Hanya beberapa orang dari sekian banyaknya peserta pelamar yang sukses melewati tahapan-tahapan penseleksian.

Ketahuilah kegagalan kita itu adalah kesuksesan yang tertunda. Jangan bersedih dan putus asa cobalah lagi untuk meraih apa yang kita cita-citakan. Mungkin sukses kita bukan pada hari ini tetapi kesuksesan kita ada pada hari-hari yang akan datang yang kita tidak mengetahuinya. Tetap berusahalah karena ketika kita masih bisa menghirup udara di dunia ini maka kesempatan kedua, ketiga bahkan berapa kali pun kesempatan itu masih dapat kita usahakan dan dapat kita raih.

Kalaulah sebuah kesuksesan di dunia ini sangat kita inginkan sekali, dengan usaha-usaha yang kita lakukan. Kita ingin sukses sebagai pelajar, ingin sukses sebagai mahasiswa, ingin sukses dalam bekerja, ingin suskes dalam berbisnis dan keinginan-keinginan kesuksesan yang lainnya. Apakah juga sama untuk sebuah kesuksesan kelak di Akhirat? Usaha apa yang telah kita lakukan untuk sebuah kesuksesan di akhirat? Tentunya kita tidak bisa bersantai dalam hal ini. Kita harus berusaha maksimal untuk mendapatkan sebuah kesuksesan di akhirat. Jangan sampai waktu untuk mencari sebuah kesuksesan di akhirat habis dengan suatu hal yang menyebabkan kita gagal meraihnya.

Kesuksesan di akhirat itu hanya dapat kita raih ketika kita masih merasakan nikmat hidup didunia ini. Tentunya selain kita mengejar kesuksesan di dunia ini kejarlah juga kesuksesan kelak di akhirat. Sesalkanlah suatu hal yang menyebabkan kita akan mendapatkan kegagalan kelak diakhirat ketika di dunia ini, karena tak kan pernah ada kesempatan kedua setelah kita meninggalkan dunia ini. Kegagalan diakhirat itu adalah ketika kita tidak dapat merasakan keberuntungan disana, ketahuilah keberuntungan itu adalah syurga.

”(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Qs. At Taghaabun:9)

Dan orang yang berusaha menggapai kesuksesan kelak di akhirat adalah mereka termasuk orang-orang yang cerdas. Karena dalam aktifitasnya ketika di dunia demi orientasi akhirat. Mereka senantiasa mencoba mengevaluasi diri mereka, bermuhassabah untuk menggapai kesuksesan di akhirat.

“Orang yang cerdas (Al-Kayyis) adalah mereka yang selalu mengevaluasi (aktifitas) dirinya dan beraktivitas demi orientasi akhirat, (sedang) orang yang bodoh adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya dan berkhayal mendapatkan ridha Allah (tanpa beramal shalih)” (HR. At Tirmidzi)

Oleh karena itu kejarlah dunia seolah-olah kita akan hidup selama-lamanya, dan kejarlah akhirat seolah-olah kita akan mati besok. Kejarlah kesuksesan didunia seolah-olah kita akan hidup selama-lamanya, dan kejarlah kesuksesan diakhirat seolah-olah kita akan mati besok. Yang dengannya kita akan tawazun (seimbang) dalam mengejar kesuksesan, kesuksesan di dunia dan kesuksesan di akhirat.

Wallahu a’lam bishshawab

18 Juni 2009

Orang Yang Bangkrut

oleh: Addy Aba Salma

Dalam perjalanan hidup ini banyak sekali kesenangan dan juga kesusahannya. Diantara kesusahan itu adalah kebangkrutan yang dialami oleh orang yang menjalankan usaha, berdagang misalnya. Ada istilah TETUKO, mungkin sebagian dari kita sudah ada yang mengetahui khususnya orang Jawa, apa itu TETUKO. TETUKO adalah nama kecilnya tokoh pewayangan GATOT KACA si Otot Kawat Tulang Besi, dan pesawat produksi IPTN CN-235 pun dinamakan dengan nama TETUKO ketika masih berdirinya perusahaan itu di era Presiden Soeharto.

Apa hubungannya kebangkrutan seorang pedagang dengan TETUKO? Hubungannya memang tidak ada, tetapi kalau dihubung-hubungkan ya nyambung juga. Karena ada yang mengartikan TETUKO itu ”sing TEko ora TUku-tuku, sing tuku ora teKO-teko” yang kalau diterjemahkan bahasa Jawa itu kedalam bahasa Indonesia adalah: ”yang datang tidak beli-beli, yang beli tidak datang-datang”.

Kalau kalimat tersebut disematkan kepada seorang pedagang apa yang bisa kita pahami? Yang bisa kita pahami adalah pedagang itu sedang mengalami awal dari KEBANGKRUTAN. Karena yang datang tidak beli-beli, yang beli tidak datang-datang lama-lama usaha yang dijalankannya akan BANGKRUT.

Banyak faktor sebenarnya yang menyebabkan seorang pedagang menjadi BANGKRUT. Diantaranya karena TETUKO tersebut, ia harus menjual murah tak ada untung barang dagangan sisa usahanya untuk menutupi hutang kepada agen dan ditambah lagi ia harus membayar uang sewa tempat usaha bulan terakhir.

Itu adalah sedikit gambaran orang yang BANGKRUT, dan kita memandangnya memang seperti itu. Sahabat Rasulullah juga memandang orang yang BANGKRUT itu adalah orang yang tidak mempunyai uang (dirham) dan sesuatu benda apapun. Tetapi Rasulullah SAW menyebut orang yang BANGKRUT itu tidaklah seperti apa yang kita pahami. Orang yang BANGKRUT menurut Rasulullah SAW adalah seperti apa yang diberitakan dalam hadist dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

"Adakah engkau semua tahu, siapakah orang yang pailit (bangkrut) itu?" Para sahabat menjawab: "Orang pailit (bangkrut) di kalangan kita ialah orang yang sudah tidak memiliki lagi se-dirham-pun atau sesuatu benda apapun." Beliau Rasulullah SAW lalu bersabda: "Orang yang pailit (bangkrut) dari kalangan ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi kedatangannya itu dahulunya -ketika di dunia- pernah mencaci maki si Anu, mendakwa serong kepada si Anu, makan harta si Anu, mengalirkan darah si Anu -tanpa dasar kebenaran-, pernah memukul si Anu. Maka orang yang dianiaya itu diberikan kebaikan orang tadi dan yang lainpun diberi kebaikannya pula, Jikalau kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan penganiayaannya, maka diambillah dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang dianiayanya itu lalu dibebankan kepada orang tersebut, selanjutnya orang itu dilemparkanlah ke dalam neraka." (HR. Muslim)

Begitulah yang sampaikan oleh Rasulullah SAW, orang yang BANGKRUT itu adalah orang yang intinya adalah orang yang ketika didunia ia shalat, puasa dan membayar zakat tetapi pernah menganiaya orang lain. Dan karena aniayanya itu semua amal kebaikannya ketika di dunia akan habis, modal amal kebaikan yang dibawanya tidak bersisa untuk membayar kepada orang yang dianiayanya ketika di dunia. Ketika habis semua modal pahala itu masih juga dilimpahkan dosa dari orang-orang yang lainnya yang dianiayanya. Yang pada akhirnya orang tersebut dimasukkan kedalam neraka. Sebuah kesusahan yang tak lagi bisa disesalkan.

Semoga kita dilindungi oleh Allah SWT untuk tidak berlaku aniaya terhadap sesama. Terlindung dari apa yang disebutkan dalam hadist tersebut dan bentuk-bentuk aniaya lainnya. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung ketika di dunia ini dan di akhirat kelak. Amiin...

Walahu a’lam bishshawab

13 Juni 2009

Agar Kita Selamat Dalam Perjalanan

oleh: Addy aba Salma

Mana yang kita pilih seandainya kita boleh memilih, antara berjalan di jalan yang tak berduri atau berjalan di jalan yang berduri. Tentunya kita akan memilih jalan yang tak berduri. Karena kita akan lancar tak menemui aral dalam menempuh tujuan perjalanan kita.

Tetapi sayang kita tidak bisa memilih. Jalan yang kita lewati itu hanya ada satu pilihan yaitu jalan yang berduri. Kita dituntut bersungguh-sungguh untuk berhati-hati dalam melewati jalan itu. Jangan sampai ketika kita melewati jalan itu kita terkena duri yang ada. Kita harus mengetahui seperti apa duri-duri itu, tabiat dari duri itu, supaya kita bisa mudah menghindarinya. Dan ketika kita terkena duri itu kita tahu cara mengobatinya. Dengan cara apa supaya kita tidak lagi terkena duri itu dalam perjalanan berikutnya. Supaya perjalanan kita bisa sampai ke tujuan dengan selamat.

Ketahuilah duri-duri itu adalah godaan-godaan syetan yang memiliki tabiat senantiasa mengajak kita selalu untuk berbuat maksiat kepada Allah SWT. Bacalah do’a minimal ta’awudz ”A’udzubillaahi minasysyaithaanirrajiim” (aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk) memohon kepada Allah SWT untuk dilindungi dari godaan syetan, dan berusahalah untuk tidak terbujuk olehnya.

Tetapi terkadang sering sekali kita lengah dari godaannya. Kita terlena dalam rayuannya, yang akhirnya duri itu terinjak oleh kita. Duri itu memang tak membuat rasa sakit pada diri kita, tetapi kelak ketika kita sampai pada akhir perjalanan kita, setelah itu barulah duri itu akan sangat terasa pedih.

Sadarilah dan bersegeralah memohon ampun bertaubat kepada Allah SWT untuk mengobatinya, jangan dibiarkan duri itu terus melekat pada diri kita. Selain itu yang tepenting adalah nikmat iman dan taqwa yang ada dalam diri kita haruslah terus terpelihara, karena dengan cara inilah kita bisa benar dalam menghindari duri-duri yang ada. Dengan bekal iman dan taqwa itu kita akan selamat dalam mengarungi jalan kehidupan di dunia yang fana ini. Kehidupan yang bagaikan jalan yang berduri, kita harus berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk berhati-hati dalam melewatinya. Seperti dalam dialog tentang taqwa antara sahabat Umar bin Khattab ra. dengan Ubay bin Ka’ab.

Umar bin Khattab ra. bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa, lalu ia bertanya kepadanya: ”Apakah kamu pernah menempuh jalan berduri?”, Umar menjawab: “Pernah”. Ubay bin Ka’ab bertanya: “Apa yang kamu lakukan?”, Umar menjawab: “Aku berusaha keras dan bersungguh-sungguh”. Ubay bin Ka’ab berkata: “Itulah taqwa”.

Dari dialog tersebut Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an berkata: ”Itulah taqwa, kepekaan hati nurani, kebeningan perasaan, rasa takut yang terus-menerus, kehati-hatian yang langgeng, dan kewaspadaan terhadap duri-duri jalan...” (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Rabbani Press Buku 1 Hal.65)

Perjalanan yang sedang kita lalui ini memang harus melalui jalan yang berduri. Sebagai ujian keimanan dan ketaqwaan bagi kita. Bahkan para nabi dan rasul pun melewati jalan yang berduri itu. Hanya dengan bekal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT kita akan selamat dalam perjalanan. Karena dengan taqwa kita akan diberikan oleh Allah SWT Furqan, yang dengan itu kita akan dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana duri-duri jalan dan mana yang bukan. Karenanya kita akan waspada berhati-hati dalam melewatinya.

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Qs. Al-Anfaal:29)

Dengan taqwa itu juga Allah SWT akan menjadikan untuk kita cahaya, yang dengan cahaya itu dapat membantu kita melihat duri-duri jalan, jangan sampai kita terkena dan menginjaknya.

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hadiid:28)

Tentunya agar kita selamat dalam perjalanan menuju ke tempat hidup kita yang abadi, tidak ada pilihan selain beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Mulailah untuk memeihara iman dan taqwa itu agar lestari sampai datang hari yang pasti, hari dimana perjalanan kita akan berakhir.

Wallahu a’lam bishshawab

11 Juni 2009

Terimakasih Untukmu Wanita

oleh: Addy Aba Salma

Ketika kita ingin berpergian keluar rumah beraktivitas, entah itu bekerja, sekolah, kuliah atau aktivitas lainnya, biasanya kita menggunakan kendaraan pribadi baik sepeda, motor ataupun mobil. Bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi mereka berpergian dengan menggunakan jasa angkutan umum kota. Jangan lupa ketika kita ingin keluar rumah hendaklah membaca do’a terlebih dahulu seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, berikut do’anya:
”Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakkal kepada-Nya, dan tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Dengan kita berdo’a, kita akan tenang dalam perjalanan. Tidak ada salahnya dalam perjalanan kita coba berdzikir didalam hati atau membaca Al-Ma’tsurat yang sudah kita hafal. Karena kalau tidak diawali dengan berdo’a dan membaca dzikir bisa saja ketika berada dijalan kita terperangkap ajakan syetan yang memang selalu menggoda manusia. Karena syetan/iblis sudah berjanji akan senantiasa menggoda anak cucu adam dari arah depan, belakang, kiri dan kanan mereka kapanpun.

”Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. Al-A’raff:16-17)

Tidak sedikit peluang dosa yang bisa saja kita lakukan dalam perjalanan kita di jalan untuk beraktivitas, apalagi kalau tujuan aktivitas kita itu ke Mall atau pusat-pusat hiburan dan keramaian. Diantara peluang dosa itu adalah dosa dari pandangan mata kita karena banyaknya para wanita yang tidak menutup auratnya dengan benar seperti yang disyariatkan oleh Agama Islam. Para wanita itu berpakaian minim, bahkan diantara mereka ada yang mengenakan t-shirt ukuran adiknya yang masih duduk di bangku kelas satu SLTP, ’Nyepitit’ kata orang Jawa... mengikuti trend para selebritis ‘jahiliyah’ dari Madonna sampai Britney Spears. Mereka menuruti hawa nafsunya sendiri.

Tidak ketinggalan kalangan ibu-ibu nya juga sekarang ini lagi ngtrend mengikuti senam aerobic yang banyak diadakan di parkiran Mall atau tempat-tempat hiburan dan keramaian di pagi dan sore hari pada hari libur. Mereka sudah mengenakan seragam senam aerobic itu sedari dari rumahnya, kalau tidak atasannya ya bawahannya yang mereka kenakan, jalan-jalan dengan pakaian itu. Astaghfirullah...

Hal tersebut bisa menyebabkan kita berdosa, dosa yang datang dari pandangan mata kita. Tetapi terkadang kita tidak sengaja melihat dan itu tidak akan menjadi dosa, maka palingkan saja arah pandangan kita untuk tidak berlama-lama memandang yang bukan hak mata kita. Setelah kita palingkan pandangan kita jangan lagi balik memandang, karena pandangan yang kedua ini akan dicatat sebagai dosa, seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: ”Wahai Ali, janganlah engkau susuli pandangan dengan pandangan lagi, karena yang pertama menjadi bagianmu dan yang kedua bukan lagi menjadi bagianmu (dosa atasmu).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud)

Diantara mereka tidak sedikit yang kalau kita lihat KTP mereka beragama Islam, mereka sholat, mereka juga puasa. Tetapi kenapa mereka tidak mau mengenakan pakaian yang sudah disyariatkan oleh Agama Islam. Mereka menutup auratnya hanya ketika menjalankan ibadah shalat saja, setelah selesai shalat mereka perlihatkan lagi sebagian auratnya. Pakaian yang disyariatkan oleh Agama Islam untuk para wanita adalah pakaian yang menutupi aurat. Ketahuilah bahwa Allah SWT telah berfirman:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab:59)

Ayat diatas menjadi dasar diwajibkannya para wanita yang beriman untuk mengenakan Jilbab, pakaian untuk menutupi auratnya. Berusahalah para wanita untuk dapat mengamalkan perintah-Nya ini, untuk kebaikan di dunia dan juga kebaikan ketika di akhirat kelak.

Dan terimakasih untukmu wanita, yang telah sanggup mengalahkan hawa nafsumu untuk mengamalkan perintah-Nya menutupi aurat. Karena yang engkau amalkan, menutup pintu dosa pandangan mata kaum lelaki.

Wallahu a’lam bishshawab

04 Juni 2009

Dalam Urusan Melihat Dunia Dan Urusan Melihat Akhirat

oleh: Addy Aba Salma

Dalam urusan dunia kita seharusnya melihat kebawah maka kita akan senantiasa bersyukur akan nikmat Allah yang diberikannya kepada kita saat ini. Ketika dalam urusan dunia ini kita melihat keatas maka kita akan sulit untuk mensyukuri nikmat, yang ada kita akan selalu merasa kurang dan kurang. Tetangga kita beli motor baru keluaran terbaru, jidat di kepala kita tempel dengan satu tempel koyo karena kita kepusingan sendiri melihat tetangga yang baru saja membeli motor. Apalagi tetangga kita beli kendaraan roda empat, mungkin tempel koyo yang nempel dijidat kita 2 atau 3 buah, karena adanya iri dan dengki dan ditambah kepusingan sendiri melihat tetangga kita yang beli mobil baru itu. Capek deh...

Kita syukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita saat ini. Kalau saat ini Allah baru memberikan nikmat kepada kita sebuah motor keluaran tahun 2000 syukuri nikmat itu. Coba kita lihat kebawah, masih banyak mereka yang memiliki motor keluaran tahun 1990 atau masih banyak juga mereka yang belum memiliki motor tapi hanya memiliki sepeda ontel dan masih banyak juga yang tidak memiliki motor ataupun sepeda ontel. Oleh karenanya ketika kita dalam urusan dunia melihat kebawah maka kita akan senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita saat ini. Dan Allah akan menambahkan nikmat kepada orang-orang yang senantiasa bersyukur akan nikmat-Nya. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Qs. Ibrahim:7)

Dalam urusan akhirat sejatinya kita harus melihat keatas. Dalam urusan akhirat ini tidak lepas dari urusan ibadah kepada Allah SWT. Kita akan merasa kurang dan kurang dalam beribadah kepada Allah SWT jika kita melihat keatas. Kita harus melihat orang-orang sholeh beribadah, mereka yang rajin, tekun dan semangat dalam beribadah.

Selama ini mungkin kita merasa sudah cukup dengan melakukan shalat 5 waktu tanpa menambahkan jenis ibadah ibadah lainnya. Mereka berkata “masih mending gue shalat, noh masih banyak yang nggak shalat…”, “aduh… baca Al-Qur’an? nggak sempet neh… tapi khan gue shalat 5 waktu, cukup shalat dulu aje deh…” bahkan ada yang parah lagi, ada sebagian dimasyarakat kita mereka berpuasa pada saat bulan ramadhan tetapi shalatnya masih bolong, ini terjadi karena kita melihat kebawah dalam urusan akhirat, karenanya kita merasa cukup dengan ibadah yang telah kita lakukan, padahal masih banyak amaliah-amaliah yang belum kita kerjakan. Fastabiqul Khairat ajakan Allah di dalam Al Qur’an (Qs Al Baqarah:148, Al Maidah:48) yang dengan itu kita disuruh berlomba-lomba dalam kebenaran, dalam berbuat kebajikan, dalam beramal sholeh, dalam beribadah kepada-Nya.

Kita harus merubah cara pandang dalam urusan dunia dan cara pandang dalam urusan akhirat kita selama ini. Dalam urusan dunia lihatlah kebawah dan dalam urusan akhirat lihatlah keatas. Yang dengan itu adalah supaya kita senantiasa dapat mensyukuri nikmat-Nya dan memotivasi kita untuk meningkatkan amal ibadah kepada Allah SWT.

Bukankah kita senantiasa membaca dan mengaminkan doa yang sudah kita hafal tentunya sedari kecil, baca dan perhatikanlah baik-baik doa ini:

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (Qs. Al Baqarah : 201)

Segala apa yang diberikan oleh Allah SWT. kepada orang yang beriman didunia adalah suatu kebaikan, baik itu ujian yang berupa kenikmatan dan ujian yang berupa musibah. Sungguh indah urusan orang-orang beriman itu di dunia, ketika Allah memberikan ujian kenikmatan ia senantiasa bersyukur dan itulah pilihan yang ada kebaikan didalamnya dan ketika Allah memberikan ujian musibah maka ia bersabar, dan itu juga pilihan yang ada kebaikan didalamnya, “berilah kami kebaikan di dunia”.

Ibadah yang dilakukan oleh orang yang beriman didunia adalah untuk bekal dikehidupan yang abadi yaitu akhirat. Surga adalah kebaikan di akhirat yang hanya diperuntukkan oleh Allah untuk hamba-hambanya yang senantiasa meningkatkan amal ibadah dan beramal sholeh ketika di dunia, "berilah kami kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".

Wallahu a’lam bishshawab

01 Juni 2009

Akan Tetap Mewangi

oleh: Addy Aba Salma

semerbak kasturi mewangi
di setiap jengkal bumi jihad palestina
harumnya memanggil shaf-shaf mujahid
yang tetap istiqamah merindu syahid
aisy kariman aumut syahidan

perlawanan kami tak kan mati
kami mulai dari intifadhah batu yang berbicara
sampai bom syahid yang menggetarkan bumi
begitulah bahasa perlawanan kami
aisy kariman aumut syahidan

wahai zionis laknatullah alaihi
ketahuilah kami-kami ini
kami berangkat dari masjid-masjid kami
dari lingkaran-lingkaran kecil tarbiyah rabbani
aisy kariman aumut syahidan

kami lahir dari shaf pertama jama'ah subuh
karena kami bukan generasi Abdullah bin Ubay
kalian akan gentar sebenar-benarnya gentar
karena kami generasi tauladan kami di lembah khaibar
aisy kariman aumut syahidan

semerbak kasturi itu akan tetap mewangi...

maret'09

30 Mei 2009

Hari Ini, Mungkin Kita Ada Dalam Daftarnya

oleh: Addy Aba Salma

Mungkin diantara kita ada yang sudah ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai. Ditinggalkan oleh istri, anak, saudara, teman, sahabat bahkan orang tua kita untuk selama-lamanya. Mereka telah di panggil oleh Allah SWT yang Maha Pencipta, yang telah memberikan nikmat hidup dan menentukan jatah hidup di dunia bagi tiap-tiap hamba-Nya. Tak perlu berlama-lama kita dalam kesedihan karenanya. Jadikan itu sebagai nasehat kauniyah kepada diri kita, bahwa tiap-tiap jiwa yang bernyawa akan merasakan mati.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Qs. Ali ’Imraan:185)

Tak ada yang kekal di dunia ini, semua bersifat fana. Orang-orang yang kita cintai, harta, tahta, semua yang kita miliki semua fana tak ada yang abadi. Hanya ada dua perkara di dunia ini, ditinggalkan atau meninggalkan. Istri, anak, saudara, teman, sahabat bahkan orang tua kita, bisa kita yang ditinggalkan terlebih dahulu oleh mereka atau kita yang meninggalkan mereka terlebih dahulu. Tinggal menunggu ketetapan Allah SWT atas tiap-tiap diri kita.

Begitupun harta, tahta, atau semua yang kita miliki, bisa kita yang ditinggalkannya lebih dahulu atau kita yang meninggalkannya lebih dahulu. Ditinggalkannya lebih dahulu karena harta, tahta, atau semua yang kita miliki adalah cuma titipan yang diamanahkan Allah SWT kepada kita. Sewaktu-waktu Allah SWT bisa saja mengambilnya kembali dari kita. Mengambilnya dengan bangkrutnya usaha kita, terkena PHK dari pekerjaan, diberikan ujian sakit yang membutuhkan biaya banyak, atau dengan hal-hal yang lainnya.

Atau kita yang meninggalkan semuanya itu lebih dahulu, karena memang jatah hidup kita di dunia yang fana ini sudah berakhir. Semua yang kita miliki tidak ada satupun yang dapat kita bawa, kecuali amal baik dan amal buruk yang telah kita lakukan selama hidup di dunia. Semuanya itu seberat apapun amal baik dan amal buruk yang kita bawa akan diminta pertanggungjawabannya kelak di yaumul hisab.

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Qs. Al Zalzalah:7-8)

Niatkanlah setiap langkah hidup kita hanya untuk mencari keridhaan-Nya. Mensyukuri nikmat hidup yang telah diberikan Allah SWT kepada kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Tentunya kita semua menginginkan ketika meninggalkan dunia ini dalam keadaan Khusnul khatimah.

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Sekujur badan kan kedinginan

Gambaran dari syair nasyid tersebut adalah keadaan pada saat akan datangnya sakaratul maut, tetapi ketika sakaratul maut itu sudah waktunya, takkan terbayangkan dahsyat rasa sakitnya, seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.” (HR. Tirmidzi)

“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR. Bukhari)

Begitulah dahsyatnya sakaratul maut, yang bisa datang kepada kita kapan saja dan dimana saja, ketika kita sedang berbaring, ketika kita sedang berdiri, ketika kita sedang melakukan ibadah kepada-Nya atau bahkan ketika kita sedang melakukan maksiat kepada-Nya, Naudzubillahi min dzalik...

Hari ini, mungkin kita ada dalam daftarnya malaikat Izrail, ketika Allah SWT memerintahkannya maka detik itu juga malaikat izrail beraksi melaksanakan tugasnya.

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya….”(Qs. Al Munafiqun:11)

Wallahu a’lam bishshawab

29 Mei 2009

Kesegeraan Yang Seharusnya

oleh: Addy Aba Salma

dengan laut-Nya
dengan bumi-Nya
dengan langit-Nya
dengan angin-Nya
dengan udara-Nya
dengan bulan-Nya
dengan matahari-Nya
DIA menegur

dengan kehendak-Nya
DIA menegur

satu kesegeraan yang seharusnya
ada pada kita makhluk yang bernama manusia
istighfar dan kembali pada-Nya

maret'09

28 Mei 2009

Mentafakuri Rintik Hujan

oleh: Addy Aba Salma

Sewaktu kita masih kecil semasa sekolah dasar dahulu, kita sangat senang sekali dengan yang namanya hujan. Kita bermain hujan-hujanan bersama teman-teman, bermain perang-perangan atau sekedar berlari-lari dan melompat-lompat menikmati rintiknya. Walaupun orang-tua kita melarang tetapi kita cuex saja dan tetap menikmati air hujan itu yang turun secara merintik-rintik.

Bagi kita yang memiliki taman atau kebun kecil di pekarangan rumah yang ditanami tanaman-tanaman buah ataupun tanaman-tanaman hias, kita pun senang ketika hujan turun. Kita tidak perlu menyirami lagi taman atau kebun kita itu, karena sudah disirami oleh hujan yang turun. Anak kita yang masih duduk di bangku TK pun bernyanyi, Tik tik tik bunyi hujan diatas genting, airnya turun tidak terkira... Benar sekali lagu kanak-kanak tersebut, airnya turun tidak terkira, karena memang ribuan bahkan jutaan kubik air hujan yang turun membasahi bumi secara merintik-rintik.

Bukan cuma anak-anak yang senang ketika hujan turun, tetapi para petani juga senang karena hujan akan membantu menyiram hektaran sawah dan ladang yang sedang ditanami padi ataupun buah-buahan. Selain manusia ada juga kawanan hewan yang senang ketika hujan turun, kawanan hewan itu adalah katak, dengarkan saja suaranya yang terdengar sahut-sahutan ketika hujan datang, teot tekdung teot tekdung teot teot tekdung... setidaknya seperti itulah suara katak seperti dalam lagu kanak-kanak.

”Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (Qs. Ar-Ruum:48)

Hujan itu turun berupa butiran-butiran kecil air yang kita sebut sebagai rintik. Subhanallah, Allahuakbar... itulah kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, Dia yang telah menciptakan segala apa yang ada di alam semesta ini. Itulah bukti Rahmat-Nya kepada manusia, hewan dan segala apa yang hidup di bumi. Dia turunkan air yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan kubik itu dengan cara merintik. Walaupun derasnya hujan tetap ia berupa rintik.

Terbayangkah kita jika hujan itu turun dari langit tidak dengan merintik. Ribuan bahkan jutaan kubik air itu turun langsung tanpa merintik. Apa yang terjadi jika ribuan bahkan jutaan kubik air hujan itu turun sekaligus. Pasti tidak ada keceriaan anak-anak menikmati senangnya bermain hujan. Tidak ada petani yang senang sawah dan ladangnya disirami air hujan. Tidak ada katak yang terdengar suaranya sahut-sahutan menyambut datangnya hujan. Karena yang ada pastinya kehancuran di sekitar wilayah bumi yang sedang musim penghujan itu.

Tetapi yang coba kita bayangkan itu tidaklah demikian, Allah SWT yang Maha Rahman menciptakan hujan yang turun ke bumi dengan cara merintik. Seberapapun derasnya tetap ia berupa rintik. Rintik hujan yang sepatutnya kita bersyukur kepada-Nya, bersyukur dengan sebenar-benarnya syukur. Bersyukur dengan menggunakan apa saja yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita hanya untuk mencari keridho’an-Nya.

Mungkin karena kita masih jauh dari perintah-Nya, masih suka memperturutkan hawa nafsu, yang kita lakukan tidak untuk mencari keridhoan-Nya dan tak lekas beristighfar, rintik-rintik hujan itu menjadi bencana. Debit air yang tinggi akibat hujan yang turun terus-menerus dengan merintik, mengakibatkan sungai menjadi meluap, tanggul tak kuat menahan tekanan jutaan kubik air. Akhirnya air tumpah kemana-mana mengikuti irama dataran rendah disekelilingnya, menyapu apa yang ada didepannya.

Rintik air hujan yang seharusnya dapat menyirami hektaran sawah dan ladang itu tak lagi bersahabat, karena hujan menyebabkan banjir yang tak terbayangkan, hingga mencapai atap rumah. Panen yang di tunggu tak pernah akan datang, karena padi dan buah-buahan yang di tanam menjadi rusak terkena banjir yang tak kunjung surut.

Tetapi itu semua terjadi karena Allah SWT yang Maha Rahman, memberikan satu peringatan kepada kita semua. Supaya kita mengambil pelajaran darinya, supaya kita lekas untuk beristighfar dan kembali ke jalan-Nya yang lurus, sampai akhirnya Maha Rahim-Nya kita bisa rasakan. Sampai sekarangpun hujan itu turun masih dengan merintik, tanda dari kebesaran dan kekuasaan-Nya. Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Wallahuakbar...

”Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (Qs. An-Nahl:65)

Wallahu a’lam bishshawab

Matahari Tengah Hari Bolong

oleh: Addy Aba Salma

Apa yang kita rasakan ketika pada saat tengah hari bolong kate orang Jakarte atau jam 12 siang berada di tengah tanah yang lapang, atau sebut saja di tengah lapangan bola. Pasti yang kita rasakan adalah panas yang sangat menyengat, dan bisa merubah warna kulit kita kalau terlalu lama tekena teriknya, “untung ada produk krim pelindung dari sinar matahari...”, kata mereka yang memiliki uang berlebih.

Coba saja di tengah hari bolong itu kita tidak memakai alas kaki bisa-bisa telapak kaki kita akan terasa kepanasan, setidaknya ini yang saya rasakan waktu sandal saya sudah tidak berada ditempat ketika saya ingin kembali ke kantor ba’da sholat Jum’at di Masjid At-Taqwa GMF tempat saya bekerja. Sebenarnya sandal itu tidak hilang mungkin ada yang meminjam tanpa izin untuk dipakai ke toilet, tetapi karena saya tunggu lama kurang lebih 15 menitan sembari mencari kesana-kesini tidak kunjung ada, akhirnya saya kembali saja ke kantor berjalan tanpa alas kaki menuju kantor saya di gedung TR, Insya Allah saya Ikhlas dengan hal ini. Benar saja sepanjang perjalanan menuju kantor saya coba menahan panasnya bumi yang tak kuat telapak kaki menapak, iiy... auw... uuw... sepanjang perjalanan saya menahan panasnya sambil berjalan agak cepat. Sesampainya di kantor telapak kaki saya masih saja terasa panas, karena memang saya tidak lewat koridor tetapi lewat gedung GSE yang tak berkoridor, salah sendiri kasiaan deh... (nggak pake’ lho)

Tengah hari bolong atau Jam 12 siang enaknya kita istirahat di bawah rindangnya pepohonan, wah bisa ketiduran tuh... atau makan siang ditemani minuman yang dingin. Apalagi terik matahari sekarang lebih terik dari tahun-tahun yang lalu, akibat dari global warming.

Begitulah apa yang bisa kita rasakan pada saat tengah hari bolong ketika di dunia. Di akhirat pun kita akan merasakan teriknya matahari seperti matahari tengah hari bolong. Tidak ada matahari pagi yang panasnya dapat berguna bagi tulang kita, tidak ada matahari sore yang keindahan terbenamnnya dapat kita nikmati dari pinggiran pantai, Subhanallah... Tetapi di akhirat nanti matahari berada dekat sekali dengan manusia yang dikumpulkan di suatu tanah lapang, yang dengan keadaan itu mereka mendapatkan kesusahan dan penderitaan yang tiada terkira, sehingga mereka merasa tidak kuat lagi menahan penderitaan itu.

Mereka saling bertanya kepada siapa gerangan meminta syafa’at. Mereka mendatangi bapak mereka semua yaitu Nabi Adam AS, tetapi Nabi Adam AS menjawab ”Oh diriku, diriku, diriku; pergilah kalian kepada selain aku”. Kemudian mereka mendatangi Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, mereka pun mendapatkan jawaban yang sama seperti jawaban Nabi Adam AS ”Oh diriku, diriku, diriku; pergilah kalian kepada selain aku”. Karena mereka semua tidak bisa memberikan syafa’at.

Kemudian atas saran Nabi Isa AS mereka disuruh untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW. Merekapun mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk meminta syafa’at darinya. Kemudian Nabi Muhammad SAW datang kepada Allah SWT dan bersujud di bawah Arsy-Nya. Allah SWT selanjutnya memberikan pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan menyuruhnya mengangkat kepala dari sujudnya, kemudian menyuruh untuk meminta permohonan syafa’at yang pasti akan di kabulkan permohonannya itu. Akhirnya Nabi Muhammad SAW meminta permohonan untuk diberikan syafa’at kepada ummatnya seraya berkata ”ummatku wahai Tuhan, ummatku wahai Tuhan, ummatku wahai Tuhan”. Pada akhirnya dimasukkanlah ummat Nabi Muhammad SAW yang tiada di hisab kedalam syurga melalui pintu kanan, dan selain mereka dimasukkan ke dalam syurga melalui pintu-pintu syurga lainnya bersama ummat-ummat yang lain.

Begitulah kurang lebihnya yang akan terjadi di akhirat nanti berdasarkan dari hadist shahih yang cukup panjang sekali redaksinya, diriwayatkan oleh Muttafaq ’alaihi. (lihat kitab Hadist Riyadhus Shalihin jilid 2, Bab Tentang Hadist-Hadist Yang Tersebar dan Memuat Ceritera. Hadist No:59)

Sudahkah kita menjadi ummatnya Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menjadikan beliau sebagai uswatun hasanah? mengikuti sunah-sunahnya, yang dengan itu semoga kelak di akhirat nanti kita akan mendapatkan syafa’atnya yang tiada seorang nabi dan rasul pun yang dapat memberikannya dari kesusahan dan penderitaan yang tiada terkira yang terjadi di hari itu, dimana matahari akan berada dekat sekali dengan manusia, lebih amat sangat dahsyat dari matahari tengah hari bolong ketika di dunia.

Wallahu a’lam bishshawab

22 Mei 2009

Ketika Ajal Mendahului Taubat

oleh: Addy Aba Salma

Kita diberitakan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Ankabut:57 yang artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan” (lihat juga Qs. Ali Imran:185, Al Anbiya’:35), yang dengan itu kita harus meyakini bahwa memang kita akan mengalami kematian yang kita tidak akan tahu kapan kematian itu akan datang menghampiri kita.

Berita duka cita kerap kali terdengar di telinga kita melalui pengeras suara mushola atau masjid, berita perihal kematian salah satu tetangga di lingkungan tempat tinggal kita. Berita duka cita itu disampaikan diiringi dengan ucapan “Innalillahi wainnailaihi raji'un” yang terjemahannya “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali” (lihat Qs. Al Baqarah:156), kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Entah kapan yang kita tidak bisa mengetahuinya, berita duka cita itu diumumkan untuk nama kita atau nama dari keluarga kita. Tetangga kita semuanya mengucapkan “Innalillahi wainnailaihi roji'un” dan mereka berta’ziah kerumah kita. Setelah dimandikan mereka menshalati kita dengan takbir 4 kali dan juga ikut untuk mengiringi rombongan keluarga ke tempat peristirahatan terakhir kita.

Bagi orang yang beriman dan beramal shalih kematian adalah sesuatu yang tidak akan pernah ditakutinya, karena kematian awal dari dirinya untuk berjumpa dengan sang Maha Pencipta Allah SWT Tuhan Semesta Alam, yang telah memberikannya semesta nikmat selama ia hidup didunia dan ia senantiasa mensyukurinya, menjalankan perintah dan menjauhkan larangannya yang dengan kata lain ia berusaha menjadi hamba-hamba rabbani yang tersemat didalam dirinya ketaqwaan dan penuh dengan keikhlasan. Dan bagi orang yang beriman dan beramal shalih itu Allah menyebut mereka Khairul Bariyah (sebaik-baik makhluk) dan dijanjikan balasan syurga yaitu syurga ‘Adn dan mereka kekal didalamnya. (Qs. Al Bayyinah:7-8). Tetapi sebaliknya, mereka yang memilih kekafiran dan melakukan kemusyrikan sewaktu hidup didunia Allah menyebut mereka Syarul Bariyah (seburuk-buruk makhluk) dan mereka akan dimasukkan kedalam neraka jahanam selama-lamanya. (Qs. Al Bayyinah:6)

Bagi mereka yang jauh dari perintah Allah dan tidak menjalankan perintah Nya, asyik terlena dengan fatamorgana dunia, mereka menunda-nunda untuk bertaubat dan tidak bergegas untuk kembali ke jalan Nya, maka sungguh mereka termasuk orang-orang yang merugi yang telah menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh Allah SWT, yang seharusnya untuk melakukan ibadah kepada-Nya. (Qs. Al Ashr:1-5)

Dan ketika mereka mendengar tentang kematian mereka akan merasa takut, mereka tidak siap ketika ajal akan menjemput. Tetapi sesungguhnya ketika keputusan Allah telah datang bahwa kita akan mati pada detik ini juga, maka kita tidak akan bisa menolaknya. Seperti yang Allah firmankan di dalam Al Qur’an Surat Al Munafiqun:11 yang artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya….”

Ketika kita sudah menjumpai ajal berarti sudah selesai perjalanan hidup kita di alam dunia dan tinggal kita tunggu waktu Allah SWT. akan menghitung amalan-amalan kita selama hidup didunia. Kita tidak bisa kembali ke dunia untuk memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan dan sungguh amat menyesal mereka yang lalai dan hanya memperturutkan hawa nafsunya ketika berada di didunia.

Artinya: Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. (Qs. Al-Furqan:27)

Artinya: Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (Qs. Al Baqarah:167)

Artinya: maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman. (Qs. Asy Syu'araa':102)

Jangan sampai ajal yang telah Allah tentukan kepada kita mendahului taubat yang sering kita tunda-tunda, kita tidak bersegera untuk kembali ke jalan-Nya. Maka ketika ajal mendahului taubat, tidak ada lagi waktu dan kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk kembali hidup didunia untuk menebus kesalahan dan kekeliruan yang telah kita perbuat. Semoga kita adalah hamba yang senantiasa bertaubat atas kesalahan yang terlakukan dengan “Taubatan Nashuha” dan Allah SWT. berkenan menerima akan taubat kita. Amin.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (Qs. At Tahrim:8)

“…Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah:118)

Wallahu a’lam bishshawab

Medex Ruhiyah

oleh: Addy Aba Salma

MEDEX (MEDical EXamination) biasanya dilakukan untuk mengetahui apa saja dari fisik (jasadiyah) kita mana yang sehat dan mana yang sakit. Setelah pemeriksaan berjalan maka kita akan mendapatkan hasil dari pemeriksaan tersebut yang berupa angka-angka untuk setiap jenis penyakit. Yang dinyatakan sehat adalah angka-angka yang tertera di lembar hasil MEDEX jangan melebihi dari maksimal angka yang distandarkan untuk suatu jenis penyakit. Kalau angka dari hasil MEDEX melebihi angka yang di standarkan berarti kita terindikasi memiliki penyakit itu. Yang dengan hasil itu kita dapat tindak lanjuti untuk senantiasa menjaga kesehatan kita jangan sampai apa yang telah kita ketahui jenis penyakit yang terindikasi itu menjadi penyakit yang akut.

Kita harus menjaga makanan yang kita makan, tidak boleh berlebih kadar kolesterolnya, tidak boleh makan ini, tidak boleh makan itu, harus mengkonsumsi vitamin ini, minum obat itu dan seterusnya plus harus berolahraga sesuai apa yang disarankan oleh dokter. Kita akan mematuhinya karena memang kita ingin fisik (jasadiyah) kita sehat. Memang nikmat sehat itu mahal. Karena tidak sedikit orang yang ketika terkena suatu penyakit dan perlu dirawat dirumah sakit serta perawatan dokter secara intensif, dapat menghabiskan biaya dengan jumlah yang tidak sedikit. Oleh karenanya itu banyak orang yang tidak ingin sebenarnya dirinya sakit, mereka ingin sehat karena sehat itu mahal. Dan kita yang diberi nikmat kesehatan, senantiasalah kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah meberikan nikmat sehat itu kepada kita, Alhamdulillahirabbil’alamin - segala puji hanya milik Allah tuhan semesta alam. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya.

Kalau MEDEX yang untuk fisik (jasadiyah) saja kita lakukan pernahkah kita coba untuk MEDEX RUHIYAH, karena manusia memiliki dua unsur yaitu jasad dan ruh. Medex Ruhiyah adalah pemeriksaan untuk mengetahui apakah ruhiyah kita dalam keadaan sehat atau sebaliknya ruhiyah kita sedang mengalami sakit. Lakukan Medex Ruhiyah ini dengan Muhasabah, obati dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, menuntut ilmu dan berteman dengan orang-orang yang shalih.

Muhasabah
Apa yang bisa kita lakukan untuk MEDEX RUHIYAH ini, sederhana sekali seperti yang saya sebutkan diatas, lakukan dengan MUHASABAH. Muhasabah berasal dari kata hasiba-yashabu yang artinya menghisab atau menghitung. Dengan kata lain kita mencoba interopeksi atau evaluasi diri kita. Khalifah Umar bin Khatab ra. pernah memberikan tausyiahnya kepada sahabat yang lainnya “Hisablah diri kalian sebelum kalian di hisab”, maksudnya hitunglah amal apa yang sudah anda lakukan sebelum kalian di hitung di akhirat kelak yaitu di yaumul hisab. Dan Allah SWT juga memerintahkan kepada orang yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dan memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, apakah sudah cukup kita berbekal untuk akherat kelak, firman-Nya di dalam Al Qur’an “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al Hasyr:18)

Dan Rasulullah SAW dalam satu hadistnya menyebutkan orang-orang yang senantiasa mengevaluasi dirinya dalam orientasi akhirat adalah mereka orang-orang yang cerdas, “Orang yang cerdas (Al-Kayyis) adalah mereka yang selalu mengevaluasi (aktifitas) dirinya dan beraktivitas demi orientasi akhirat, (sedang) orang yang bodoh adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya dan berkhayal mendapatkan ridho Alloh (tanpa beramal sholih)” (HR. At Tirmidzi)

Dengan muhasabah kita akan mengetahui sejauh mana selama ini diri kita, sudahkah kita senantiasa beribadah kepada-Nya, atau selama ini kita dalam kemaksiatan dan selalu memperturutkan hawa nafsu. Ya, dengan muhasabah kita akan mengetahui jawabannya. Kalau kita dapati hasil dari muhasabah itu kita sudah dalam keta’atan kepada-Nya istiqamahlah, tingkatkan lagi amal ibadah kita dan jangan merasa cukup dengan amal yang sudah kita kerjakan. Seandainya kita mendapati diri kita jauh dari perintah Allah dan sering melakukan sesuatu yang dilarang-Nya berarti kita sedang mengalami sakit, sakit yang perlu segera diobati, tidak boleh tunggu nanti atau esok, harus segera detik ini juga. Istighfar kepada Allah dan bertaubat dan mulailah berbenah untuk mengobati ruhiyah kita yang sedang sakit itu. Tidak ada kata terlambat dalam mengobati ruhiyah kita yang sedang sakit, karena Allah SWT maha pengasih dan maha penyayang, maha pengampun dosa dan maha penerima taubat. Seperti yang difirmankan-Nya dalam Qs. At Taubah:118 yang artinya: “…Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Meningkatkan kualitas iman dan taqwa
Tingkatkan keimanan kita dengan senantiasa mencoba melakukan ibadah-ibadah yang kita sanggup untuk mengerjakannya. Karena iman akan bertambah ketika kita dalam keta’atan kepada-Nya yang berarti juga ruhiyah sedang dalam keadaan sehat dan sebaliknya iman kita akan berkurang ketika kita berada dalam kemaksiatan kepada Allah yang dengan itu berarti ruhiyah kita sedang mengalami sakit. Oleh karena itu taqwa dalam diri juga harus kita tingkatkan yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhkan larangan-Nya. Definisi taqwa lainnya adalah mencegah diri dari adzab Allah dengan berbuat amal sholeh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan. Ada lagi definisi taqwa menurut sahabat, dalam satu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab ra. pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay ra. menjawab, ”Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh dengan duri?”, “Ya” jawab Umar, Ubay kembali bertanya “Apa yang anda lakukan saat itu?”, “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan sangat hati-hati” jawab Umar, “Itulah taqwa” Ubay menegaskan. Itulah definisi taqwa menurut Ubay bin Ka’ab berdasar dari jawaban Umar ra, kehati-hatian kita ketika kita melewati jalanan yang penuh dengan duri, jangan sampai kita menginjaknya. Dan orang yang bertaqwa akan dimuliakan oleh Allah SWT di sisi-Nya. Qs Al Hujurat:13 “… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Menuntut ilmu
Menuntut ilmu adalah kewajiban. Kewajiban menuntut ilmu pernah di sampaikan Rasulullah SAW dalam salah satu hadistnya yang terkenal, Rasulullah bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Thabrani). Ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra” yang berarti bacalah (Qs. Al Alaq:1). Dengan menuntut ilmu yang tadinya kita bodoh akan menjadi berilmu. Yang dengan ilmu itulah modal kita untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan menuntut ilmu kita mengetahui bagaimana cara kita berwudhu, bagaiman cara kita shalat, shalat itu lebih baik berjamaah dari pada sendiri dan seterusnya. Dan Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan, itu janji-Nya di dalam Al Qur’an “… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Qs. Al Mujadilah:11). Banyak cara untuk kita menuntut ilmu, dengan menghadiri majelis-majelis ilmu baik dilingkungan rumah kita atau di kantor tempat kita bekerja, dengan cara membaca buku keislaman, melalui ceramah-ceramah agama di radio dan di televisi dan ditempat sarana-sarana menuntut ilmu lainnya.

Berteman dengan orang shalih
Orang-orang shalih yang ada di sekitar kita bertemanlah kepada mereka. Kenapa kita harus berteman kepada mereka, yang pertama karena orang yang shalih senantiasa dalam hidupnya selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang kedua orang yang shalih senantiasa nasihat-menasihati dan senantiasa mengajak untuk berbuat amal shalih dan yang ketiga supaya ke shalihannya juga melekat pada diri kita.

Orang-orang shalih senantiasa dalam hidupnya selalu mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, senantiasa tercurahkan rahmat-Nya dan terlihat ketenangan pada wajah mereka. Yang dengan itu ketika kita berteman dengan mereka maka kita akan juga merasakan ketenangan. Rasulullah bersabda “Tidaklah suatu kaum duduk mengingat Allah Ta’ala kecuali para Malaikat akan mengelilingi mereka dan mereka akan diliputi oleh rahmat Allah serta akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan Allah akan memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya“ (HR.Muslim)

Orang-orang shalih selalu nasihat-menasihati dan senantiasa mengajak untuk bersama berbuat amal shalih, yang ketika kita berteman dengan mereka kita akan mendapatkan nasihat-nasihat yang baik dan mengajak kita untuk berbuat kebaikan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Qs. Fushshilat:33)

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(Qs. Al Ashr:1-3)

Keshalih an orang-orang yang shalih ketika kita berteman dengan mereka, lambat laun akan melekat juga keshalihan pada diri kita. Oleh karenanya lingkungan memang sangat berperan terhadap perubahan diri seseorang. Ketika lingkungan kita shalih maka kita juga akan menjadi shalih. Rasulullah bersabda "Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk seperti pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Si pembawa minyak wangi mungkin ia akan menghadiahkannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau paling tidak kamu dapat mencium aroma semerbak wangi darinya. Adapun si pandai besi mungkin api akan membakar bajumu atau paling tidak kamu akan mencium bau tidak sedap darinya”. (HR. Bukhaari Muslim)

Sedikit ilmu dalam tulisan ini khusus ditujukan kepada saya pribadi hamba yang dhaif, segala apa yang tersampaikan benar dalam tulisan ini datangnya dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepada kita semua dan selalu menuntun kita tetap berada di Jalan-Nya. Amin.

Wallahu a’lam bishshawab

18 Mei 2009

Kita Sangat Perlu Aturan Dan Nasehat

oleh: Addy Aba Salma

Suatu hari sepulang dari bekerja, seperti biasa saya menggunakan bus jemputan menuju Kemayoran. Setelah sampai di Kemayoran saya harus melanjutkan perjalanan dengan menggunkan motor yang setiap harinya biasa saya parkir di lapak parkir belakang GSM (Garuda Sentra Medika). Baru saja ingin menyalahkan motor, sepertinya ada yang aneh dengan ban motor saya, benar saja ternyata ban motor saya gembes mungkin karena bocor halus, seharian di parkir akhirnya jadi gembes, cape’ deh... Saya mau tidak mau harus menambalnya, Alhamdulillah ada tukang tambal ban tidak jauh dari parkiran, di sebelah pintu perlintasan kereta api Kemayoran.

Sewaktu saya sedang menunggu ban motor dikerjakan tidak lama terdengar sirine berbunyi tanda akan adanya kereta api yang akan melintas. Tetapi di waktu yang bersamaan ketika sirine itu berbunyi dan pintu perlintasan perlahan akan menutup dari arah Jl. Angkasa ke Gunung Sahari ada dua kendaraan yang coba menerobos, Bajaj dan Mobil Kijang. Dua kendaraan tersebut tidak bisa melewati rel kereta api karena ternyata jalanan macet dan memang biasanya jalan itu ketika menjelang sore sering macet. Sirine masih saja berbunyi, dan orang-orang di sekitar yang melihat itu panik semua termasuk saya, apalagi sopir bajaj dan mobil kijang itu.

Terlihat petugas penjaga pintu perlintasan kereta api mengibarkan bendera berwarna merah sambil berlari menuju rel kereta api. Bendera itu ternyata untuk memberi kode kepada masinis untuk berhati-hati dan memberhentikan kereta yang sedang ia bawa. Saya lihat ke arah kanan dari arah stasiun Kota terlihat kereta yang berjalan perlahan-lahan dan akhirnya berhenti. Masinis kereta mungkin sudah melihat dari kejauhan kibaran bendera berwarna merah petugas penjaga perlintasan kereta api tersebut.

Karena jalanan macet kendaraan tidak bisa maju, dua kendaraan yang menerobos tadi didorong mundur kebelakang dibantu oleh orang-orang yang ada di sekitar pintu perlintasan kerat api. Setelah jalur kereta aman dari kendaraan yang menghalang barulah kereta itu kembali berjalan ...nguuuung jejes jejes jejes... Alhamdulillah tidak terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan, karena memang Allah SWT tidak menakdirkan sopir Bajaj dan sopir Mobil Kijang itu meninggal tertabrak kereta api pada hari itu.

Akhirnya selesai juga ban motor saya, bisa lanjut pulang neh... Sedikit bertanya kepada abang tukang tambal ban, menanyakan apakah disini sering terjadi kecelakaan? Tidak sering tapi pernah terjadi kecelakaan di pintu perlintasan ini baru saja kemarin ini katanya. Saya tanya karena apa, abang tukang tambal ban yang selalu berada di pintu perlintasan kereta api itu menerangkan karena mobil yang melintas tidak mengindahkan sirine tanda kereta akan lewat dan menerobos pintu perlintasan yang akhirnya, ya githu deh...

Kita semua memang harus mengikuti aturan, aturan untuk keselamatan kita ketika hendak melintasi pintu perlintasan kereta api adalah ketika sirine berbunyi di pintu perlintasan kereta api maka kita wajib berhenti dan menunggu sampai kereta api selesai melintas. Kita tidak boleh melanggar aturan itu, karena akan vatal akibatnya. Tidak hanya di dunia perkeretaapian, di dunia penerbangan apalagi sangat ketat dengan yang namanya aturan. Kalau tidak mengikuti aturan yang sudah diberlakukan maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. (baca tulisan Bapak Abubakar Renwarin tentang SMS)

Kalau dunia perkeretaapian dan dunia penerbangan saja memerlukan aturan, apalagi kita manusia sangatlah perlu aturan. Aturan untuk manusia hidup didunia ini agar selamat didunia dan selamat di akhirat adalah dengan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh yang menciptakan manusia dialah Allah SWT. Aturan itu adalah Al-Qur’an, yang ketika kita tidak mengikutinya pastilah kita akan tersesat dalam menjalani kehidupan didunia ini, seperti masyarakat arab jahiliyah pada masanya.

Masyarakat arab jahiliyah pada masa itu adalah masyarakat yang tidak memiliki aturan, mereka telah meninggalkan millah nabi Ibrahim as. Mereka sesat dalam gelapnya kehidupan, hawa nafsu yang mereka perturutkan. Yang pada akhirnya Allah SWT mengutus seorang Rasul pembawa cahaya untuk menerangi, membawa aturan untuk dijalankan, dialah Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang mendakwahkan manusia dengan Kalam Allah Al Quranul Karim. Beliaupun pernah bersabda ”Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku” (HR. Baihaqi)

Tetapi kita manusia yang pasti pernah melakukan kesalahan, pernah melakukan kekeliruan, pernah melakukan kelalaian. Kita manusia bukanlah seperti Nabi Muhammad SAW yang maksum, terbebas dari dosa. Oleh karenanya orang yang beriman diperintah untuk saling nasehat-menasehati supaya tidak menjadi orang-orang yang merugi dari kesalahan, kekeliruan dan kelalaian yang dilakukan (baca Qs Al ’Ashr:1-3). Ketika keluarga kita, sahabat kita, rekan kerja kita lalai maka kita coba untuk menasehatinya, begitu juga ketika kita yang lalai harus menerima nasehat dari orang lain. Kita harus peduli terhadap mereka yang lalai, seperti petugas penjaga pintu perlintasan kereta api dalam cerita diatas. Harus ada orang yang membantu menuntun mengarahkan ke jalan yang benar, seperti orang-orang yang membantu mendorong mundur mobil kijang dalam cerita diatas. Kalaulah tidak ada petugas penjaga pintu perlintasan kereta api dan orang-orang yang ada di sekitarnya pastilah sopir Bajaj dan sopir Mobil Kijang tersebut akan mengalami kerugian karena melanggar aturan. Beristighfarlah atas kesalahan, kekeliruan dan kelalaian yang kita lakukan.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yeng senantiasa berpegang teguh pada aturan yang telah dibuat oleh Allah SWT yaitu Al Quranul Karim dan juga berpegang teguh pada Hadist Rasulullah SAW. Semoga kita juga tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi di dunia apatah lagi di akhirat kelak. Amin... Amin... Ya Rabbal ’alamin....

Wallahu a’lam bishshawab


14 Mei 2009

Cahaya Itu Jangan Dibiarkan Meredup

oleh: Addy Aba Salma

Semut-semut kecil... saya mau tanya... apakah kamu didalam tanah... tidak kegelapan... ini adalah penggalan bait sebuah lagu anak-anak, namanye juga anak-anak iseng aje nanya-nanyain semut. Tapi ada benarnya juga bertanya, dengan bantuan apa koloni semut itu dalam beraktivitas di bawah rongga-rongga tanah? yang kita tahu pastinya disana memang gelap, tidak ada cahaya tembus menerangi. Karena dalam sudut pandang manusia dalam beraktivitas kita memerlukan cahaya dalam membantu mata kita dapat melihat. Ketika siang kita dibantu cahaya mentari, ketika malam kita dibantu cahaya rembulan. Lain manusia lain juga dengan semut, Allah SWT menciptakan semut yang tinggalnya di dalam rongga-rongga tanah yang sarat dengan kegelapan tetapi semut masih bisa beraktivitas dalam kegelapannya itu. Itulah kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Karena sangat perlunya cahaya, akhirnya manusia berfikir bagaimana kalau cahaya matahari dan rembulan itu tidak bisa maksimal dalam membantu mata kita untuk melihat karena cahayanya terhalang atap atau sekat sebuah bangunan. Maka digunakanlah api untuk menerangi, dari dengan cara membuat obor, api unggun, lampu tempel sampai lilin khususnya untuk dimalam hari. Kemudian akhirnya biidznillah manusia menemukan bola lampu, yang sampai saat ini sangatlah berguna bagi kita untuk membantu beraktivitas dalam ruang yang terhalang dari cahaya sinar mentari dan rembulan.

Cahaya mentari, rembulan, obor, lampu tempel, lilin sampai bola lampu itu memang sangatlah diperlukan oleh kita manusia untuk membantu dalam menjalani aktivitas di dunia ini. Cobalah kita berjalan di dalam gelap, tentunya kita tidak akan bisa kecuali kita mendapati cahaya walaupun hanya sedikit. Bersyukurlah kita akan nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita, nikmat mata yang dapat melihat dan nikmat cahaya yang dapat menerangi.

Kita manusia memerlukan cahaya bukan hanya untuk berjalan ketika di dunia, tetapi kita juga amat sangatlah perlu cahaya untuk perjalanan kita menuju ke akhirat. Apa jadinya ketika dalam perjalanan kita menuju akhirat tempat kita hidup untuk selama-lamanya kelak, tidak ada cahaya yang menerangi. Pastinya kita tidak ingin kita tersesat dalam sepanjang perjalanannya, tersesat ke tempat dimana kita tidak menginginkannya.

Hanya ada dua tujuan perjalanan kita menuju akhirat, Syurga dan Neraka. Cahaya akan menuntun kita ketempat yang kita sama-sama inginkan yaitu Syurga. Karena dengan cahaya kita bisa melihat jalan menuju ke sana. Tetapi ketika kita tidak mendapatkan dan jauh dari cahaya itu maka kita akan tersesat menuju Neraka.

”Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Hadid:28)

Cahaya itu jangan dibiarkan meredup, meredup dengan banyaknya kemaksiatan yang kita lakukan. Meredup bersamaan dengan lemahnya keimanan kita yang ketika dibiarkan semakin turun kualitasnya. Ketahuilah Keimanan kita itu kadang naik dan kadang turun, Imam Al Ghazali menerangkan bahwa keimanan kita naik ketika kita dalam keta’atan kepada-Nya, dan keimanan kita turun ketika kita asyik terlena dengan kemaksiatan kepada-Nya.

Kembalilah kita kepada sumber cahaya itu yaitu Al Qur’an, dan berdoalah kepada Allah SWT untuk senantiasa diberikan kesempurnaan cahaya pada diri kita dan memohon ampun kepada-Nya. Mumpung kita masih diberi waktu.

”Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. As Syuura:52)

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs. At-tahrim:8)

Wallahu a’lam bishshawab