aku, diantara yang berjalan di atas punggung bumi, untuk terus BELAJAR

-Addy Aba Salma-

Tampilkan postingan dengan label Ibrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibrah. Tampilkan semua postingan

30 Juli 2010

Tausyiah Kematian Yang Tidak Disukai

oleh: Addy Aba Salma

Ramadhan dua tahun yang lalu, Pak Ikhwan (bukan nama sebenarnya) namanya tercatat sebagai pengisi kultum di mushalla tempat tinggalnya. Pengurus Mushalla meminta Pak Ikhwan untuk bersedia mengisi Kultum sesuai dengan jadwal yang telah diberikan.

Kultum adalah kuliah tujuh menit, yang di isi sebuah tausyiah singkat setelah shalat tarawih, sebelum melanjutkan shalat witir. Istilah Kultum sangat marak ketika bulan Ramadhan, hampir di setiap masjid dan mushalla mengadakan Kultum. Kultum tidak harus setelah shalat tarawih, ada juga panitia masjid atau mushalla yang mengadakannya setelah shalat witir.

Kultum atau kuliah tujuh menit, pada prakteknya para pengisi Kultum menyampaikan tausyiahnya bisa lebih dari tujuh menit, malah bisa sampai tujuh belas menit. Tetapi insya Allah walaupun tujuh belas menit, para jama’ah menikmati dan mendengarkan Kultum/tausiyah yang disampaikan.

Memang terdengar dari beberapa dari jama’ah yang mengucapkan ‘amiiin…’ di menit yang kesepuluh, yang maksudnya mungkin pengisi Kultum disuruh cepat-cepat selesai dari Kultumnya, biasanya sih memang begitu. Begitulah masih ada jama’ah yang tidak betah mendengarkan Kultum/tausyiah lama-lama. Tetapi kenapa tidak terjadi pada waktu Khutbah shalat jum’at, tidak ada yang berkata ‘amiiin..’, mungkin karena yang tidak betah mendengarkan khutbah pada tertidur ketika Khatib menyampaikan Khutbahnya.

Kembali kepada Pak Ikhwan. Pak Ikhwan menerima tawaran itu, dan mulai mempersiapkan materi yang akan disampaikannya nanti ketika jadwal kultumnya sudah tiba. Pak Ikhwan bolak-balik membaca buku untuk persiapannya mengisi Kultum. Sebenarnya Pak Ikhwan ingin menolak karena belum pantas untuk menyampaikan tausyiah di dalam Kultumnya, karena masih banyak yang lainnya yang lebih tua. Tetapi Pak Ikhwan yang masih berumur 30 tahun waktu itu berusaha bisa, dan menjadikan itu sebagai ajang pelatihan buat dirinya untuk menyampaikan kebenaran diatas mimbar, berdakwah yang diniatkannya hanya karena Allah SWT.

Jadwal Kultum Pak Ikhwan akhirnya tiba. Pak Ikhwan mengisi Kultum ba’da shalat tarawih malam itu. Ia menyampaikan tausyiah dalam Kultumnya, “Kullu nafsin dzaiqatul maut, bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati…”. Pak Ikhwan menyampaikan tausyiah tentang kematian.

“Kita semua pasti akan menemui kematian. Hidup kita didunia ini hanyalah sementara. Tentunya kita semua menginginkan ketika menemui kematiannya dalam keadaan khusnul khatimah, kita semua tidak ada yang menginginkan mati dalam keadaan su’ul khatimah. Malaikat Izrail bisa saja datang tiba-tiba menjemput kita. Ketika kita sedang ‘banting kartu’ atau pada saat kita ‘nyekek botol’, yang berarti dengan itu kematian kita itu dalam keadaan su’ul khatimah” papar Pak Ikhwan.

Pak Ikhwan melajutkan dengan menyampaikan sebuah ayat, “Dan Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Munafiqun Ayat 11: ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya…’.”

Begitulah sebagian tausyiah yang disampaikan Pak Ikhwan dalam Kultumnya malam itu, tausyiah yang mengingatkan kita akan kematian yang bisa datang secara tiba-tiba dan tidak bisa kita menangguhkannya.

Beberapa hari kemudian, Pak Ikhwan dikabarkan tetangganya Pak Tono (bukan nama sebenarnya), bahwa ada yang tidak senang dengan apa yang disampaikan dalam Kultum Pak Ikhwan beberapa hari yang lalu itu. Pak Ikhwan bertanya dalam hati, “Apa yang salah ya? Dalam Kultum aku kemarin ini…”

Pak Ikhwan menjadi penasaran ingin tahu dan bertanya kepada Pak Tono, “Pak, kalau boleh tahu, siapa yang tidak suka dengan isi Kultum saya? Dan apa ada yang salah dengan kultum saya?”, Pak Tono tidak menjelaskan siapa yang tidak suka dengan isi Kultum Pak Ikhwan, Pak Tono hanya berkata, “Mereka tidak suka Bapak membawa-bawa istilah ‘banting kartu’ dalam kultum Bapak kemarin itu…”

Pak Ikhwan langsung mengerti duduk persoalannya, kenapa mereka tidak suka. Tausyiah kematian yang tidak disukai oleh mereka itu karena ‘menyentil’ mereka rupanya. Mereka tersinggung. ‘Banting kartu’ yang di singgung oleh Pak Ikhwan dalam Kultumnya itu memang maksudnya adalah orang yang suka bermain kartu remi/gaple. Karena memang mereka suka bermain kartu di pinggir jalan, membuang-buang waktu hanya untuk bermain kartu di pinggir jalan. Yang parahnya lagi mereka bermain kartu juga walaupun di bulan Ramadhan. Memang meraka bermain kartu tidak memakai uang, hanya bermain hukuman jepit telinga dengan jepitan baju bagi mereka yang kalah. Tetapi seharusnya mereka menghormati bulan Ramadhan, bulan mulia yang penuh dengan keberkahan, jangan disia-siakan waktunya hanya untuk ‘banting kartu’.

Pak Ikhwan sudah mencoba untuk berdakwah dalam Kultumnya, mengajak manusia dari yang salah menuju yang benar. Tetapi begitulah manusia ada yang menerima ada yang tidak. Sudah sunatullah, Pak Ikhwan sudah berikhtiar, hasilnya serahkan kepada Allah SWT.

Ket:
banting kartu = main kartu remi/gaple’
nyekek botol = minum minuman keras

08 Juli 2010

Pelajaran Kebaikan Di Waktu Subuh

oleh: Addy Aba Salma

Waktu menunjukkan pukul 04.00 subuh, tidak biasanya Qanitah bangun pada waktu itu. Qanitah adalah anak perempuan yang masih berumur empat tahun. Ada apa Qanitah se-subuh itu sudah bangun dari tidurnya. Mungkin karena Bundanya yang sudah bangun dari tidur, untuk melanjutkan sisa pekerjaan menghitung nilai-nilai anak muridnya di sekolah, karena akhir pekan ini akan ada pembagian raport di sekolah. Ya, karena Bunda Qanitah adalah seorang guru dan diamanahi sebagai wali kelas.

Ayah Qanitah akhirnya terbangun dari tidur nyenyaknya. Dan ia melihat suasana kamar tengah yang sudah ada kehidupan, istrinya yang sedang melanjutkan menghitung nilai-nilai anak muridnya dengan ditemani Qanitah anak tersayangnya.

Dan akhirnya kumandang adzan subuh pun terdengar dari musholla belakang rumahnya. Allahu akbar… Allahu akbar… bersamaan dengan itu Qanitah langsung berkata sambil berjalan menuju Ayahnya, ”Ayah sudah adzan, sudah adzan, shalat di masjid Ayah… Qanitah ikut”. “Sekarang sholat apa Ayah, koq ada adzan ya…”, tanya Qanitah, “Sekarang shalat subuh Qanitah…, iya itu namanya adzan subuh…” jawab ayahnya sambil tersenyum. Ayah Qanitah segera bersih-bersih dan berwudhu.

Seperti hari-hari sebelumnya, Ayah Qanitah senantiasa berusaha untuk shalat berjama’ah di musholla. Dan sesekali memang Qanitah anaknya diajak untuk shalat berjama’ah di musholla, kecuali shalat subuh, karena memang biasanya Qanitah belum bangun dari tidur nyenyaknya. Ayah Qanitah juga sering berkata kepada anaknya, “Qanitah, kalau sholat harus berjama’ah di masjid. Bapak-bapak, anak laki-laki, sholatnya berjama’ah di masjid. Kalau anak perempuan sholat di masjid atau di rumah juga boleh”.

Ayah Qanitah menunggu anaknya untuk sekedar cuci muka, karena air masih sangat dingin bagi Qanitah yang masih berumur empat tahun, jadi ia hanya cuci muka saja untuk menghilangkan kantuknya yang masih terlihat di wajah lucunya, dan kemudian Qanitah mengenakan jilbab kecilnya.

Mereka melangkah bersama menuju musholla untuk shalat subuh berjama’ah. Sesampainya di musholla, yang hanya kurang lebih 30 langkah dari depan rumahnya, lqamat pun terdengar. Dan langsung mereka mengambil shaf kedua, karena shaf pertama sudah terisi penuh, Qanitah yang masih kecil berada di samping kanan ayahnya. Shaf kedua adalah shaf terakhir dari shalat subuh berjama’ah waktu itu, dan tidak juga terisi penuh. Begitulah kondisi shalat subuh di mushalla perumahan tempat Ayah Qanitah tinggal, tidak banyak jama’ah yang hadir. Kondisi seperti ini mungkin juga sama di masjid-masjid atau mushalla-mushalla lainnya. Sepi dari jama’ah yang hadir.

Tidak ada teman sebaya Qanitah pada waktu shalat shubuh berjama’ah itu. Setelah selesai shalat Qanitah pun coba melihat kebelakang, melihat shaf tempat shalat untuk anak-anak perempuan. Hanya hamparan sajadah panjang saja yang ada. Disitu biasanya Qanitah dan teman-teman sebayanya ketika shalat maghrib berjama’ah, disitu juga tempat untuk anak-anak perempuan mengaji Iqra’ setelah shalat Maghrib.

Setelah selesai berdo’a Ayah Qanitah mengajak anaknya untuk kembali kerumah. Sebelum keluar dari ruang mushalla, Ayah Qanitah mengeluarkan selembar uang kertas yang sudah di lipat dari sakunya Rp 5.000,-. Diberikannya lipatan uang kertas itu kepada Qanitah dan sambil berkata: “Qanitah ini uangnya cemplungin ke kotak amal jariah”, “Yang mana Ayah?...”, “Itu kotak amalnya...” Ayah Qanitah sambil menunjuk kotak amal yang ada di sebelah kiri pintu musholla, “Oh itu… celengan ya Ayah…”, “Bukan, itu bukan celengan, itu kotak amal” Ayah Qanitah menjelaskan, “Koq kaya’ celengan ya Ayah…”, “Iya ada lubang untuk cemplungin uangnya ya…”. Qanitah pun mengulurkan tangannya ke kotak amal itu, sambil mencemplungkan uang kertas yang ada dalam genggamannya, seraya berkata “Bismillahirrahmanirrahiiim…”

Merekapun melangkah keluar musholla dan berjalan menuju rumah. Alhamdulillah… Ayah Qanitah bersyukur kepada Allah SWT, karena anaknya mendapatkan pelajaran kebaikan di waktu subuh yang dapat ia berikan dan contohkan. Pelajaran kebaikan shalat subuh berjama’ah dan mengeluarkan sebagian rizki untuk di infaq-kan di jalan Allah.

”Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari Muslim)

“Barangsiapa yang sholat Isya’ berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat subuh berjamaah maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh.” (HR. Muslim)

“Para malaikat berkumpul pada saat shalat subuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga subuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’.”(HR. Ahmad)

“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang ber-infaq”. Dan lainnya berkata, “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang bakhil” (HR. Bukhari Muslim)

28 Juni 2010

Mengundang Malaikat Datang Mendo'akan

oleh: Addy Aba Salma

Masih kurang lebih setengah jam lagi waktu memasuki waktu shalat subuh. Terlihat di remangnya lampu jalan seseorang sedang berjalan. Orang itu mengenakan kopiah, baju koko dan bersarung. Orang itu adalah Ustadz Anwar (bukan nama sebenarnya), Ustadz yang biasa mengajarkan anak-anak mengaji Iqra’ di musholla Al Ikhlas.

Ustadz Anwar sedang berjalan menuju musholla, ia memang sering berangkat lebih awal dari waktu shalat subuh tiba. Ia manfaatkan waktu sebelum waktu shalat subuh tiba untuk shalat sunnah terlebih dahulu dan berdzikir. Beliau menunggu datangnya waktu shalat. Ustadz Anwar mengundang malaikat datang mendo’akan.

“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendo’akannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’.” (HR. Muslim)

Kumandang adzan subuh pun mengalun terdengar. Menandakan waktu shalat subuh telah tiba. Tidak ada petugas muadzin di mushalla Al-Ikhlas. Siapa saja boleh mengumandangkan adzan ketika sudah waktunya. Tetapi memang ada yang biasa mengumandangkan adzan, dia adalah Pak Irwan (bukan nama sebenarnya) yang suaranya selalu terdengar mengumandangkan adzan subuh, membangunkan orang-orang yang masih terlelap tidur untuk bangun dan segera mendatangi musholla untuk shalat berjama’ah, Asshalatu khairumminannaum... Asshalatu khairumminannaum...

Di hari-hari sebelumnya, sesekali memang terdengar adzan dari musholla yang tidak lain itu adalah suara Ustadz Anwar. Yang berarti tidak ada orang selainnya yang sudah berada di dalam musholla. Karena waktu shalat telah tiba, maka ia pun mengumandangkan Adzan, Allahuakbar… Allahuakbar… Tidak ada yang panjang alunan kumandang adzannya, karena memang mungkin ia sudah tua, kurang lebih 60 tahun usianya, ia tidak lagi sanggup memanjangkan setiap bait-bait bacaan adzan.

Setelah jama’ah yang datang selesai shalat sunnah qabliyah subuh, iqamat pun dikumandangkan. Jama’ah berbaris di shaf pertama dan sebagian lagi berada di shaf kedua yang tidak terisi penuh barisannya.

Biasanya Ustadz Anwar yang menjadi Imam jama’ah shalat subuh, tetapi bila ada Ustadz yang dianggap sepuh lainnya hadir, maka Ustadz Anwar mempersilahkannya untuk menjadi Imam. Dan Ustadz Anwar mengambil shaf pertama persis dibelakang Imam. Ustadz Anwar mengundang malaikat datang mendo’akan.

“Para malaikat berkumpul pada saat shalat subuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga subuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’.”(HR. Ahmad)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang–orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Begitulah ustadz Anwar, senantiasa ia berusaha mengundang malaikat datang untuk mendo’akannya.

Selain di waktu subuh, di kesempatan waktu-waktu lainnya Ustadz Anwar juga senantiasa berusaha mengundang malaikat datang untuk mendo’akannya. Ustadz Anwar adalah Ustadz yang suka menggantikan mengisi pengajian malam ahad di musholla ba’da maghrib, ketika Ustadz yang di undang berhalangan hadir, Ustadz Anwar mengantikannya mengajarkan kebaikan kepada para jama’ah yang hadir. Ustadz Anwar mengundang malaikat datang mendo’akan.

“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (HR. Tirmidzi)

20 Maret 2010

Usia 13 Tahun Menjadi Hafidz

oleh : Addy Aba Salma

“Anak ana (saya) tadi malam sudah khatam”, begitu kata Pak Iwan (bukan nama sebenarnya), yang terlihat wajahnya sangat senang sekali ketika mengabarkannya. Bagaimana tidak, anaknya Farhat (bukan nama sebenarnya) yang baru berumur 13 tahun itu sudah khatam menghafal Al Qur’an. Ya… anaknya yang baru berumur 13 tahun tersebut sudah khatam menghafal Al Qur’an 30 Juz. Khatam hafalannya bertepatan dengan hari lahirnya yang ke 13 tahun.

Kemudian Pak Iwan memperdengarkan beberapa rekaman di HP nya murotal yang dibawakan oleh Farhat, kakak dari 2 orang adik-adiknya. Subhanallah… bagus sekali suaranya tidak seperti anak yang baru berumur 13 tahun, gumamku dalam hati. Menyusul adiknya yang kedua Farhan (bukan nama sebenarnya), juga akan di kader menjadi seorang Hafidz, yang kini baru menghafal 1 juz Al Qur’an.

Sebelum disekolahkan di SMP Islam Terpadu, ketika masih di SD Islam Farhat sudah hafal 6 Juz, sisanya ia khatamkan ketika di SMP Islam Terpadu, yang sekarang baru duduk di kelas 2 SMP. Dan Pak Iwan pernah bercerita memang di dalam keluarganya, beliau senantiasa mengajak seluruh keluarganya, istri dan anak-anaknya bahkan pembantunya untuk membiasakan tidak meninggalkan untuk membaca Al Qur’an. Dan jadwal membaca Al Qur’an bersama dalam keluarganya adalah selepas shalat Maghrib, setiap harinya.

Hasil dari pendidikan yang ia terapkan kepada keluarga khususnya kepada anak-anaknya membuahkan hasil. Anak-anaknya senang membaca Al Qur’an, dan meningkat bukan hanya untuk membacanya saja tetapi juga untuk menghafalnya. Tentunya juga mencoba untuk mengamalkannya.

Pak Iwan tidak hanya menyuruh anaknya untuk membaca dan mempelajari Al Qur’an, tetapi beliaupun mencontohkannya terlebih dahulu. Beliau juga membaca dan mempelajari Al Qur’an bersama-sama Istri dan anak-anaknya. Dari contoh itulah yang akhirnya anak-anaknya mengikuti dari kebaikan yang ada pada kedua orang tuanya.

Saya pun teringat cerita Pak Iwan beberapa tahun yang lalu tepatnya di bulan Ramadhan ketika ia mendapat jadwal kultum di musholla kantor. Beliau bercerita bahwa ketika anak pertamanya itu masih dalam kandungan ibunya, Dokter yang memeriksa kesehatan kehamilan Istrinya mengabarkan bahwa terdapat kelainan yang di alami oleh janin di dalam kandungan. Oleh karenanya ketika anaknya nanti lahir, akan mengalami kelainan atau kecacatan.

Dokter menyarankan untuk mengaborsi kandungan istrinya. Terlihat berkaca-kaca mata Pak Iwan menceritakan pengalamannya ketika istrinya mengandung anak pertamanya tersebut. Tetapi Pak Iwan tidak mengikuti apa yang disarankan oleh Dokter. Ia serahkan segalanya kepada Allah SWT. Walaupun ketika lahir nanti anaknya akan ada kelainan atau cacat ia akan terima. Daripada harus mengaborsi kandungan, yang sama saja itu dengan membunuh.

Dan akhirnya anak pertamanyapun lahir, diberikannya nama Farhat. Dalam perjalanan pertumbuhannya apa yang dikatakan oleh Dokter itu tidaklah menjadi kenyataan. Malah sebaliknya anak itu tumbuh menjadi anak yang pintar, berprestasi gemilang di kelas. Dan prestasi yang sangat membanggakan itu adalah kini anaknya menjadi seorang Hafidz (hafal Al Qur’an) di usianya yang ke 13 tahun. Usia yang belumlah masuk usia dewasa, tetapi masih dalam usia anak-anak.

Alhamdulillah, keberkahan selalu akan mengiringi. Farhat dijanjikan oleh Ustadz pengasuhnya di SMP Islam Terpadu, jika telah hafal 30 juz akan diberangkatkan Umroh ke tanah suci.

01 Maret 2010

Ghirah (Semangat) Seorang Kakek Tua

oleh: Addy Aba Salma

Lima tahun yang lalu saya mengenal sorang kakek yang berumur kurang lebih 90 tahunan. Saya mengenalnya karena saya menikahi salah satu cucu dari kakek tersebut. Semenjak 4 tahun lalu beliau sudah menjadi Kakek Buyut dari anak saya. Kakek itu bernama Sadi. Saya biasa memanggilnya Bapak Sadi, karena memang cucu-cucu beliau memanggilnya Bapak Sadi. Panggilan untuk Kakek di dalam keluarga Istri saya adalah Bapak. Bapak Sadi adalah sesepuh di kampung tempat dibesarkannya istri saya, Desa Angrit Kampung Leuwiipuh, Lebak Banten. Butuh waktu 3 s.d 4 jam dari Terminal Pakupatan Serang untuk sampai ke Desa ini dengan menggunakan jasa angkutan umum jurusan Serang-Malimping.

Bapak Sadi menurut saya adalah sosok kakek yang terdapat keteladanan pada dirinya. Dalam keadaannya yang sudah renta ia masih senantiasa memiliki ghirah (semangat) dalam beribadah. Shalat 5 waktu dikerjakannya di awal waktu ketika adzan terdengar berkumandang. Karena kerentaannya memang beliau sudah tidak kuat lagi berjalan jauh untuk mendatangi mushola tetapi beliau lakukannya di rumah, kecuali shalat jum’at beliau masih memiliki semangat untuk berangkat ke Masjid yang biasanya di bonceng motor oleh menantunya yaitu Ayah dari Istri saya. Karena masjid yang ada untuk melakukan sholat Jum’at ada di Desa tetangga yang jaraknya lebih kurang 1 kilo meter dari rumah Bapak Sadi.

Selain shalat 5 waktu itu, beliau juga senantiasa melaksanakan shalat dhuha dan membaca Al Qur’an di setiap pagi dan sore hari. Al Qur’an yang beliau baca itu selalu ada di atas meja tamu, dan memang beliau biasa membacanya di ruang tamu. Dan pemandangan itu sangat jelas terlihat oleh saya dari depan teras rumah orang tua istri saya.

Dalam waktu yang sudah memasuki usia senja beliau benar-benar memanfaatkan waktunya untuk tidak melewatkan ibadah yang masih sanggup beliau lakukan. Itu beliau lakukan bukan karena usia yang sudah memasuki usia senja, tetapi memang semasa mudanya beliau juga adalah orang yang selalu mencoba untuk berbuat baik dan beramal sholeh. Semasa kecil cucu-cucunya diantaranya istri saya, adalah beliau yang mengajarkan mereka supaya lancar dalam membaca Al Qur’an.

Setiap kali saya berkesempatan pulang kampung ke rumah orang tua istri untuk bersilaturrahim ketika Idul Fithri atau hari-hari libur panjang, saya singgah juga kerumah Bapak Sadi yang memang rumahnya tidak jauh karena bertetanggaan dengan rumah orang tua istri. Kebiasaannya itu masih saja beliau lakukan, sholat tepat waktu, sholat dhuha dan membaca Al Qur’an.

Subhanallah... ada keberkahan yang diberikan Allah SWT kepada Bapak Sadi. Ketika musim kemarau datang, kemarau yang berkepanjangan, sumur-sumur warga desa menjadi kering. Tidak ada sumber air untuk keperluan sehari-hari, tetapi tidak jauh di belakang rumah Bapak Sadi tetap mengalir sumber mata air. Yang hampir semua warga Desa mengambil keperluan airnya dari sumber mata air tersebut. Untuk keperluan mandi dan juga mencuci pakaian.

Yang mengatakan ada keberkahan itu adalah Ustadz Samson Rahman, penterjemah buku Best Seller La Tahzan. Ustadz Samson Rahman adalah suami dari salah satu cucu Bapak Sadi. Istri dari Ustadz Samson Rahman adalah saudara sepupu dengan istri saya. Ketika hari Idul Fithri memang biasanya kami berkumpul di rumah Bapak Sadi untuk bersilaturrahim keluarga. Dalam kesempatan itu juga saya sempatkan untuk berdiskusi ringan kepada Ustadz Samson Rahman yang biasa saya panggil Kak Samson.

***

Saya mencoba untuk intropeksi diri, berkaca pada seorang Bapak Sadi, seorang kakek yang hampir satu abad hidup di dunia ini, yang tetap dalam ghirah (semangat) beribadah walaupun telah renta badan termakan usia, walaupun telah putih seluruh rambut tak bersisa hitam, walaupun telah keriput kulit tak lagi kencang, walaupun terkadang datang sakit-sakitannya seorang tua. Bagaimana dengan saya yang masih muda dalam usia, yang masih hitam seluruh rambut, yang masih kencang kulit menutupi tulang, yang masih banyak sehat daripada sakitnya. Seharusnya ghirah (semangat) beribadah yang ada pada diri ini, haruslah melebihi ghirah (semangat) seorang kakek tua, Bapak Sadi.

Teringat akan sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya” (HR. Ahmad). Semoga sisa nikmat umur yang entah sampai kapan akan diberikan-Nya, tergunakan dalam rangka untuk senantiasa berbuat baik dan beribadah kepada-Nya. Untuk menyongsong hari yang pasti, hari dimana ajal kan datang menghampiri, dan setiap manusia di dunia ini tanpa terkecuali akan merasakannya.

Tiada daya kekuatan setiap hamba dalam menjauhi maksiat, dan tiada daya kekuatan setiap hamba dalam melakukan keta’atan, kecuali atas pertolongan-Mu Ya Allah. Laa haw laa Walaa Quwwataa Illa Billahi ’Aliyil ’Adzim. Amiin...

Wallahu’alam

28 Mei 2009

Matahari Tengah Hari Bolong

oleh: Addy Aba Salma

Apa yang kita rasakan ketika pada saat tengah hari bolong kate orang Jakarte atau jam 12 siang berada di tengah tanah yang lapang, atau sebut saja di tengah lapangan bola. Pasti yang kita rasakan adalah panas yang sangat menyengat, dan bisa merubah warna kulit kita kalau terlalu lama tekena teriknya, “untung ada produk krim pelindung dari sinar matahari...”, kata mereka yang memiliki uang berlebih.

Coba saja di tengah hari bolong itu kita tidak memakai alas kaki bisa-bisa telapak kaki kita akan terasa kepanasan, setidaknya ini yang saya rasakan waktu sandal saya sudah tidak berada ditempat ketika saya ingin kembali ke kantor ba’da sholat Jum’at di Masjid At-Taqwa GMF tempat saya bekerja. Sebenarnya sandal itu tidak hilang mungkin ada yang meminjam tanpa izin untuk dipakai ke toilet, tetapi karena saya tunggu lama kurang lebih 15 menitan sembari mencari kesana-kesini tidak kunjung ada, akhirnya saya kembali saja ke kantor berjalan tanpa alas kaki menuju kantor saya di gedung TR, Insya Allah saya Ikhlas dengan hal ini. Benar saja sepanjang perjalanan menuju kantor saya coba menahan panasnya bumi yang tak kuat telapak kaki menapak, iiy... auw... uuw... sepanjang perjalanan saya menahan panasnya sambil berjalan agak cepat. Sesampainya di kantor telapak kaki saya masih saja terasa panas, karena memang saya tidak lewat koridor tetapi lewat gedung GSE yang tak berkoridor, salah sendiri kasiaan deh... (nggak pake’ lho)

Tengah hari bolong atau Jam 12 siang enaknya kita istirahat di bawah rindangnya pepohonan, wah bisa ketiduran tuh... atau makan siang ditemani minuman yang dingin. Apalagi terik matahari sekarang lebih terik dari tahun-tahun yang lalu, akibat dari global warming.

Begitulah apa yang bisa kita rasakan pada saat tengah hari bolong ketika di dunia. Di akhirat pun kita akan merasakan teriknya matahari seperti matahari tengah hari bolong. Tidak ada matahari pagi yang panasnya dapat berguna bagi tulang kita, tidak ada matahari sore yang keindahan terbenamnnya dapat kita nikmati dari pinggiran pantai, Subhanallah... Tetapi di akhirat nanti matahari berada dekat sekali dengan manusia yang dikumpulkan di suatu tanah lapang, yang dengan keadaan itu mereka mendapatkan kesusahan dan penderitaan yang tiada terkira, sehingga mereka merasa tidak kuat lagi menahan penderitaan itu.

Mereka saling bertanya kepada siapa gerangan meminta syafa’at. Mereka mendatangi bapak mereka semua yaitu Nabi Adam AS, tetapi Nabi Adam AS menjawab ”Oh diriku, diriku, diriku; pergilah kalian kepada selain aku”. Kemudian mereka mendatangi Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, mereka pun mendapatkan jawaban yang sama seperti jawaban Nabi Adam AS ”Oh diriku, diriku, diriku; pergilah kalian kepada selain aku”. Karena mereka semua tidak bisa memberikan syafa’at.

Kemudian atas saran Nabi Isa AS mereka disuruh untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW. Merekapun mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk meminta syafa’at darinya. Kemudian Nabi Muhammad SAW datang kepada Allah SWT dan bersujud di bawah Arsy-Nya. Allah SWT selanjutnya memberikan pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan menyuruhnya mengangkat kepala dari sujudnya, kemudian menyuruh untuk meminta permohonan syafa’at yang pasti akan di kabulkan permohonannya itu. Akhirnya Nabi Muhammad SAW meminta permohonan untuk diberikan syafa’at kepada ummatnya seraya berkata ”ummatku wahai Tuhan, ummatku wahai Tuhan, ummatku wahai Tuhan”. Pada akhirnya dimasukkanlah ummat Nabi Muhammad SAW yang tiada di hisab kedalam syurga melalui pintu kanan, dan selain mereka dimasukkan ke dalam syurga melalui pintu-pintu syurga lainnya bersama ummat-ummat yang lain.

Begitulah kurang lebihnya yang akan terjadi di akhirat nanti berdasarkan dari hadist shahih yang cukup panjang sekali redaksinya, diriwayatkan oleh Muttafaq ’alaihi. (lihat kitab Hadist Riyadhus Shalihin jilid 2, Bab Tentang Hadist-Hadist Yang Tersebar dan Memuat Ceritera. Hadist No:59)

Sudahkah kita menjadi ummatnya Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menjadikan beliau sebagai uswatun hasanah? mengikuti sunah-sunahnya, yang dengan itu semoga kelak di akhirat nanti kita akan mendapatkan syafa’atnya yang tiada seorang nabi dan rasul pun yang dapat memberikannya dari kesusahan dan penderitaan yang tiada terkira yang terjadi di hari itu, dimana matahari akan berada dekat sekali dengan manusia, lebih amat sangat dahsyat dari matahari tengah hari bolong ketika di dunia.

Wallahu a’lam bishshawab

18 Mei 2009

Kita Sangat Perlu Aturan Dan Nasehat

oleh: Addy Aba Salma

Suatu hari sepulang dari bekerja, seperti biasa saya menggunakan bus jemputan menuju Kemayoran. Setelah sampai di Kemayoran saya harus melanjutkan perjalanan dengan menggunkan motor yang setiap harinya biasa saya parkir di lapak parkir belakang GSM (Garuda Sentra Medika). Baru saja ingin menyalahkan motor, sepertinya ada yang aneh dengan ban motor saya, benar saja ternyata ban motor saya gembes mungkin karena bocor halus, seharian di parkir akhirnya jadi gembes, cape’ deh... Saya mau tidak mau harus menambalnya, Alhamdulillah ada tukang tambal ban tidak jauh dari parkiran, di sebelah pintu perlintasan kereta api Kemayoran.

Sewaktu saya sedang menunggu ban motor dikerjakan tidak lama terdengar sirine berbunyi tanda akan adanya kereta api yang akan melintas. Tetapi di waktu yang bersamaan ketika sirine itu berbunyi dan pintu perlintasan perlahan akan menutup dari arah Jl. Angkasa ke Gunung Sahari ada dua kendaraan yang coba menerobos, Bajaj dan Mobil Kijang. Dua kendaraan tersebut tidak bisa melewati rel kereta api karena ternyata jalanan macet dan memang biasanya jalan itu ketika menjelang sore sering macet. Sirine masih saja berbunyi, dan orang-orang di sekitar yang melihat itu panik semua termasuk saya, apalagi sopir bajaj dan mobil kijang itu.

Terlihat petugas penjaga pintu perlintasan kereta api mengibarkan bendera berwarna merah sambil berlari menuju rel kereta api. Bendera itu ternyata untuk memberi kode kepada masinis untuk berhati-hati dan memberhentikan kereta yang sedang ia bawa. Saya lihat ke arah kanan dari arah stasiun Kota terlihat kereta yang berjalan perlahan-lahan dan akhirnya berhenti. Masinis kereta mungkin sudah melihat dari kejauhan kibaran bendera berwarna merah petugas penjaga perlintasan kereta api tersebut.

Karena jalanan macet kendaraan tidak bisa maju, dua kendaraan yang menerobos tadi didorong mundur kebelakang dibantu oleh orang-orang yang ada di sekitar pintu perlintasan kerat api. Setelah jalur kereta aman dari kendaraan yang menghalang barulah kereta itu kembali berjalan ...nguuuung jejes jejes jejes... Alhamdulillah tidak terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan, karena memang Allah SWT tidak menakdirkan sopir Bajaj dan sopir Mobil Kijang itu meninggal tertabrak kereta api pada hari itu.

Akhirnya selesai juga ban motor saya, bisa lanjut pulang neh... Sedikit bertanya kepada abang tukang tambal ban, menanyakan apakah disini sering terjadi kecelakaan? Tidak sering tapi pernah terjadi kecelakaan di pintu perlintasan ini baru saja kemarin ini katanya. Saya tanya karena apa, abang tukang tambal ban yang selalu berada di pintu perlintasan kereta api itu menerangkan karena mobil yang melintas tidak mengindahkan sirine tanda kereta akan lewat dan menerobos pintu perlintasan yang akhirnya, ya githu deh...

Kita semua memang harus mengikuti aturan, aturan untuk keselamatan kita ketika hendak melintasi pintu perlintasan kereta api adalah ketika sirine berbunyi di pintu perlintasan kereta api maka kita wajib berhenti dan menunggu sampai kereta api selesai melintas. Kita tidak boleh melanggar aturan itu, karena akan vatal akibatnya. Tidak hanya di dunia perkeretaapian, di dunia penerbangan apalagi sangat ketat dengan yang namanya aturan. Kalau tidak mengikuti aturan yang sudah diberlakukan maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. (baca tulisan Bapak Abubakar Renwarin tentang SMS)

Kalau dunia perkeretaapian dan dunia penerbangan saja memerlukan aturan, apalagi kita manusia sangatlah perlu aturan. Aturan untuk manusia hidup didunia ini agar selamat didunia dan selamat di akhirat adalah dengan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh yang menciptakan manusia dialah Allah SWT. Aturan itu adalah Al-Qur’an, yang ketika kita tidak mengikutinya pastilah kita akan tersesat dalam menjalani kehidupan didunia ini, seperti masyarakat arab jahiliyah pada masanya.

Masyarakat arab jahiliyah pada masa itu adalah masyarakat yang tidak memiliki aturan, mereka telah meninggalkan millah nabi Ibrahim as. Mereka sesat dalam gelapnya kehidupan, hawa nafsu yang mereka perturutkan. Yang pada akhirnya Allah SWT mengutus seorang Rasul pembawa cahaya untuk menerangi, membawa aturan untuk dijalankan, dialah Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang mendakwahkan manusia dengan Kalam Allah Al Quranul Karim. Beliaupun pernah bersabda ”Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku” (HR. Baihaqi)

Tetapi kita manusia yang pasti pernah melakukan kesalahan, pernah melakukan kekeliruan, pernah melakukan kelalaian. Kita manusia bukanlah seperti Nabi Muhammad SAW yang maksum, terbebas dari dosa. Oleh karenanya orang yang beriman diperintah untuk saling nasehat-menasehati supaya tidak menjadi orang-orang yang merugi dari kesalahan, kekeliruan dan kelalaian yang dilakukan (baca Qs Al ’Ashr:1-3). Ketika keluarga kita, sahabat kita, rekan kerja kita lalai maka kita coba untuk menasehatinya, begitu juga ketika kita yang lalai harus menerima nasehat dari orang lain. Kita harus peduli terhadap mereka yang lalai, seperti petugas penjaga pintu perlintasan kereta api dalam cerita diatas. Harus ada orang yang membantu menuntun mengarahkan ke jalan yang benar, seperti orang-orang yang membantu mendorong mundur mobil kijang dalam cerita diatas. Kalaulah tidak ada petugas penjaga pintu perlintasan kereta api dan orang-orang yang ada di sekitarnya pastilah sopir Bajaj dan sopir Mobil Kijang tersebut akan mengalami kerugian karena melanggar aturan. Beristighfarlah atas kesalahan, kekeliruan dan kelalaian yang kita lakukan.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yeng senantiasa berpegang teguh pada aturan yang telah dibuat oleh Allah SWT yaitu Al Quranul Karim dan juga berpegang teguh pada Hadist Rasulullah SAW. Semoga kita juga tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi di dunia apatah lagi di akhirat kelak. Amin... Amin... Ya Rabbal ’alamin....

Wallahu a’lam bishshawab