aku, diantara yang berjalan di atas punggung bumi, untuk terus BELAJAR

-Addy Aba Salma-

01 Maret 2010

Ghirah (Semangat) Seorang Kakek Tua

oleh: Addy Aba Salma

Lima tahun yang lalu saya mengenal sorang kakek yang berumur kurang lebih 90 tahunan. Saya mengenalnya karena saya menikahi salah satu cucu dari kakek tersebut. Semenjak 4 tahun lalu beliau sudah menjadi Kakek Buyut dari anak saya. Kakek itu bernama Sadi. Saya biasa memanggilnya Bapak Sadi, karena memang cucu-cucu beliau memanggilnya Bapak Sadi. Panggilan untuk Kakek di dalam keluarga Istri saya adalah Bapak. Bapak Sadi adalah sesepuh di kampung tempat dibesarkannya istri saya, Desa Angrit Kampung Leuwiipuh, Lebak Banten. Butuh waktu 3 s.d 4 jam dari Terminal Pakupatan Serang untuk sampai ke Desa ini dengan menggunakan jasa angkutan umum jurusan Serang-Malimping.

Bapak Sadi menurut saya adalah sosok kakek yang terdapat keteladanan pada dirinya. Dalam keadaannya yang sudah renta ia masih senantiasa memiliki ghirah (semangat) dalam beribadah. Shalat 5 waktu dikerjakannya di awal waktu ketika adzan terdengar berkumandang. Karena kerentaannya memang beliau sudah tidak kuat lagi berjalan jauh untuk mendatangi mushola tetapi beliau lakukannya di rumah, kecuali shalat jum’at beliau masih memiliki semangat untuk berangkat ke Masjid yang biasanya di bonceng motor oleh menantunya yaitu Ayah dari Istri saya. Karena masjid yang ada untuk melakukan sholat Jum’at ada di Desa tetangga yang jaraknya lebih kurang 1 kilo meter dari rumah Bapak Sadi.

Selain shalat 5 waktu itu, beliau juga senantiasa melaksanakan shalat dhuha dan membaca Al Qur’an di setiap pagi dan sore hari. Al Qur’an yang beliau baca itu selalu ada di atas meja tamu, dan memang beliau biasa membacanya di ruang tamu. Dan pemandangan itu sangat jelas terlihat oleh saya dari depan teras rumah orang tua istri saya.

Dalam waktu yang sudah memasuki usia senja beliau benar-benar memanfaatkan waktunya untuk tidak melewatkan ibadah yang masih sanggup beliau lakukan. Itu beliau lakukan bukan karena usia yang sudah memasuki usia senja, tetapi memang semasa mudanya beliau juga adalah orang yang selalu mencoba untuk berbuat baik dan beramal sholeh. Semasa kecil cucu-cucunya diantaranya istri saya, adalah beliau yang mengajarkan mereka supaya lancar dalam membaca Al Qur’an.

Setiap kali saya berkesempatan pulang kampung ke rumah orang tua istri untuk bersilaturrahim ketika Idul Fithri atau hari-hari libur panjang, saya singgah juga kerumah Bapak Sadi yang memang rumahnya tidak jauh karena bertetanggaan dengan rumah orang tua istri. Kebiasaannya itu masih saja beliau lakukan, sholat tepat waktu, sholat dhuha dan membaca Al Qur’an.

Subhanallah... ada keberkahan yang diberikan Allah SWT kepada Bapak Sadi. Ketika musim kemarau datang, kemarau yang berkepanjangan, sumur-sumur warga desa menjadi kering. Tidak ada sumber air untuk keperluan sehari-hari, tetapi tidak jauh di belakang rumah Bapak Sadi tetap mengalir sumber mata air. Yang hampir semua warga Desa mengambil keperluan airnya dari sumber mata air tersebut. Untuk keperluan mandi dan juga mencuci pakaian.

Yang mengatakan ada keberkahan itu adalah Ustadz Samson Rahman, penterjemah buku Best Seller La Tahzan. Ustadz Samson Rahman adalah suami dari salah satu cucu Bapak Sadi. Istri dari Ustadz Samson Rahman adalah saudara sepupu dengan istri saya. Ketika hari Idul Fithri memang biasanya kami berkumpul di rumah Bapak Sadi untuk bersilaturrahim keluarga. Dalam kesempatan itu juga saya sempatkan untuk berdiskusi ringan kepada Ustadz Samson Rahman yang biasa saya panggil Kak Samson.

***

Saya mencoba untuk intropeksi diri, berkaca pada seorang Bapak Sadi, seorang kakek yang hampir satu abad hidup di dunia ini, yang tetap dalam ghirah (semangat) beribadah walaupun telah renta badan termakan usia, walaupun telah putih seluruh rambut tak bersisa hitam, walaupun telah keriput kulit tak lagi kencang, walaupun terkadang datang sakit-sakitannya seorang tua. Bagaimana dengan saya yang masih muda dalam usia, yang masih hitam seluruh rambut, yang masih kencang kulit menutupi tulang, yang masih banyak sehat daripada sakitnya. Seharusnya ghirah (semangat) beribadah yang ada pada diri ini, haruslah melebihi ghirah (semangat) seorang kakek tua, Bapak Sadi.

Teringat akan sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya” (HR. Ahmad). Semoga sisa nikmat umur yang entah sampai kapan akan diberikan-Nya, tergunakan dalam rangka untuk senantiasa berbuat baik dan beribadah kepada-Nya. Untuk menyongsong hari yang pasti, hari dimana ajal kan datang menghampiri, dan setiap manusia di dunia ini tanpa terkecuali akan merasakannya.

Tiada daya kekuatan setiap hamba dalam menjauhi maksiat, dan tiada daya kekuatan setiap hamba dalam melakukan keta’atan, kecuali atas pertolongan-Mu Ya Allah. Laa haw laa Walaa Quwwataa Illa Billahi ’Aliyil ’Adzim. Amiin...

Wallahu’alam

1 komentar:

Abi Sabila mengatakan...

Barokallohu, semoga Bapak Sadi tetap istiqomah dalam menjalankan ibadahnya, dan semoga kita semua bisa menjadikannya sebagai contoh dan teladan.

Posting Komentar